Sinyal peringatan memasuki Bitcoin bear market kembali yang mencuat seiring munculnya pola struktur mingguan yang menyerupai tiga siklus besar sebelumnya.
Analis dan trader kripto popular Trader Raiku menilai pola tersebut layak diperhatikan karena kemiripannya dengan fase historis, apalagi pergerakan harga kini berada di wilayah resistance kritis. Situasi ini turut diperkuat oleh pandangan analis lain yang melihat potensi penolakan harga dalam waktu dekat.
Raiku menyampaikan bahwa pola teknikal yang sama terlihat menjelang fase bear market dalam tiga periode penting, yakni 2018, 2021–2022, dan kini 2024–2025. Ia menekankan bahwa Bitcoin tidak selalu mengulang sejarah, tetapi sering berirama, merujuk pada kemunculan sinyal struktur pasar mingguan yang kembali terbentuk.
“Ketika struktur mingguan selaras di tiga siklus, itu sinyal yang patut dihormati,” ujar Raiku.
Pola Teknikal Klasik Muncul Lagi
Menurut Raiku, rangkaian tanda yang mendahului fase Bitcoin bear market terbentuk melalui empat tahapan berulang. Pertama, harga menutup beberapa pekan di bawah EMA 50 minggu, lalu berupaya merebut kembali level tersebut namun gagal.

Tahap berikutnya menunjukkan EMA 100 minggu berperan sebagai penahan sementara, sebelum akhirnya jebol dan memicu kapitulasi makro. Pola ini tercatat mendahului runtuhnya tembok harga US$6.000 pada 2018 dan US$36.000 pada 2022.
Kini, di awal 2025, sinyal serupa kembali terlihat. Bitcoin dipandang berada di ujung fase penentuan arah jangka panjang, terutama karena posisi harga relatif terhadap indikator teknikal mingguan menunjukkan pelemahan struktur.

Raiku menilai bahwa retest terhadap EMA 50 minggu menjadi momentum penting yang akan menentukan arah pasar dalam enam hingga 12 bulan mendatang.
Jika Bitcoin mampu menembus kembali EMA 50 minggu secara bersih, pola historis tersebut bisa dianggap tidak lagi berlaku. Namun, Raiku menilai probabilitas itu rendah.
Struktur harga yang masih rapuh, aliran likuiditas yang tidak mendukung, serta momentum mingguan yang lemah memperkuat skenario bahwa pasar lebih dekat ke risiko penurunan ketimbang pemulihan.
Dengan demikian, beban pembuktian berada pada kubu bull untuk menunjukkan kekuatan yang lebih meyakinkan.
Harga Bitcoin Sentuh Resistance Kritis, Tekanan Bear Bertambah
Selain sinyal dari Trader Raiku, analis pasar kripto Ted juga menambahkan konteks penting mengenai kondisi harga terkini. Ia mencatat bahwa Bitcoin saat ini kembali memasuki zona resistance US$92.000–US$94.000, sebuah area yang sebelumnya memicu volatilitas signifikan.

Menurut Ted, apabila Bitcoin berhasil menembus zona tersebut, peluang reli menuju US$100.000 akan terbuka. Namun, kegagalan menembusnya berpotensi menghasilkan retest ke level US$90.000.
Pandangan ini memperkuat sentimen bahwa pasar berada dalam titik kritis yang dapat menggeser arah dalam waktu pendek. Dalam konteks pola berulang yang ditekankan Raiku, penolakan harga di zona resistance saat ini bisa menjadi pemicu lanjutan terbentuknya struktur bear market yang lebih dalam.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



