Aktivitas peretas KelpDAO memasuki fase baru setelah sebagian dana hasil eksploitasi dipindahkan ke jaringan Bitcoin hanya beberapa jam setelah upaya pembekuan dilakukan.
Berdasarkan penelusuran Specter Analyst pada Rabu (22/4/2026), proses pencucian dana dimulai sekitar pukul 07:39 UTC, atau sekitar tiga jam setelah Arbitrum Council membekukan (freeze) sekitar 30,7 ETH.
Pergerakan cepat ini menandai respons langsung pelaku terhadap intervensi jaringan, sekaligus menunjukkan bahwa peretas KelpDAO telah menyiapkan strategi lanjutan untuk mengamankan hasil eksploitasi.
Dalam analisisnya, Specter mengaitkan aktivitas tersebut dengan Democratic People’s Republic of Korea (DPRK).
“Saya menghabiskan sepanjang hari melacak dana hasil curian KelpDAO yang terkait dengan DPRK, khususnya kelompok TraderTraitor,” ujarnya.
Pernyataan ini memperkuat dugaan bahwa operasi yang dilakukan peretas KelpDAO bukan sekadar aksi individual, melainkan bagian dari jaringan yang lebih besar dan terorganisir.
Setelah pembekuan dilakukan, peretas KelpDAO membagi dana yang tersisa ke dalam tiga alamat utama, masing-masing berisi sekitar 25.000 hingga 25.700 ETH. Dua alamat dilaporkan masih menahan dana, sementara satu alamat lainnya langsung memulai proses pencucian dan kini hanya menyisakan sebagian kecil dari total awal.
Strategi ini menunjukkan pola distribusi bertahap, di mana sebagian dana diamankan sementara sisanya segera diproses untuk menghilangkan jejak.
Alur Pencucian Dana dan Lonjakan Aktivitas THORChain
Tahap berikutnya dalam operasi peretas KelpDAO adalah memindahkan dana ke jaringan Bitcoin melalui THORChain. Sekitar 99 persen aliran dana dilaporkan melewati protokol tersebut, yang memungkinkan pertukaran lintas jaringan tanpa perantara terpusat.

Dampaknya, volume transaksi harian THORChain melonjak hingga sekitar US$211 juta, atau lebih dari 10 kali rata-rata 30 hari, sekaligus menghasilkan biaya transaksi sekitar US$189 ribu dalam satu hari.
Dana yang telah dipindahkan ke Bitcoin kini diperkirakan mencapai sekitar 442 BTC atau setara sekitar US$33 juta. Jumlah tersebut tersebar di lebih dari 400 alamat, dengan setidaknya 356 alamat telah teridentifikasi dalam pelacakan awal.
Fragmentasi ini merupakan teknik umum dalam laundering atau pencucian dana, di mana dana dipecah menjadi unit kecil untuk menyulitkan pelacakan. Selain itu, sebagian dana juga dilaporkan bercampur dengan hasil peretasan lain yang terkait dengan DPRK, termasuk insiden BTC Turk dan Bybit pada 2025.
Dampak Sistemik dan Tekanan di Ekosistem DeFi
Aksi peretas KelpDAO tidak hanya berdampak pada satu protokol, tetapi juga memicu efek domino di ekosistem keuangan terdesentralisasi.
Dana hasil eksploitasi dilaporkan digunakan sebagai jaminan untuk meminjam ETH dalam jumlah besar, memanfaatkan aset rsETH yang tidak memiliki dukungan penuh. Skema ini menciptakan utang besar di berbagai platform, termasuk Aave, Compound dan Euler, sekaligus meningkatkan risiko sistemik di pasar.
Tekanan tersebut memicu kepanikan di kalangan pengguna. Dalam waktu singkat, lebih dari US$6,2 miliar ditarik dari platform Aave akibat kekhawatiran terhadap stabilitas sistem.
Peristiwa ini menegaskan bahwa aktivitas peretas KelpDAO tidak hanya berdampak pada kehilangan dana, tetapi juga pada kepercayaan pengguna terhadap infrastruktur DeFi secara keseluruhan.
Kasus ini juga turut mendorong bulan April 2026 menjadi salah satu periode terburuk dalam sejarah industri kripto dari sisi keamanan.
Dalam 18 hari pertama bulan tersebut, total kerugian akibat peretasan telah melampaui US$606 juta, dengan KelpDAO dan Drift Protocol yang menyumbang sekitar 95 persen dari total tersebut.
Dengan perpindahan dana ke Bitcoin serta penggunaan teknik pencampuran lintas insiden, peluang untuk melacak dan memulihkan dana hasil aksi peretas KelpDAO kini semakin terbatas.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


