233 Juta XRP Dicuri dari Binance, Mengapa Tak Bisa Dibekukan?

Sebanyak 233 juta XRP senilai sekitar US$296 juta menjadi bagian dari peretasan besar terhadap Binance pada akhir Oktober 2026. Menariknya, meskipun miliaran dolar aset kripto lainnya telah berhasil dibekukan, XRP yang dicuri justru berada di luar jangkauan mekanisme pembekuan tersebut.

Bukan karena keberadaan aset itu tidak diketahui. Perusahaan analitik blockchain Elliptic bahkan telah mengidentifikasi pergerakannya, termasuk alamat yang menerima dana curian. Persoalannya terletak pada karakteristik XRP sebagai aset native XRP Ledger (XRPL), yang tidak memiliki penerbit dengan kewenangan untuk membekukan saldo pengguna.

Situasi ini memperlihatkan perbedaan mendasar antara XRP dan stablecoin, sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi upaya pemulihan aset hasil kejahatan kripto.

XRP Menjadi Sasaran Pertama dalam Peretasan Binance

Berdasarkan investigasi TRM Labs, serangan dimulai pada 29 Oktober 2026 sekitar pukul 20.05 UTC, atau Jumat (30/10/2026) pukul 03.05 WIB.

Dalam waktu sekitar empat menit, lima wallet Binance mengirimkan total 233,46 juta XRP ke satu alamat yang dikendalikan penyerang. Seluruh transaksi tersebut terjadi sebelum pencurian aset dalam jumlah besar pada jaringan Bitcoin dan Ethereum.

Dana XRP itu merupakan bagian dari peretasan lintas blockchain yang menyebabkan kerugian sekitar US$6,36 miliar menurut perhitungan TRM Labs.

BACA JUGA:  Kasus Timothy Ronald Dihentikan Polisi, Korban Kini Mengadu ke DPR

Serangan kemudian meluas ke sejumlah jaringan lain, termasuk Tron, Solana, Arbitrum dan Avalanche. Penyerang juga berhasil menguasai ribuan BTC serta aset berbasis Ethereum dalam jumlah besar.

TRM Labs menilai rangkaian transaksi yang hampir bersamaan pada berbagai jaringan mengindikasikan kemungkinan kompromi terhadap infrastruktur penandatanganan transaksi Binance. Namun, penyebab akhir serangan masih dalam penyelidikan.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Mengapa XRP Tidak Bisa Dibekukan seperti Stablecoin?

Perbedaan perlakuan terhadap XRP dan stablecoin menjadi salah satu bagian paling menarik dari kasus ini.

Dalam dokumentasi resmi XRP Ledger, dijelaskan bahwa fitur pembekuan berlaku untuk token yang diterbitkan oleh pihak tertentu, bukan XRP yang merupakan aset native jaringan.

Artinya, tidak ada perusahaan maupun penerbit token yang dapat secara sepihak membekukan XRP dalam sebuah wallet pada level protokol XRPL.

Kondisi tersebut berbeda dengan stablecoin seperti USDT, USDC dan RLUSD, yang memiliki mekanisme pembekuan sesuai dengan desain token dan kewenangan penerbitnya.

Sebagai contoh, TRM Labs mencatat sekitar 40,5 juta RLUSD hasil pencurian berhasil dibekukan melalui intervensi penerbitnya. Tether dan Circle juga melakukan tindakan serupa terhadap stablecoin yang masuk ke alamat penyerang.

BACA JUGA:  ETHFI Masuk Radar, Ether.fi Bangun Stablecoin Sendiri Bersama Ethena

Menurut penghitungan terbaru Elliptic, sekitar US$2,85 miliar aset hasil peretasan telah dibekukan atau diamankan, setara 44 persen dari total nilai yang dicuri.

Namun demikian, kemampuan membekukan stablecoin tersebut tidak dapat diterapkan langsung terhadap XRP.

Hal ini bukan berarti XRP mustahil disita atau diamankan dalam kondisi apa pun. Bursa kripto yang menerima XRP terkait kejahatan masih dapat menahan dana dalam penguasaannya, termasuk ketika aset masuk ke akun kustodian yang telah teridentifikasi.

Dengan demikian, upaya pemulihan XRP lebih bergantung pada pelacakan transaksi, koordinasi antarbursa dan tindakan penegakan hukum daripada intervensi langsung pada jaringan.

Ratusan Juta XRP Belum Bergerak, Bagaimana Nasibnya?

Dalam pembaruan investigasi Elliptic, sekitar 233 juta XRP yang dicuri dilaporkan masih berada dalam penguasaan penyerang dan belum mengalami perpindahan lanjutan.

Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah aset curian di jaringan lain yang mulai dipindahkan, ditukar atau disalurkan melalui berbagai layanan kripto.

Elliptic juga mengungkapkan bahwa sebagian aktivitas pemindahan dana curian menunjukkan pola otomatis, terutama pada jaringan Tron, dengan transaksi berulang melalui sejumlah wallet.

Perusahaan itu menilai pemantauan alamat penyerang penting untuk mencegah dana masuk ke layanan perdagangan atau pencairan tanpa terdeteksi.

BACA JUGA:  Token JST Cari Puncak Baru, Insentif DeFi US$300 Ribu Mulai Berlaku

Sementara itu, melalui pengumuman resminya, Binance menyatakan akan menanggung dampak kerugian menggunakan dana perusahaan dan Secure Asset Fund for Users (SAFU).

Bursa tersebut juga telah bekerja sama dengan penegak hukum, perusahaan analitik blockchain serta penerbit aset untuk melacak dan memulihkan dana yang dicuri.

Untuk XRP, persoalannya kini bukan sekadar menemukan alamat penyerang. Alamat tujuan telah dapat ditelusuri, tetapi kemampuan menghentikan penggunaan aset tersebut tetap terbatas selama XRP berada di wallet non-kustodian yang dikendalikan pelaku.

Kasus ini sekaligus menunjukkan konsekuensi dari sifat XRP sebagai aset tanpa penerbit yang memiliki kendali pembekuan. Karakteristik yang mempertahankan kebebasan transaksi di tingkat jaringan itu juga membuat pemulihan dana curian menjadi lebih rumit ketika aset berpindah ke tangan pihak yang tidak berwenang.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait