Istilah stablecoin dinilai mulai kehilangan relevansinya seiring perubahan fungsi aset digital tersebut dari sekadar alat lindung volatilitas menjadi infrastruktur keuangan global.
Pandangan itu disampaikan divisi kripto dari firma modal ventura Andreessen Horowitz atau a16z crypto dalam analisis terbarunya bertajuk “Why Stablecoins Won’t Age Well,” yang dipublikasikan pada Jumat (1/5/2026).
Dalam laporan itu, a16z crypto menyebut istilah stablecoin awalnya lahir untuk menjawab kebutuhan pasar terhadap aset digital dengan harga stabil di tengah volatilitas tinggi aset seperti Bitcoin dan Ethereum. Namun, seiring berkembangnya ekosistem blockchain, stabilitas kini dianggap hanya sebagai fitur dasar, bukan lagi nilai utama.
“Stablecoin awalnya menjadi solusi atas volatilitas kripto, tetapi kini stabilitas hanyalah fondasi, bukan lagi cerita utamanya,” tulis a16z crypto dalam laporannya.
Perubahan itu terjadi karena stablecoin kini mulai digunakan lebih luas sebagai alat transfer lintas negara, penyelesaian transaksi real-time, pembayaran digital tertanam dalam aplikasi, hingga pengelolaan kas perusahaan.
Model tersebut membuat stablecoin bergeser dari instrumen pelengkap di pasar kripto menjadi fondasi baru sistem pembayaran digital global.
Menurut a16z crypto, transformasi ini menjadi bagian dari evolusi besar sistem uang digital, di mana transaksi tidak lagi bergantung pada jam operasional bank atau jaringan pembayaran tradisional seperti SWIFT.
Stablecoin Bergeser Jadi Jalur Uang Digital
Perubahan paling besar terlihat dari fungsi stablecoin sebagai jalur pembayaran atau financial rails. Jika sebelumnya aset ini lebih banyak dipakai untuk kebutuhan perdagangan aset digital, kini penggunaannya semakin meluas ke remitansi, pembayaran bisnis lintas negara, payroll global dan settlement perdagangan.
Dengan jaringan blockchain yang berjalan selama 24 jam tanpa hari libur, stablecoin memungkinkan perpindahan dana dalam hitungan detik atau menit. Model ini memangkas proses panjang yang selama ini terjadi dalam sistem transfer internasional biasa yang melibatkan banyak perantara.
a16z crypto menilai model tersebut menciptakan efisiensi baru dalam sistem keuangan. Pengguna tidak lagi hanya menggunakan stablecoin sebagai alat penyimpan nilai, tetapi sebagai alat transaksi yang tertanam langsung di berbagai layanan digital.
Selain itu, stablecoin juga dinilai memperkuat konsep kepemilikan langsung atau direct ownership. Dalam sistem perbankan tradisional, saldo nasabah pada dasarnya merupakan klaim terhadap bank. Sementara dalam sistem berbasis blockchain, pengguna dapat memegang aset secara langsung melalui dompet digital tanpa perantara.
Perubahan ini dinilai menjadi fondasi bagi model keuangan yang lebih terbuka dan lebih cepat, terutama di era digital yang semakin terintegrasi dengan aplikasi berbasis internet.
Uang yang Bisa Diprogram dan Potensi Nama Baru
a16z crypto juga menyoroti perubahan fungsi uang digital menjadi lebih fleksibel melalui konsep programmable money atau uang yang dapat diprogram. Dalam sistem ini, stablecoin dapat diintegrasikan langsung dengan logika aplikasi, sehingga pembayaran dapat berjalan otomatis berdasarkan kondisi tertentu.
Contohnya mencakup pembayaran invoice otomatis, distribusi royalti real-time, sistem escrow tanpa pihak ketiga, hingga transaksi antar mesin atau AI agent. Menurut a16z, perkembangan ini mengubah posisi stablecoin dari sekadar aset digital menjadi bagian dari infrastruktur internet modern.
Selain itu, stablecoin juga dinilai memiliki sifat composability, yakni kemampuan untuk digabungkan dengan berbagai layanan lain seperti pinjaman, investasi, tokenisasi aset dunia nyata (RWA), hingga sistem asuransi digital.
Karena perubahan fungsi yang semakin luas, a16z crypto memprediksi istilah stablecoin pada akhirnya bisa digantikan dengan istilah yang lebih sederhana seperti “digital dollar,” “digital euro”, atau “on-chain cash.”
Pergeseran istilah itu diperkirakan terjadi seiring meningkatnya adopsi pengguna umum yang lebih fokus pada fungsi daripada teknologi di baliknya.
Di sisi lain, pertumbuhan stablecoin juga mendapat perhatian regulator dan lembaga keuangan global. Bank for International Settlements (BIS) sebelumnya mengingatkan bahwa ekspansi stablecoin dalam skala besar berpotensi mengganggu model pendanaan bank tradisional dan memengaruhi efektivitas kebijakan moneter.
Meski begitu, a16z crypto melihat arah perkembangan stablecoin semakin jelas, dari instrumen pasar kripto menjadi fondasi sistem uang digital generasi berikutnya. Dalam skenario itu, istilah stablecoin dinilai mungkin akan hilang, bukan karena gagal, tetapi karena fungsinya sudah menjadi bagian normal dari kehidupan finansial digital.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


