Aduh, Peretasan Kripto Terjadi Lagi, Rp59 Miliar Melayang!

Kasus peretasan kripto kembali terjadi. Kali ini, protokol DeFi berbasis Sui, Volo, menjadi korban eksploitasi yang menyebabkan kerugian sekitar US$3,5 juta atau setara Rp59 miliar.

Volo Diretas, Kepercayaan DeFi Terguncang

Volo mengonfirmasi adanya pelanggaran keamanan yang berdampak pada sejumlah vault. Serangan ini melibatkan kripto populer seperti WBTC, XAUm, dan USDC, sehingga memicu kekhawatiran di kalangan investor. Pasalnya, tren peretasan DeFi masih terus berlanjut.

Melalui pernyataan di X pada Rabu (22/04/2026), tim Volo menyebut telah bergerak cepat sejak serangan terdeteksi. Mereka segera berkoordinasi dengan mitra ekosistem untuk menahan dampak yang lebih luas.

“Kami mendeteksi serangan tersebut, langsung memberi tahu Sui Foundation dan mitra ekosistem untuk membatasi dampaknya, serta membekukan vault guna mencegah eksposur lebih lanjut,” tulis tim Volo.

IKLAN
Chat via WhatsApp

15 Peretasan DeFi Terbesar Sepanjang 2026

Meski insiden ini cukup serius, Volo menegaskan bahwa sebagian besar dana tetap aman. Sekitar US$28 juta Total-Value Locked (TVL) di vault lain tidak terdampak, karena eksploitasi hanya terjadi pada tiga vault terisolasi tanpa indikasi celah sistemik.

BACA JUGA:  Iran Ancam Hancurkan Kapal di Selat Hormuz, Gencatan Senjata Masih Rapuh

Namun begitu, kejadian ini tetap menjadi pukulan bagi pasar. Apalagi, Volo dikenal sebagai platform liquid staking di jaringan Sui yang memungkinkan pengguna mengunci token SUI dan menerima voloSUI (VSUI) sebagai imbalannya.

Dana Curian Dibekukan, Volo Lakukan Pemulihan

Di tengah situasi genting, Volo juga mengungkapkan bahwa mereka berhasil membekukan sebagian dana hasil curian. Dalam pembaruan terpisah, tim menyebut sekitar US$500.000 berhasil diamankan pada tahap awal investigasi.

Tak berhenti di situ, upaya lain juga menunjukkan hasil positif. Volo berhasil menggagalkan percobaan peretas untuk memindahkan 19,6 WBTC melalui mekanisme bridge. Langkah ini secara efektif mengeluarkan dana tersebut dari kendali pelaku.

Secara total, sekitar US$2 juta dana berhasil diblokir atau diamankan sejauh ini. Tim Volo kini bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menentukan langkah terbaik dalam mengembalikan dana tersebut kepada pengguna.

BACA JUGA:  Cara Hemat Jadi Miliarder Crypto ala Oscar Darmawan Biar Bisa Buka Kelas

“Hingga saat ini tim kami sedang bekerja dengan mitra ekosistem untuk segera menentukan jalur terbaik guna mengembalikan dana ini ke protokol Volo,” lanjut pernyataan resmi mereka.

Tren Peretasan Kripto Kian Mengkhawatirkan

Insiden ini terjadi saat ekosistem DeFi sedang berada di bawah tekanan. Sebelumnya, Drift Protocol mengalami peretasan dengan kerugian mencapai US$280 juta. Tak lama berselang, KelpDAO juga terdampak dengan kerugian sekitar US$293 juta.

Rangkaian kasus ini memicu efek domino yang mengguncang kepercayaan pasar. Investor pun semakin berhati-hati, terutama terhadap protokol yang mengelola dana dalam jumlah besar.

Peretasan Kripto Terjadi Lagi, Rp4,7 Triliun Digondol Hacker

Meski begitu, langkah Volo yang memilih menyerap kerugian tanpa membebankannya kepada pengguna menjadi sinyal positif. Namun, hingga kini detail skema kompensasi masih belum diumumkan.

Pada akhirnya, peretasan DeFi ini kembali menegaskan bahwa di balik potensi keuntungan besar, industri kripto tetap menyimpan risiko tinggi. Keamanan dan transparansi kini menjadi faktor yang tidak bisa ditawar.

BACA JUGA:  Rp4,9 Triliun Digondol dari KelpDAO, Justin Sun Ajak Hacker Negosiasi

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait