Tren investasi kripto kian meluas di tengah masyarakat Indonesia. Namun, di balik euforia dan iming-iming keuntungan cepat, aspek rasionalitas dinilai tetap harus menjadi pijakan utama. Hal inilah yang menjadi sorotan dalam forum akademik di Yogyakarta.
Blockchain Bukan Sekadar Mata Uang Digital
Dikutip dari laporan Muhammadiyah, Minggu (01/03/2026), Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Mochammad Tanzil Multazam, membahas praktik investasi dan trading kripto dalam Halaqah Nasional Hukum Investasi Kripto di Universitas Ahmad Dahlan yang digelar Sabtu lalu.
Dalam forum tersebut, ia menekankan pentingnya memahami kripto secara menyeluruh, tidak hanya terpaku pada pergerakan harga, tetapi juga pada aspek teknologi dan ekosistem yang melingkupinya.
Menurut Tanzil, cryptocurrency pada dasarnya merupakan turunan dari teknologi blockchain. Karena itu, penyebutan sebagai “mata uang” dinilai kurang tepat, sebab secara fungsi kripto lebih mendekati aset atau komoditas digital.
“Karena bisa dijadikan kolateral dan berbagai fungsi finansial lainnya, maka lebih tepat disebut sebagai crypto asset daripada cryptocurrency,” ujarnya.
Belajar Teknologi Blockchain untuk Pemula, Begini Penjelasannya!
Ia menjelaskan bahwa pada awalnya kripto berfungsi sebagai imbalan bagi validator. Seiring perkembangan teknologi, perannya meluas menjadi alat transaksi, instrumen investasi, serta bagian dari ekosistem keuangan digital.
Di Balik Ekosistem yang Besar, Utilitas Kripto Masih Minim
Lebih jauh, Tanzil memetakan ekosistem kripto ke dalam tiga komponen, yakni pengguna, platform, dan aset. Pengguna tidak hanya trader, tetapi juga investor jangka panjang, pengembang, validator atau staker, hingga penyedia likuiditas.
Dari sisi platform, ia membedakan centralized exchange yang diawasi oleh regulator dengan decentralized finance (DeFi) yang berjalan tanpa otoritas pusat.
Sementara dari sisi aset, kripto terbagi dalam beberapa layer teknologi, mulai dari jaringan utama, solusi skalabilitas, hingga aplikasi di atas jaringan blockchain.
Meski ekosistemnya terbilang luas, ia menilai bahwa utilitas riil sebagian besar aset kripto saat ini masih terbatas dan cenderung bersifat spekulatif.
“Dari puluhan juta aset kripto yang ada, yang benar-benar memiliki utilitas kemungkinan kurang dari seribu. Sisanya banyak yang bersifat spekulatif,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi ini kerap mendorong praktik perdagangan yang menyerupai perjudian, terutama ketika pembelian aset dilakukan tanpa dasar manfaat yang jelas.
Literasi Jadi Kunci Hindari Spekulasi
Tanzil juga menyoroti anggapan keliru tentang kekayaan instan dari kripto. Menurutnya, keuntungan umumnya dinikmati pengguna awal, investor yang mendapat lonjakan ekstrem, atau pelaku penipuan, sehingga memicu persepsi yang sering berujung pada kerugian.
“Keinginan kaya instan melalui kripto justru sering berakhir bangkrut instan,” tegasnya.
Skyholic: Investor Kripto Bukan Kurang Modal, Tapi Kurang Literasi
Sebagai solusi, ia menekankan pentingnya analisis fundamental berbasis data on-chain, seperti aktivitas pengembang dan struktur tokenomics. Selain itu, literasi keuangan digital juga menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam spekulasi semata.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



