12 Bank Raksasa Eropa Siap Luncurkan Stablecoin Euro di 2026

Sebanyak 12 bank besar Eropa yang tergabung dalam aliansi Qivalis menargetkan peluncuran stablecoin euro pada paruh kedua 2026.

Berdasarkan laporan media Spanyol Cincodias pada Senin (2/3/2026), inisiatif ini melibatkan sejumlah institusi keuangan terkemuka seperti CaixaBank, BNP Paribas, ING, UniCredit dan BBVA.

Proyek tersebut bertujuan menghadirkan aset digital yang dipatok 1:1 terhadap mata uang euro guna memperkuat infrastruktur pembayaran lintas batas di kawasan Eropa.

Aliansi Qivalis dipimpin oleh Jan Sell, mantan Kepala Coinbase di Jerman yang kini menjabat sebagai CEO Qivalis. Ia menegaskan bahwa proyek stablecoin euro ini difokuskan pada efisiensi transaksi bisnis internasional.

IKLAN
Chat via WhatsApp

“Ini penting untuk kasus penggunaan inti kami, seperti memfasilitasi pembayaran bisnis-ke-bisnis lintas batas secara real-time dan perdagangan global,” ujar Jan Sell.

Peluncuran stablecoin euro tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan pembayaran digital yang lebih cepat, transparan, dan beroperasi sepanjang waktu.

BACA JUGA:  HYPE Meledak di Tengah Konflik Iran, Hyperliquid Tersokong Aksi Ini

Qivalis menyatakan token akan dapat ditebus 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu, sehingga mendukung aktivitas perdagangan global tanpa bergantung pada jam operasional perbankan konvensional.

Skema Cadangan dan Diversifikasi Risiko Stablecoin Euro

Dalam skema yang diumumkan, setiap stablecoin euro akan didukung cadangan dengan komposisi minimal 40 persen disimpan dalam bentuk deposito bank. Sisanya akan ditempatkan pada obligasi pemerintah jangka pendek di kawasan euro dengan peringkat kredit tinggi.

Struktur tersebut disiapkan untuk menjaga stabilitas nilai sekaligus memastikan likuiditas tetap terjaga.

Jan Sell menekankan bahwa diversifikasi risiko menjadi prinsip utama pengelolaan cadangan.

“Meskipun kami memanfaatkan kekuatan neraca 12 anggota konsorsium kami, mandat utama kami adalah diversifikasi risiko. Mitra kustodian dipilih berdasarkan kelayakan kredit mereka, persyaratan komersial dan kemampuan mereka untuk memastikan penebusan 24/7 bagi pemegang token,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Payoneer Incar Lisensi Bank AS untuk Terbitkan Stablecoin Sendiri

Dengan pendekatan tersebut, Qivalis berupaya memastikan bahwa stablecoin euro memiliki fondasi keuangan yang kuat serta mampu mempertahankan kepercayaan pasar. Skema cadangan berbasis deposito dan obligasi negara dinilai memberikan keseimbangan antara keamanan dan fleksibilitas likuiditas.

Strategi Distribusi dan Ekspansi Lintas Negara

Selain mempersiapkan struktur cadangan, Qivalis juga menjalin pembicaraan dengan berbagai bursa kripto, pembuat pasar, dan penyedia likuiditas. Langkah ini bertujuan agar stablecoin euro dapat terdistribusi luas dan memiliki kedalaman pasar yang memadai saat resmi diluncurkan pada 2026.

Masuknya BBVA sebagai anggota ke-12 memperkuat skala proyek ini. Sebelumnya, bank tersebut sempat mempertimbangkan penerbitan stablecoin secara mandiri. Namun, keputusan bergabung dalam konsorsium dinilai lebih efektif untuk menghindari fragmentasi pasar serta mempercepat adopsi lintas negara.

Secara strategis, peluncuran stablecoin tersebut oleh konsorsium bank besar Eropa dipandang sebagai upaya memperkuat posisi euro dalam ekosistem aset digital global yang selama ini didominasi stablecoin berbasis dolar AS.

BACA JUGA:  Tether Bantu Bekukan Dana Judi Kripto Rp8,9 Triliun di Turki

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait