5 Masa Depan Crypto di 2026 Menurut Bybit

Bybit bersama firma riset pasar Block Scholes merilis laporan bertajuk 2026 Crypto Outlook: It’s Different This Time? yang menyoroti perubahan fundamental dalam dinamika pasar crypto global.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa teori siklus empat tahunan Bitcoin tidak lagi dapat dijadikan kerangka utama untuk memprediksi pergerakan harga spot pada 2026.

Munculnya sumber permintaan baru, kondisi makro yang relatif mendukung, serta perkembangan infrastruktur blockchain mendorong skenario pasar yang lebih konstruktif dibanding asumsi bearish tradisional.

Dalam laporan tersebut, Bybit menilai bahwa arah pasar crypto di 2026 akan lebih dipengaruhi oleh faktor struktural dan makroekonomi, bukan semata pola historis berbasis halving Bitcoin. Berikut lima proyeksi utama masa depan crypto di 2026 menurut Bybit dan Block Scholes.

IKLAN
Chat via WhatsApp

5 Arah Pasar Crypto di Tahun 2026 Menurut Bybit

1. Siklus Empat Tahunan Tidak Lagi Menjadi Acuan Utama

Bybit menyatakan bahwa teori siklus empat tahunan Bitcoin tidak lagi relevan sebagai kerangka utama dalam membaca perilaku harga spot pada 2026.

Dalam siklus sebelumnya, harga Bitcoin biasanya mencapai puncak setelah peristiwa halving, lalu diikuti koreksi besar. Namun, pada siklus 2024–2025, Bitcoin justru mencetak rekor harga sebelum halving terjadi.

harga BTC halving

Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran struktural dalam pasar crypto, terutama akibat meningkatnya permintaan dari investor institusional dan masuknya produk investasi berbasis Bitcoin.

“Kali ini berbeda. Siklus empat tahunan tidak lagi bisa dijadikan kerangka utama untuk memprediksi harga spot di 2026. Sumber permintaan baru dan kondisi makro yang mendukung menciptakan skenario dasar yang lebih konstruktif, bukan pasar bearish seperti yang diasumsikan teori lama,” tulis laporan tersebut.

BACA JUGA:  Volume Altcoin Melorot Tajam, Bitcoin Jadi Pilihan Utama Lagi

Dengan demikian, pasar crypto di 2026 diperkirakan tidak otomatis memasuki fase penurunan tajam sebagaimana terjadi pada siklus-siklus sebelumnya.

2. Lingkungan Makro Masih Mendukung Aset Berisiko

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa kondisi makro global masih relatif kondusif bagi aset berisiko, termasuk crypto. Pasar memperkirakan adanya pelonggaran kebijakan moneter lanjutan dari The Fed, yang berpotensi meningkatkan likuiditas global.

Selain itu, Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan menunjuk Ketua The Fed yang lebih dovish, yang biasanya diasosiasikan dengan kebijakan moneter longgar. Kondisi ini dinilai dapat mendukung pasar keuangan secara luas, termasuk crypto.

S&P500 dan bitcoin

Bybit mencatat bahwa Bitcoin saat ini tertinggal dibandingkan kinerja saham-saham AS. Oleh karena itu, 2026 berpotensi menjadi periode kebangkitan korelasi positif antara Bitcoin dan indeks saham utama seperti S&P 500.

“Lingkungan makro masih mendukung aset berisiko, termasuk crypto, dengan pasar yang memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut,” tulis laporan tersebut.

Dalam konteks ini, hubungan antara crypto dan pasar saham diperkirakan semakin erat pada 2026.

3. Kewaspadaan Tetap Diperlukan di Tengah Potensi Kejutan Pasar

Meski prospek dasar dinilai konstruktif, Bybit mengingatkan bahwa pasar tetap berpotensi menghadapi kejutan sepanjang 2026. Pengalaman tahun sebelumnya menunjukkan bahwa perubahan kebijakan dan keputusan strategis dapat memicu volatilitas lintas aset.

Dalam jangka pendek, perhatian pasar tertuju pada keputusan MSCI terkait potensi dikeluarkannya saham Strategy dari indeks utama mereka. Keputusan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi sentimen pasar secara luas.

Pemerintah Jepang

Sepanjang 2026, kebijakan moneter Bank of Japan juga menjadi faktor yang perlu diawasi, karena pengetatan kebijakan dapat memicu gejolak di pasar obligasi, valuta asing, hingga crypto.

BACA JUGA:  Pasar RWA Solana Cetak Rekor Baru, Kripto SOL Siap Melesat?

“Jika melihat pengalaman tahun lalu, 2026 masih berpotensi menghadirkan kejutan pasar. Kebijakan Bank of Japan perlu diawasi karena dapat memicu pergerakan liar di pasar obligasi, valuta asing, dan bahkan crypto,” tulis Bybit.

Peringatan ini menegaskan bahwa meskipun arah pasar crypto di 2026 dinilai positif, risiko volatilitas tetap ada.

4. Tokenisasi RWA Jadi Pendorong Utama Nilai

Bybit memproyeksikan bahwa tokenisasi aset dunia nyata (RWA) akan menjadi salah satu pendorong utama nilai crypto pada 2026. Tren ini melanjutkan perkembangan yang sudah terlihat pada 2025, ketika institusi keuangan tradisional mulai mengadopsi stablecoin dan teknologi blockchain.

tokenisasi RWA

Tokenisasi aset seperti obligasi, properti dan instrumen keuangan tradisional dinilai akan meningkatkan efisiensi, transparansi dan akses global terhadap aset tersebut. Blockchain yang memiliki infrastruktur kuat diperkirakan akan mendapat manfaat terbesar dari tren ini.

Laporan juga mencatat adanya upaya berkelanjutan untuk memperkuat infrastruktur blockchain guna menghadapi potensi risiko teknologi, termasuk ancaman dari perkembangan komputasi kuantum.

“RWA akan menjadi pendorong utama nilai di 2026, seiring meningkatnya aktivitas tokenisasi oleh institusi keuangan. Upaya penguatan infrastruktur terhadap risiko komputasi kuantum juga terus dilakukan,” tulis laporan tersebut.

Yang utama adalah, perdagangan aset tokenisasi dapat berlangsung selama 24 jam penuh, berbeda dengan saham yang umumnya hanya diperdagangkan pada jam pasar tertentu.

Di sisi lain, aset dunia nyata masih menghadapi ketidakpastian karena aturan terkait sekuritas terus berkembang untuk menyesuaikan dengan aset yang ditokenisasi. Selain itu, likuiditas untuk versi aset yang ditokenisasi di jaringan blockchain masih tergolong tipis dan terfragmentasi jika dibandingkan dengan pasar saham TradFi yang terpusat.

BACA JUGA:  Hyperliquid Jadi Sorotan Baru, Perak dan Whale Jadi Pemicu?

5. Probabilitas Bitcoin ke US$150.000 Dinilai Terlalu Rendah

Berdasarkan data pasar opsi, probabilitas Bitcoin diperdagangkan di level US$150.000 pada akhir 2026 hanya sekitar 10,3 persen. Namun, Bybit dan Block Scholes menilai estimasi tersebut terlalu konservatif.

harga BTC 2026

Mereka berpendapat bahwa pasar opsi belum sepenuhnya mencerminkan dampak dari kondisi makro yang mendukung, meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko, serta permintaan institusional terhadap Bitcoin.

Dengan lingkungan makro yang dinilai lebih mendukung, Bybit memperkirakan potensi kenaikan harga Bitcoin di 2026 bisa lebih besar dari yang tercermin di pasar derivatif saat ini.

Secara keseluruhan, laporantersebut menggambarkan bahwa pasar crypto di 2026 akan bergerak dalam fase yang lebih matang dan kompleks. Siklus empat tahunan tidak lagi menjadi satu-satunya acuan, faktor makro global semakin berpengaruh, dan fokus industri bergeser ke arah utilitas nyata seperti tokenisasi aset.

Meski volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar crypto, Bybit menilai dasar pasar pada 2026 lebih konstruktif dibanding asumsi pasar bearish yang sering dikaitkan dengan teori siklus lama.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia