Tokenisasi perlahan berhenti terdengar seperti eksperimen yang hanya hidup di laboratorium bank. Di Inggris, teknologi ini justru mulai dipandang sebagai fondasi baru untuk memindahkan uang dan aset.
Sinyalnya cukup kuat. Mayoritas institusi keuangan besar Inggris kini melihat tokenisasi sebagai perubahan struktural, ketika bank, manajer aset, hingga penyedia infrastruktur mulai membawa blockchain menuju penggunaan nyata.
71 Persen Institusi Inggris Bertaruh pada Tokenisasi
Berdasarkan siaran pers yang dirilis Llyods Banking Group pada Jumat (02/10/2026), Financial Institutions Sentiment Survey tahunannya melibatkan 100 pengambil keputusan senior dari berbagai institusi keuangan terbesar di Inggris.
Hasilnya menarik. Sebanyak 71 persen responden memperkirakan tokenisasi akan membentuk ulang masa depan layanan keuangan, terutama dalam cara uang dan berbagai aset berpindah melalui sistem finansial.
Bagi institusi, daya tariknya bukan sekadar karena aset dapat direpresentasikan secara digital di blockchain. Mekanisme tokenisasi menawarkan settlement lebih cepat, otomatisasi transaksi, sekaligus pengelolaan likuiditas yang lebih efisien.
Faster payments dan settlement menjadi manfaat terbesar yang dipilih 60 persen responden. Setelah itu, 41 persen menyoroti pengelolaan collateral dan likuiditas sebagai peluang terbesar berikutnya dari tokenisasi.
Lisa Francis, Kepala Global Cakupan Corporate and Institutional Banking (CIB) Lloyds, melihat perubahan ini sebagai kelanjutan dari modernisasi layanan finansial yang bergerak menuju lapisan infrastrukturnya.
“Tokenisasi menjadi bagian penting dari perubahan ini, dengan berbagai organisasi mulai mengeksplorasi bagaimana teknologi ini membantu mereka bertransaksi dalam lingkungan yang aman dan terpercaya,” jelasnya.
Eksperimen Berubah Jadi Transaksi Nyata
Arah yang disebut Francis mulai terlihat dalam praktik. Sejumlah institusi kini tidak lagi berhenti pada riset, tetapi mulai menguji tokenisasi untuk kebutuhan transaksi, collateral, dan settlement.
Salah satu tandanya datang dari Citi. Bank tersebut melihat tokenisasi collateral mulai bergeser dari tahap konsep menuju penggunaan nyata oleh bank, broker institusional, hingga manajer aset.
Citi: Tokenisasi Bukan Lagi Eksperimen, Adopsi Institusi Mulai Nyata
Dalam risetnya, sebanyak 27 persen pelaku institusional bahkan berencana memakai sekuritas on-chain untuk menjaminkan obligasi serta kas tokenisasi pada 2027, menunjukkan kebutuhan penggunaan yang semakin konkret.
Perkembangan itu juga terlihat di sektor perbankan. Swift bersama IBM menguji tokenized deposits dengan 17 bank sambil tetap mempertahankan format pesan ISO 20022 yang sudah akrab bagi industri.
Bagi Lloyds, eksperimen tersebut sudah masuk tahap transaksi nyata. Pada Januari, bank itu menerbitkan tokenized deposits di Canton Network untuk membeli tokenized gilt melalui bursa aset digital teregulasi Archax.
Beberapa bulan kemudian, Lloyds kembali menguji penerapan lain bersama Visa. Keduanya menyelesaikan settlement lintas negara senilai US$750.000 menggunakan USDC dalam waktu kurang dari satu jam, termasuk saat akhir pekan.
Rangkaian uji coba ini membuat fokus berikutnya bergeser. Tantangannya bukan lagi sekadar membuktikan tokenisasi dapat bekerja, tetapi bagaimana teknologi ini bisa diterapkan secara luas dalam infrastruktur finansial.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


