Ahli Sebut Kripto Mungkin Tidak Dirancang untuk Manusia

Managing Partner di Dragonfly, Haseeb Qureshi, mengungkap pandangan mengejutkan bahwa aset kripto kemungkinan besar tidak dirancang untuk manusia, melainkan lebih cocok digunakan oleh kecerdasan buatan (AI).

Menurut Qureshi, karakteristik inti blockchain menunjukkan bahwa sistem ini lebih selaras dengan entitas digital seperti AI dibandingkan manusia.

Blockchain dirancang sebagai sistem yang deterministik, otomatis dan tidak mentoleransi kesalahan. Setiap transaksi bersifat final dan tidak dapat dibatalkan, bahkan jika kesalahan terjadi akibat kelalaian pengguna.

Kondisi ini menempatkan tanggung jawab penuh pada pengguna untuk mengelola keamanan aset mereka sendiri, termasuk menjaga private key dan memastikan validitas setiap transaksi.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Ia menjelaskan bahwa banyak kendala dalam penggunaan kripto bukan berasal dari kegagalan teknologi, melainkan dari ketidaksesuaian antara sistem yang sangat presisi dengan perilaku manusia yang rentan terhadap kesalahan.

Dalam praktiknya, pengguna harus memahami struktur teknis yang kompleks dan memverifikasi setiap tindakan secara mandiri tanpa perlindungan atau mekanisme pemulihan seperti yang tersedia dalam sistem keuangan tradisional.

Ketidaksesuaian antara Blockchain dan Perilaku Manusia

Qureshi menekankan bahwa sistem keuangan tradisional selama ini dirancang untuk menyesuaikan diri dengan karakteristik manusia, termasuk kelemahan dan potensi kesalahan. Sebaliknya, kripto beroperasi tanpa mempertimbangkan faktor tersebut.

“Bank, seburuk apa pun, memang didesain untuk manusia. Sistem perbankan dirancang khusus dengan mempertimbangkan kelemahan dan kegagalan manusia, dan telah disempurnakan selama ratusan tahun. Perbankan memang menyesuaikan dengan manusia. Kripto tidak,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Tragis! Anak Purbaya Rungkad Rp4,9 Miliar Akibat Crypto Crash Hari Ini

Ia juga menyoroti bahwa bahkan perusahaan kripto masih mengandalkan sistem hukum tradisional dalam menjalankan aktivitas bisnis mereka, yang menunjukkan bahwa kontrak pintar belum sepenuhnya menggantikan kontrak hukum biasa.

“Saat kami menandatangani kesepakatan untuk berinvestasi di sebuah startup, kami tidak menandatangani kontrak pintar. Kami menandatangani kontrak hukum. Startup-nya juga melakukan hal yang sama. Kami berdua tidak nyaman melakukan kesepakatan tanpa perjanjian hukum. Bahkan, dalam kasus ketika kami punya kontrak vesting di jaringan, biasanya juga ada kontrak hukum,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun blockchain menawarkan sistem otomatis berbasis kode, pelaku industri masih memerlukan kerangka hukum tradisional untuk memastikan kepastian dan keamanan.

Hal ini mencerminkan adanya kesenjangan antara kemampuan teknis blockchain dan kebutuhan manusia dalam menjalankan aktivitas ekonomi.

Kripto Dinilai Lebih Cocok untuk Ekonomi Berbasis AI

Qureshi menjelaskan bahwa blockchain memiliki karakteristik yang sangat sesuai dengan kemampuan AI. Sistem ini menyediakan infrastruktur kepemilikan digital yang dapat diverifikasi secara independen, memungkinkan entitas digital untuk mengelola aset dan melakukan transaksi tanpa perantara.

AI dinilai lebih mampu beroperasi dalam lingkungan blockchain karena dapat membaca, memverifikasi, dan mengeksekusi kontrak pintar secara akurat tanpa kesalahan. Berbeda dengan manusia, AI tidak dipengaruhi oleh emosi, tidak mengalami kelelahan dan mampu menjalankan proses kompleks secara konsisten.

BACA JUGA:  Berapa Tahun Hukuman Timothy Ronald Jika Terbukti Bersalah?

Pandangan tersebut muncul di tengah meningkatnya penggunaan AI dalam ekosistem kripto, termasuk untuk perdagangan otomatis, pengelolaan aset dan interaksi dengan protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi).

Dalam sistem ini, AI dapat menjalankan fungsi ekonomi secara mandiri, memanfaatkan blockchain sebagai infrastruktur untuk transaksi dan kepemilikan digital.

Qureshi menilai bahwa kondisi ini menunjukkan kemungkinan bahwa blockchain bukan hanya dirancang sebagai sistem keuangan alternatif bagi manusia, tetapi juga sebagai fondasi bagi ekonomi digital yang dijalankan oleh entitas otonom berbasis perangkat lunak.

Konsep “Self-Driving Wallet” dan Masa Depan Interaksi Kripto

Qureshi juga memperkenalkan konsep yang ia sebut sebagai “self-driving wallet,” yaitu wallet kripto yang sepenuhnya dimediasi oleh AI dan berpotensi menjadi antarmuka utama pengguna di masa depan.

Dalam model ini, pengguna tidak lagi secara langsung mengakses aplikasi atau protokol keuangan digital. Sebaliknya, mereka akan memberikan instruksi kepada AI agent untuk menyelesaikan kebutuhan finansial tertentu, dan agen tersebut akan secara otomatis menavigasi berbagai layanan blockchain untuk membangun solusi yang sesuai.

Ia menjelaskan bahwa AI agent akan mampu berinteraksi langsung dengan berbagai protokol keuangan digital untuk mengelola aset, melakukan investasi, atau menjalankan strategi keuangan lainnya tanpa campur tangan manusia secara langsung.

BACA JUGA:  CFX Pangkas Biaya, Mampukah Menahan Investor Kripto Kabur ke Bursa Asing?

AI dinilai lebih cocok menjalankan fungsi tersebut karena mampu memahami sistem blockchain secara native dan beroperasi secara presisi.

Selain itu, Qureshi menyatakan bahwa AI agent juga akan mampu bertransaksi secara langsung dengan AI agent lainnya.

Dalam ekosistem tersebut, entitas digital akan dapat menemukan, berinteraksi, dan membuat kesepakatan ekonomi secara otonom. Blockchain dinilai menjadi infrastruktur yang ideal karena dapat beroperasi tanpa henti, memungkinkan transaksi kapan saja, antar entitas mana pun, serta sepenuhnya berlangsung dalam ruang digital tanpa bergantung pada otoritas pusat.

Konsep ini menunjukkan kemungkinan bahwa di masa depan, kripto tidak hanya menjadi alat transaksi bagi manusia, tetapi juga menjadi fondasi utama bagi sistem ekonomi digital yang dijalankan oleh kecerdasan buatan.

Seiring meningkatnya integrasi antara AI dan blockchain, kripto berpotensi memainkan peran penting sebagai infrastruktur dasar bagi interaksi ekonomi antar entitas digital secara mandiri.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia