Revolusi Industri Remitansi Akan Dibahas di Crypto Meetup 2019, Jakarta

Ini bukanlah isapan jempol ataupun angan-angan belaka. Teknologi blockchain dan mata uang kripto secara fundamental akan mengubah model bisnis terpusat (centralized) di industri jasa keuangan. Khusus sektor remitansi yang saat ini prosesnya lambat dan mahal, dengan teknologi konvensional, blockchain akan membalikkan kondisi itu.

Menurut Bank Dunia, pada tahun 2018 keseluruhan remitansi global tumbuh 10 persen menjadi US$ 689 miliar, termasuk US$528 miliar ke negara-negara berkembang. Jadi, secara keseluruhan pengiriman uang global diperkirakan akan tumbuh 3,7 persen menjadi US$715 miliar pada 2019, termasuk US$549 miliar ke negara-negara berkembang.

Karena diaspora yang besar dan populasi ekspatriat di luar negeri, India secara berurutan tetap menjadi penerima remitansi teratas, dengan US$80 miliar pada 2018 US$65,3 miliar (2,7 persen dari PDB India) pada 2017; US$62,7 miliar pada 2016 dan US$70 miliar pada 2014, Penerima tertinggi lainnya pada 2018 adalah US$67 miliar ke Tiongkok, US$34 miliar ke Filipina dan Meksiko, US$26 miliar ke Mesir.

Inilah wacana utama yang nanti dibahas pada acara Indonesia Crypto Meetup 2019 di Jakarta, 23 Januari 2019 mendatang. Acara tersebut menghadirkan sejumlah pembicara handal dan kompeten di bidangnya, yaitu Pandu Sastrowardoyo, Sekretaris Jenderal Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI); Felicitas Hakso, President Indonesian Blockchain Network (IBN) dan Alan Wee, CEO FinX Banking.

 

“Acara ini akan membuka peluang besar bagi para pelaku bisnis, investor dan juga trader baik mata uang kripto ataupun instrumen keuangan lainnya untuk bisa mengambil bagian dari kesempatan baru di industri blockchain ini, terutama di sektor keuangan dan perbankan. Dengan adanya update mengenai regulasi terbaru di Indonesia, kita bisa mengetahui bagaimana industri bisa berkembang satu langkah lebih maju dibandingkan pesaing baik di dalam maupun luar negeri. Di samping itu, pelaku bisnis ekspor-impor juga bisa mendapatkan pandangan baru mengenai pengiriman dana secara internasional dengan cepat dan murah menggunakan teknologi ini,” kata Alan Wee, CEO FinX Banking.

Alan menambahkan, Anda bayangkan saja, ketika proses mengirimkan surat elektronik hanya perlu beberapa milidetik saja dan astronot bisa menonton video live streaming dari luar angkasa secara realtime, mengapa mengirimkan uang lintas negara perlu waktu 3-5 hari dengan biaya yang mahal? Padahal, di era digital ini, yang disebut uang, sejatinya adalah entitas informasi elektronik yang bisa dikirimkan selayak surat elektronik, hingga blockchain tiba di antara kita mengubahnya secara fundamental. Itulah sebabnya ada kata sifat baru yang disematkan terhadap blockchain, yakni disruptif!

Apa itu FinX?

Perusahaan rintisan alias startup juga turut serta di dalamnya, seperti FinX Banking. FinX adalah sebuah perusahaan rintisan di bidang teknologi keuangan (financial technology/fintech) yang berbasis di Malaysia mencoba menyelam lebih dalam di samudera teknologi blockchain itu. Produk utama yang ditawarkan FinX adalah decentralized exchange dalam satu aplikasi. Ini dilihat akan memudahkan dan membuat nyaman para pengguna, tak hanya untuk bertransaksi mata uang kripto, tetapi pula menukarkan uang fiat-kripto dan sebaliknya. Nyaman, karena private key akun Anda tidak disimpan pada aplikasi, tetapi oleh Anda sendiri.

“Secara prinsip, FinX menawarkan tiga kemampuan utama berikut ini. Pertama, pengguna dapat membeli kripto dengan dengan kartu kredit atau transfer bank. Kedua, memperdagangakan kripto dengan exchange yang dikembangkan oleh FinX sendiri (built in exchange), dan Ketiga, pengguna bisa menarik dana kripto menjadi uang uang fiat di sejumlah jaringan ATM (Anjungan Tunai Mandiri). Untuk yang terakhir ini tentu saja lebih mempermudah pengguna yang ingin lebih lebih cepat menarik tunai atas kripto yang dimilikinya, kapan dan di mana saja di seluruh dunia,” pungkas Alan.[]

Terkini

Warta Korporat

Terkait