Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali menarik perhatian. Dalam hitungan jam, dunia seolah menahan napas, menanti arah konflik yang kian tak terduga. Eskalasi ini bukan hanya mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah, tetapi juga bisa mengguncang pasar global.
Peringkatan Keras dari Trump Soal Selat Hormuz
Situasi di Timur Tengah kembali memanas dan kali ini dipicu oleh pernyataan keras dari Donald Trump yang menyampaikan ultimatum terbuka kepada Iran. Dalam pesannya, ia kembali menyinggung tenggat waktu yang ia berikan terkait pembukaan Selat Hormuz.
“Ingat ketika saya memberi Iran waktu sepuluh hari untuk membuat perjanjian atau membuka Selat Hormuz. Waktu hampir habis, 48 jam sebelum neraka turun sepenuhnya kepada mereka,” tulisnya di Truth Social, Sabtu (04/04/2026).

Pernyataan tersebut tampaknya bukan sekadar gertakan. Dalam unggahan terpisah di platform yang sama, Trump membagikan video ledakan malam hari di Teheran, ibu kota Iran.
Ia menyebut bahwa serangan besar telah menargetkan para pemimpin militer Iran, yang dinilai oleh banyak pihak sebagai langkah awal dari potensi operasi yang lebih luas.
“Banyak pemimpin militer Iran, yang telah memimpin mereka dengan buruk dan tidak bijaksana, telah dihentikan, bersama dengan banyak hal lainnya, melalui serangan besar ini di Teheran!” tegasnya.
Sementara itu, jalur diplomasi justru menunjukkan kebuntuan. Laporan dari Reuters menyebut bahwa Iran telah menolak proposal gencatan senjata selama 48 jam yang diajukan oleh Amerika Serikat.
Sumber anonim kepada media Iran mengungkapkan bahwa tawaran tersebut disampaikan pada pertengahan pekan ini, namun tidak mendapat respons positif dari Teheran.
Polymarket Tunjukkan Peluang 70 Persen AS Masuk Iran, Apa Artinya?
Penolakan ini mempertegas bahwa ruang negosiasi kian menyempit. Risiko eskalasi konflik dalam skala yang lebih besar, seperti yang diperingatkan Trump, semakin nyata dalam waktu dekat.
Pasar Bereaksi, Bitcoin Ikut Terombang-ambing
Ketidakpastian ini langsung tercermin di pasar global. Harga minyak sempat menyentuh angka US$115 sebelum akhirnya turun ke kisaran US$111 per Minggu (05/04/2026).
Pergerakan yang diperlihatkan oleh komoditas tersebut mencerminkan tarik-menarik sentimen antara kekhawatiran terhadap gangguan suplai dan aksi ambil untung dari pelaku pasar.
Di sisi lain, pasar kripto menunjukkan respons yang lebih hati-hati. Harga Bitcoin tercatat 0,56 persen ke level US$67.300, setelah sebelumnya sempat melemah ke US$66.400 dalam beberapa hari terakhir.

Pergerakan ini menegaskan bahwa investor masih berada dalam mode “wait and see”. Ketegangan geopolitik seperti ini kerap mendorong sentimen risk-off, di mana pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko.
Kini, perhatian tertuju pada hitungan mundur 48 jam tersebut. Jika konflik AS dengan Iran benar-benar meningkat ke fase yang lebih besar, bukan tidak mungkin tekanan jual kembali mendominasi pasar.
Sebaliknya, jika muncul celah de-eskalasi, harga BTC berpotensi kembali mendapatkan momentumnya. Dalam situasi seperti ini, satu hal yang pasti: pasar tidak menyukai ketidakpastian, dan saat ini ketidakpastian berada di titik tertinggi.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



