180 Ribu Tiket Piala Dunia 2026 Belum Terjual, Sistem NFT FIFA Collect Disalahkan?

Jelang bergulirnya Piala Dunia 2026, sistem distribusi tiket yang terhubung dengan platform digital FIFA Collect mulai menjadi sorotan.

Berdasarkan laporan Marsbit pada Kamis (11/6/2026), sekitar 180.000 tiket fase grup masih belum terjual, sementara sebagian pengamat dan penggemar menilai mekanisme pembelian yang melibatkan teknologi NFT membuat proses memperoleh tiket menjadi lebih rumit dibandingkan sistem biasa.

Isu tersebut mencuat di tengah upaya FIFA memperluas pemanfaatan teknologi blockchain dalam ekosistem penggemarnya.

Melalui FIFA Collect, organisasi sepak bola dunia itu menyediakan berbagai koleksi digital resmi yang dapat memberikan akses atau hak tertentu terkait pertandingan, termasuk peluang memperoleh tiket untuk sejumlah laga Piala Dunia 2026.

Kritik terhadap sistem tersebut muncul karena sebagian pengguna harus memahami beberapa tahapan tambahan yang tidak lazim dalam pembelian tiket biasa. Selain mengikuti proses penjualan resmi, pengguna juga perlu memahami mekanisme koleksi digital, hak pembelian tiket, hingga proses klaim yang terhubung dengan aset digital tertentu.

Di sisi lain, FIFA sebelumnya melaporkan tingginya minat terhadap Piala Dunia 2026. Organisasi tersebut mengungkapkan bahwa ratusan juta permintaan tiket telah diterima selama periode aplikasi awal.

BACA JUGA:  Modal HP Sejutaan, Trader Kripto Ini Cuan Rp25 Juta per Minggu!

Namun, laporan mengenai masih tersedianya sekitar 180.000 tiket fase grup menjelang turnamen memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas sistem distribusi yang diterapkan.

Kritik terhadap FIFA Collect dan Mekanisme NFT

FIFA Collect merupakan platform koleksi digital resmi FIFA yang dibangun menggunakan teknologi blockchain. Dalam beberapa program, platform tersebut menghadirkan mekanisme seperti Right-to-Ticket (RTT) dan Right-to-Buy (RTB), yang memungkinkan pemilik koleksi digital tertentu memperoleh hak untuk membeli atau mengakses tiket pertandingan.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Menurut sejumlah laporan, mekanisme tersebut dinilai menambah kompleksitas bagi penggemar yang tidak familiar dengan aset digital.

Jika pada sistem biasa pengguna cukup membeli tiket melalui portal resmi, sistem yang melibatkan NFT mengharuskan sebagian pengguna memahami konsep dompet digital, koleksi digital, dan proses verifikasi tambahan.

Kondisi tersebut memicu perdebatan mengenai sejauh mana teknologi blockchain dapat diterapkan secara efektif dalam distribusi tiket acara olahraga berskala global.

BACA JUGA:  Resmi! FIFA Tunjuk Bursa Kripto Ini sebagai Mitra Piala Dunia 2026

Sebagian pihak menilai pendekatan tersebut berpotensi meningkatkan keterlibatan penggemar digital, sementara pihak lain menilai pengalaman pengguna menjadi kurang sederhana bagi masyarakat umum.

Selain persoalan kemudahan penggunaan, beberapa kritik juga diarahkan pada mekanisme penjualan kembali atau resale yang terhubung dengan ekosistem digital FIFA. Pengguna disebut menghadapi proses yang lebih kompleks dibandingkan pasar tiket tradisional, terutama ketika ingin memindahkan atau menjual kembali tiket yang telah dimiliki.

FIFA Terus Dorong Integrasi Blockchain di Dunia Sepak Bola

Terlepas dari kritik yang muncul, FIFA tetap menjadi salah satu organisasi olahraga global yang aktif mengintegrasikan teknologi blockchain ke dalam produk dan layanan penggemarnya. Dalam beberapa tahun terakhir, FIFA Collect telah digunakan untuk menghadirkan berbagai koleksi digital resmi yang berkaitan dengan turnamen internasional.

Langkah tersebut sejalan dengan tren yang berkembang di industri olahraga, di mana teknologi blockchain dan NFT mulai dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari koleksi digital, program loyalitas penggemar, hingga akses eksklusif terhadap pengalaman tertentu.

BACA JUGA:  Bitcoin Hanya 9 Persen dari Level Bottom Historis, Saatnya Serok?

Kasus yang terjadi menjelang Piala Dunia 2026 kini menjadi salah satu ujian terbesar bagi adopsi teknologi tersebut. Pasalnya, berbeda dengan koleksi digital yang bersifat opsional, sistem tiket merupakan layanan yang digunakan langsung oleh jutaan penggemar untuk menghadiri pertandingan.

Hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa sistem NFT FIFA Collect menjadi penyebab utama masih tersisanya sekitar 180.000 tiket fase grup.

Namun, munculnya kritik terhadap pengalaman pengguna, mekanisme pembelian, serta proses distribusi tiket menunjukkan bahwa penerapan teknologi blockchain dalam acara olahraga berskala besar masih menghadapi tantangan dalam menjangkau pengguna umum.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait