Adopsi Kripto Indonesia 2026 Turun ke Peringkat 14 Dunia

Posisi Tanah Air dalam peta adopsi kripto global kembali bergeser. Setelah sempat berada di jajaran tiga besar, Indonesia dilaporkan turun cukup jauh ke peringkat 14 dunia pada 2026.

Indonesia Tak Lagi Masuk 10 Besar Adopsi Kripto Global

Riset 2026 Global Crypto Adoption Index yang dirilis Chainalysis pada Rabu (23/09/2026) menempatkan Indonesia di peringkat 14 secara keseluruhan, turun cukup jauh dibandingkan posisi ketujuh yang diraih pada laporan tahun sebelumnya.

Posisi tersebut membuat Indonesia kini berada di bawah Jerman yang menempati peringkat 13, tetapi masih unggul dari Australia, Rusia, Inggris, Vietnam, Filipina, hingga Turki.

Peringkat Adopsi Kripto Indonesia - Chainalysis
Peringkat Adopsi Kripto Indonesia – Chainalysis

Jika dibedah lebih dalam, Indonesia berada di posisi 11 untuk total flows, peringkat 12 untuk balances, posisi 13 pada ekonomi P2P, dan peringkat 10 untuk cross-border flows.

Hasil ini memperlihatkan bahwa posisi Indonesia memang turun, tetapi aktivitas kripto domestik masih cukup kuat pada sejumlah indikator, terutama aliran transaksi lintas negara yang tetap masuk sepuluh besar.

Brasil menjadi negara dengan skor adopsi tertinggi pada 2026, disusul Amerika Serikat, Nigeria, Jepang, Korea Selatan, India, Ukraina, Thailand, Afrika Selatan, dan Kanada dalam jajaran sepuluh besar.

Dari Peringkat 3, Turun ke 7, Kini Jadi 14

Perjalanan Indonesia dalam indeks Chainalysis memang cukup dinamis. Pada 2024, Indonesia sempat melonjak ke peringkat ketiga dunia setelah setahun sebelumnya berada di posisi ketujuh.

BACA JUGA:  Ini Zona Jemput Harga PEPE Termurah Menurut Analis TradingCamp

Kala itu, Indonesia hanya berada di belakang India dan Nigeria, sekaligus mengungguli Amerika Serikat, Vietnam, Ukraina, serta Rusia. Aktivitas DeFi menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong posisi tersebut.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Namun, tren itu mulai berubah pada laporan 2025. Indonesia turun kembali ke posisi ketujuh dunia, sementara India, Amerika Serikat, Pakistan, Vietnam, Brasil, dan Nigeria berada di atasnya.

Indonesia Turun ke Peringkat ke-7 dalam Adopsi Kripto Global 2025

Artinya, hanya dalam dua edisi laporan, posisi Indonesia bergerak dari peringkat ketiga pada 2024, turun ke posisi ketujuh pada 2025, kemudian kembali melorot ke peringkat 14 pada 2026.

Peringkat Adopsi Kripto Tak Bisa Dibaca Mentah

Meski demikian, perbandingannya perlu dibaca secara hati-hati. Chainalysis mengubah metodologi indeks 2026, sehingga penurunan peringkat tidak berarti minat masyarakat terhadap kripto ikut merosot.

“Indeks adopsi grassroots kami mengukur kekuatan adopsi kripto di seluruh dunia. Indeks ini menggabungkan empat subindeks yang masing-masing merepresentasikan bagian dari keseluruhan ekonomi kripto,” tutur mereka.

BACA JUGA:  Enam Bulan Pasca Hype, Benarkah AI Agent Mulai Hidup di Blockchain?

Pada edisi ketujuh, Chainalysis menggunakan pendekatan baru dengan empat ukuran utama, yakni service flows, transfer P2P domestik, cross-border flows, serta saldo aset kripto yang tersimpan.

Mereka kemudian memberikan bobot terhadap volume mentah berdasarkan daya beli dan jumlah penduduk masing-masing negara, sebelum menormalisasi nilai tersebut untuk membentuk skor akhir dari 117 negara.

Skor keseluruhan setiap negara dihitung menggunakan rata-rata geometrik dari empat indikator. Pendekatan ini membuat negara yang mencatat performa konsisten di berbagai kategori memperoleh posisi lebih tinggi.

Periode pengukuran juga mencakup 12 bulan, mulai 1 Juli 2025 hingga 30 Juni 2026. Dengan begitu, indeks tersebut menggambarkan aktivitas adopsi kripto sepanjang periode tersebut, bukan hanya kondisi pada satu titik waktu.

Pengguna Bertambah, Tapi Transaksi Kripto RI Sedang Melambat

Gambaran tersebut menjadi menarik jika dibandingkan dengan kondisi pasar kripto domestik. Data OJK menunjukkan jumlah akun konsumen kripto Indonesia mencapai 22,93 juta pada Juli 2026.

Angka itu naik sekitar 1,03 persen dibandingkan Juni 2026 yang masih berada di 22,69 juta akun. Artinya, sekitar 240 ribu akun baru bertambah hanya dalam waktu satu bulan.

Namun, pergerakan nilai transaksi justru berlawanan. Pada Juni 2026, transaksi kripto RI masih mencapai Rp28,58 triliun, sebelum turun 28,2 persen menjadi Rp20,52 triliun pada Juli.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Belum Temukan Bottom? Analis Soroti 35 Hari Krusial

Pelemahan juga terlihat pada pasar derivatif aset keuangan digital. Nilai transaksinya turun dari Rp4,19 triliun pada Juni 2026 menjadi Rp3,41 triliun pada Juli, atau melemah sekitar 18,52 persen.

Jika ditarik setahun ke belakang, tren tersebut semakin terlihat. Pada Juli 2025, jumlah konsumen masih 16,50 juta akun, sementara nilai transaksi kripto ketika itu mencapai Rp52,46 triliun.

Pengguna Kripto Indonesia Kian Ramai, Kok Transaksinya Malah Sepi?

Artinya, dalam setahun jumlah akun tumbuh sekitar 39 persen menjadi 22,93 juta, sementara nilai transaksi bulanan justru turun sekitar 60,9 persen dibandingkan Juli 2025.

Pada akhirnya, turunnya peringkat adopsi kripto Indonesia lebih tepat dibaca sebagai sinyal perubahan pola aktivitas, bukan tanda bahwa minat langsung menyusut. Basis pengguna masih tumbuh, sementara nilai transaksi justru sedang melemah.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait