Ada yang Aneh di Balik Turunnya Harga Bitcoin, Analis Soroti Skenario Ini

Pergerakan harga Bitcoin (BTC) yang kembali berada di bawah tekanan belum sepenuhnya dipandang sebagai tanda berakhirnya peluang kenaikan.

Analis kripto Gerla menilai struktur pasar BTC masih menyerupai pola akumulasi Wyckoff, dengan kemungkinan terjadinya satu sapuan turun terakhir menuju US$55.000–US$58.000 sebelum pasar mencoba membangun reli yang lebih kuat.

Dalam analisis terbarunya, Gerla memetakan pergerakan Bitcoin pada grafik harian ke dalam beberapa fase Wyckoff. BTC sebelumnya membentuk Preliminary Support (PS), Selling Climax (SC), Automatic Rally (AR) dan Secondary Test (ST), sebelum bergerak dalam rentang konsolidasi.

Struktur tersebut membuat pelemahan yang terjadi saat ini berpotensi menjadi bagian dari proses akumulasi, bukan semata-mata kelanjutan tren turun.

Harga Bitcoin Bisa Dibanting ke US$55.000, Tapi Justru Ini yang Ditunggu

Gerla menyoroti area US$58.000–US$59.000 sebagai salah satu support penting dalam struktur tersebut. Namun, level itu belum tentu menjadi titik terendah. Ia memperkirakan Bitcoin masih berpeluang melakukan penurunan sementara menuju kisaran US$55.000–US$58.000, yang dalam skema Wyckoff dapat membentuk fase Spring.

BTC analisis Gerla 9 AGS

Spring merupakan kondisi ketika harga turun melewati batas bawah trading range sebelum kembali bergerak ke atas. Dalam skenario Gerla, pergerakan tersebut berpotensi mengguncang pemegang posisi, menyapu likuiditas di bawah support, sekaligus menjebak pelaku pasar yang membuka posisi bearish setelah breakdown.

Apabila skenario itu berlangsung, harga Bitcoin selanjutnya perlu menunjukkan Test dengan kembali bertahan di sekitar US$57.000–US$59.000. Keberhasilan mempertahankan kawasan tersebut akan menjadi bagian penting sebelum BTC beranjak menuju Phase D dan mulai membentuk struktur pemulihan.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan
BACA JUGA:  Harga Bitcoin Hari Ini Menghijau, 75 Ribu Dolar di Depan Mata?

Pada sisi atas, hambatan berada di kisaran US$65.500–US$68.000. Gerla menempatkan keberhasilan menembus kembali US$68.000 sebagai bagian dari Sign of Strength (SOS). Setelah itu, koreksi atau retest dapat membentuk Back-Up/Last Point of Support (BU/LPS) sebelum Bitcoin memasuki Phase E.

Phase E menjadi tahapan ketika aset mulai meninggalkan rentang akumulasi dan memasuki markup. Berdasarkan proyeksi pada grafik Gerla, keberhasilan mempertahankan breakout dari US$68.000 berpotensi membuka ruang bagi harga Bitcoin untuk bergerak menuju US$76.000 atau lebih tinggi.

Meski demikian, proyeksi tersebut belum menjadi konfirmasi bahwa titik terendah telah terbentuk. BTC terlebih dahulu harus melewati rangkaian Spring, Test, SOS dan mempertahankan breakout agar struktur Wyckoff tersebut tetap berjalan sesuai skenario.

US$67.000 Jadi Gerbang Penentu, Breakout atau Bull Trap?

Sementara itu, analis Boris di CryptoQuant melihat persoalan dari sisi cost basis pelaku pasar. Menurutnya, pergerakan harga Bitcoin saat ini berada di antara sejumlah level biaya perolehan penting milik pengguna Binance, whale baru, penambang dan pemegang jangka panjang.

BACA JUGA:  Kripto Hari Ini 23 Juli 2026: ARB, HBAR, GRAM, ETHFI dan FLR Kompak Bersiap Breakout, Potensi Reli Besar Terbuka

Kondisi tersebut membuat US$61.500 hingga US$67.000 menjadi kawasan penting untuk menentukan arah pasar berikutnya.

BTC Cost Basis 9 AGS

Boris menempatkan US$61.500 sebagai Binance User Deposit Zone. Ketika BTC turun di bawah level tersebut, pembeli saat harga melemah selama ini cenderung masuk dan mendorong rebound.

Namun, volume pembelian yang muncul dinilai belum memiliki momentum memadai untuk menopang kenaikan secara berkelanjutan. Pelemahan support tersebut karena itu masih membuka risiko pengujian level yang lebih rendah.

Sebaliknya, US$67.000 merupakan cost basis kelompok new whales dan dipandang sebagai resistance terkuat di atas harga. Konsentrasi potensi tekanan jual di kawasan tersebut membuat reli menuju level itu berisiko berubah menjadi bull trap apabila pembeli gagal mendorong dan mempertahankan BTC di atasnya.

“Bitcoin harus menembus US$67.000 agar reli terhindar dari bull trap yang berbahaya,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Harga XRP di Ujung Tanduk! Ada Potensi Koreksi Jika Skenario Ini Terulang

Dengan demikian, keberhasilan merebut level tersebut menjadi salah satu konfirmasi utama untuk membedakan breakout berkelanjutan dengan kenaikan sementara.

Jika harga Bitcoin gagal mempertahankan pemulihan, perhatian berikutnya beralih ke cost basis penambang sekitar US$51.000 serta basis biaya long-term holders (LTH).

Jarak antara pasokan berdasarkan cost basis LTH dan harga saat ini diperkirakan sekitar US$17.700, yang menyiratkan potensi penurunan sekitar 26 persen. Area US$51.000 karena itu dipandang sebagai garis pertahanan lebih dalam apabila pasar kembali mencari titik dasar.

Dua analisis tersebut menempatkan kawasan US$67.000–US$68.000 sebagai ujian penting bagi harga Bitcoin.

Gerla melihat keberhasilan melewati area itu dapat membawa BTC menuju fase markup dan lebih dari US$76.000, sedangkan Boris memperingatkan kegagalan menembusnya dapat mengubah rebound menjadi bull trap dan kembali mengarahkan perhatian pasar pada support yang lebih rendah.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait