AI mulai mengambil peran baru di blockchain. Bukan sekadar menjawab pertanyaan, AI agent kini mulai mengakses layanan digital, mengirim pembayaran, dan menyelesaikan transaksi tanpa menunggu manusia menekan tombol.
Perubahan itu mulai terlihat dalam data. Chainalysis mencatat aktivitas x402 di Base telah menembus 138 juta transaksi, memberi gambaran awal tentang bagaimana ekonomi agentic commerce mulai terbentuk.
AI Agent Mulai Bayar Sendiri di Blockchain
Dalam laporan North America: Inside the Growth of Agentic Commerce yang dirilis Rabu (14/10/2026), Chainalysis menyoroti x402 sebagai salah satu jalur pembayaran yang mulai banyak digunakan AI agent.
x402 merupakan protokol pembayaran on-chain yang dikembangkan Coinbase. Teknologi ini memungkinkan software otonom membayar layanan digital ketika membutuhkannya, tanpa proses pembayaran manual setiap kali transaksi berlangsung.
Pertumbuhannya terbilang cukup ekstrem. Transaksi kumulatif x402 di blockchain Base baru sekitar 1.500 pada kuartal kedua 2025, tetapi melonjak menjadi 83,9 juta pada kuartal keempat tahun yang sama.
Momentum tersebut berlanjut pada 2026. Jumlahnya naik menjadi 97,6 juta pada kuartal pertama, 115,2 juta pada kuartal kedua, lalu mencapai sekitar 138,5 juta pada kuartal ketiga.

Menariknya, mayoritas pembayaran oleh AI Agent bernilai sangat kecil. Lebih dari 78 persen aktivitas x402 berada di kisaran seperseratus sen hingga satu dime, memperlihatkan kuatnya pola transaksi mikro.
Pola itu masuk akal untuk sistem otomatis yang terus mengakses data, model, atau layanan digital. Nilainya kecil, tetapi frekuensinya tinggi dan bisa berlangsung terus-menerus sepanjang hari.
“AI agent berpotensi menciptakan permintaan yang berarti untuk pembayaran bernilai kecil, berfrekuensi tinggi, dan berlangsung sepanjang waktu,” ujar Will Su, Head of Digital Assets Research BlackRock, sebagaimana dikutip dalam laporan Chainalysis.
Aktivitas AI Mulai Keluar dari Fase Eksperimen
Lonjakan jumlah transaksi hanya menjadi satu sisi cerita. Chainalysis juga melihat perilaku dompet x402 mulai berubah, terutama dari seberapa sering pengguna kembali mengisi dana setelah saldo pertamanya digunakan.
Pada kuartal ketiga 2025, sekitar 70,6 persen wallet menerima pendanaan kedua dalam 30 hari setelah pendanaan pertama. Angkanya kemudian meningkat menjadi sekitar 89,3 persen pada kuartal kedua 2026.
Kecepatan penggunaan dana ikut berubah tajam. Pada kuartal ketiga 2025, hanya sekitar 4 persen dompet melakukan pembayaran pertamanya dalam waktu satu jam setelah saldo awal masuk.
Pada kuartal ketiga 2026, porsinya melonjak menjadi 67 persen. Artinya, sekitar dua dari tiga dompet baru mulai menggunakan dananya hampir seketika setelah menerima pendanaan pertama.

Chainalysis menilai pola ini menunjukkan penggunaan protokol x402 mulai bergerak dari sekadar eksperimen satu kali menuju aktivitas yang lebih konsisten dan berulang.
“Meski agentic commerce masih berada dalam ‘fase eksperimen’, seperti yang disampaikan sejumlah pakar, mulai terlihat tanda-tanda kematangan. Pada masa awal x402, aktivitasnya masih didominasi pengguna sekali coba,” tutur mereka.
Jenis layanan yang dibeli juga mulai memperlihatkan pola lebih jelas. Chainalysis melacak pembayaran menuju code review, pencarian data, intelijen finansial, serta layanan API dan inferensi model AI.
AS Jadi Pusat Ekonomi AI On-Chain
Ketika aktivitasnya mulai matang, satu negara terlihat paling dominan. Mereka menemukan dompet asal Amerika Serikat menyumbang sekitar 88,1 persen transaksi inferensi model AI yang dapat dilacak melalui x402.
Dominasi itu juga terlihat pada kategori lain. Grafik Chainalysis menunjukkan AS menguasai sekitar 42 persen transaksi agent framework dan katalog alat, serta 23 persen layanan data dan pencarian.
Posisi tersebut sejalan dengan infrastruktur. Coinbase membangun x402, Circle menyediakan USDC sebagai jalur pembayaran penting, sementara banyak perusahaan AI dan penyedia layanan digital besar beroperasi dari AS.
Namun, pertumbuhan transaksi otomatis juga membawa tantangan baru. Pembayaran AI agent dapat berlangsung sangat cepat, bernilai kecil, dan berulang sehingga sulit dipantau dengan pola pengawasan transaksi konvensional.
“Permukaan pemantauannya sangat berbeda dari sistem pembayaran konvensional. Transaksi individual berlangsung terlalu cepat, bernilai terlalu kecil, dan terlalu sering untuk dijadikan titik pemeriksaan kepatuhan,” jelas mereka.

Jika tren ini berlanjut, AI agent berpotensi menjadi salah satu pengguna baru blockchain yang paling aktif. Namun, pertumbuhannya juga akan menguji kesiapan infrastruktur, keamanan, dan pengawasan transaksi otomatis.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


