100 Lebih Deal Morgan Stanley Bocor, Ada Jejak Kripto di Dalamnya?

Dokumen internal Morgan Stanley yang memuat lebih dari 100 transaksi investment banking dilaporkan bocor setelah seorang staf bank secara tidak sengaja mengirim versi internal dokumen tersebut melalui email kepada sejumlah klien.

Berdasarkan laporan Bloomberg pada Rabu (23/9/2026), dokumen itu berisi berbagai transaksi yang sedang ditawarkan atau dipantau Morgan Stanley, terutama di Asia. Daftarnya mencakup kandidat penawaran umum perdana atau IPO dari Tiongkok, Korea Selatan dan India, hingga informasi terkait private equity, dana pensiun serta proyek yang telah ditunda.

Staf yang mengirim dokumen tersebut kemudian berusaha menarik kembali email. Salinan yang telah diburamkan juga disebut sempat beredar melalui Instagram.

Morgan Stanley mengatakan telah mengambil langkah cepat untuk menangani pembagian informasi yang tidak disengaja tersebut dan terus berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait.

Namun, ada satu pertanyaan menarik bagi industri aset digital, apakah dari lebih dari 100 transaksi tersebut terdapat proyek atau perusahaan kripto?

Sejauh rincian dokumen yang dapat diverifikasi secara publik hingga artikel ini ditulis, belum ada perusahaan, proyek blockchain ataupun transaksi kripto yang teridentifikasi secara meyakinkan di dalam bocoran tersebut. Karena itu, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa pipeline rahasia Morgan Stanley yang bocor mencakup deal kripto.

BACA JUGA:  Kripto Hari Ini 9 September 2026: SUI, AERO, PIEVERSE, DOT dan PENDLE Mulai Unjuk Gigi, Jangan Kedip!

Kripto Belum Terlihat di Bocoran, Morgan Stanley Justru Makin Dalam

Meski belum ada jejak kripto yang bisa dikonfirmasi dari dokumen bocor tersebut, posisi Morgan Stanley terhadap aset digital telah berubah cukup cepat sepanjang 2026.

Pada Juli, E*TRADE dari Morgan Stanley merampungkan peluncuran perdagangan spot kripto, sehingga klien yang memenuhi syarat dapat membeli, menjual dan menyimpan Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH) serta Solana (SOL) melalui akun yang terhubung dengan zerohash.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Hanya beberapa hari setelahnya, Morgan Stanley Investment Management juga meluncurkan ETP Ethereum dan Solana. Dua produk tersebut melengkapi Morgan Stanley Bitcoin Trust yang lebih dahulu hadir pada 2026.

Artinya, keterlibatan Morgan Stanley di sektor aset digital kini tidak lagi terbatas pada riset atau pemberian akses tidak langsung kepada nasabah.

Pandangan bank terhadap perubahan infrastruktur finansial juga semakin eksplisit. Dalam riset Morgan Stanley yang dirilis Juni 2026, perusahaan menilai digital asset rails dapat mengubah sejumlah bisnis wholesale banking, termasuk valuta asing, pembayaran lintas batas, manajemen likuiditas dan layanan sekuritas.

BACA JUGA:  Kripto Hari Ini 13 September 2026: VET, COW, SHIB, UNI dan ETC Beri Sinyal Balik Arah, Mana Paling Menjanjikan?

“Kita mungkin berada di awal perubahan struktural material dalam infrastruktur yang digunakan untuk memberikan layanan perbankan grosir,” ujar Kepala Global Riset Perbankan dan Keuangan Diversifikasi Morgan Stanley, Betsy Graseck.

Riset yang sama bahkan secara khusus menempatkan stablecoin, tokenized deposits dan mata uang digital bank sentral (CBDC) sebagai bentuk uang baru yang dapat menuntut bank membangun infrastruktur yang mampu beroperasi 24/7 lintas yurisdiksi.

Dari Saham Tokenisasi hingga Deposit Bank di Blockchain

Konteks tersebut semakin relevan karena transformasi yang dibicarakan Morgan Stanley mulai memasuki tahap implementasi.

Pada 17 September 2026, hanya beberapa hari sebelum insiden kebocoran, SEC menerbitkan Innovation Exemption yang memberikan pengecualian sementara dan bersyarat bagi Tokenized Securities Venues untuk memperdagangkan tokenized NMS stocks melalui lingkungan on-chain tertentu.

Dengan kata lain, saham perusahaan yang selama ini diperdagangkan melalui infrastruktur pasar modal tradisional mulai memperoleh jalur regulasi untuk diperdagangkan dalam bentuk tokenisasi, meski masih dengan sejumlah batasan dan persyaratan.

Perubahan serupa juga terjadi pada uang perbankan. Project Agora milik Bank for International Settlements melakukan pengujian transaksi bernilai riil pada Juli 2026 menggunakan tokenized central bank reserves dan tokenized commercial bank deposits.

Sebanyak 28 institusi finansial dan bank sentral dari Asia, Eropa serta Amerika Utara menjalankan transaksi dalam beberapa mata uang dengan total sekitar CHF800.000 melalui 17 skenario pengujian.

BACA JUGA:  Harga XRP Mendadak Beringas, Satu Level Bisa Ubah Segalanya

Karena itu, tidak ditemukannya nama proyek kripto dalam bocoran Morgan Stanley saat ini tidak menghilangkan relevansi insiden tersebut bagi industri aset digital.

Justru, kebocoran lebih dari 100 pipeline deal itu terjadi ketika Morgan Stanley sedang memperluas bisnis kriptonya, sementara pasar saham dan sistem pembayaran perbankan global mulai bereksperimen dengan infrastruktur tokenisasi.

Untuk saat ini, satu batas tetap penting, yakni belum ada bukti bahwa proyek kripto termasuk di antara transaksi rahasia yang bocor tersebut.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait