Lonjakan tajam volume perdagangan futures Ethereum di Binance menandai kembalinya aktivitas spekulatif yang agresif di pasar derivatif.
Data on-chain terbaru menunjukkan bahwa nilai transaksi futures atau berjangka Ethereum hampir menyentuh US$21,7 miliar, menjadi level tertinggi sejak pertengahan Desember.
Peningkatan ini mencerminkan bangkitnya minat trader terhadap aset kripto terbesar kedua tersebut, seiring meningkatnya ekspektasi terhadap potensi pergerakan harga yang lebih volatil dalam waktu dekat.
Kenaikan volume tersebut muncul setelah periode aktivitas yang relatif lesu dalam beberapa pekan sebelumnya. Sejak pertengahan Desember, pasar futures ETH mengalami penurunan partisipasi, beriringan dengan stabilnya harga dan melemahnya selera risiko di kalangan trader ritel maupun institusional.
Dalam fase tersebut, banyak pelaku pasar memilih bersikap menunggu kejelasan arah harga sebelum membuka posisi dengan eksposur besar.
Namun, situasi itu kini berubah. Analis Arab Chain di CryptoQuant menilai lonjakan volume futures ini sebagai sinyal kembalinya momentum spekulatif di pasar Ethereum.
“Lonjakan volume futures menunjukkan bahwa para pelaku pasar kembali bersedia mengambil risiko lebih besar, baik untuk spekulasi maupun lindung nilai, seiring meningkatnya ekspektasi terhadap pergerakan harga yang lebih signifikan,” ungkap Arab Chain.

Menurut Arab Chain, peningkatan volume di pasar derivatif sering berkaitan dengan penggunaan leverage yang lebih tinggi, aktivitas hedging oleh pelaku institusional, serta posisi spekulatif jangka pendek.
Kondisi ini biasanya muncul ketika pasar mulai bersiap menghadapi fase volatilitas yang lebih intens, baik dalam arah kenaikan maupun penurunan harga ETH.
Meski demikian, Arab Chain menegaskan bahwa lonjakan volume futures tidak secara otomatis mencerminkan sentimen bullish atau bearish. Volume yang tinggi lebih menunjukkan meningkatnya partisipasi pasar.
Arah pergerakan harga tetap bergantung pada keseimbangan antara tekanan beli dan jual. Namun, ketika lonjakan volume tersebut terjadi bersamaan dengan pergerakan harga yang jelas, maka tren yang terbentuk memiliki tingkat kredibilitas yang lebih kuat.
Lonjakan Volume Futures Cerminkan Kembalinya Selera Risiko
Lonjakan volume perdagangan futures Ethereum di Binance terjadi di tengah meningkatnya perhatian terhadap level harga kunci yang dinilai krusial oleh para trader. Banyak pelaku pasar menggunakan kontrak derivatif untuk mengantisipasi potensi pembalikan tren maupun untuk melindungi portofolio dari fluktuasi harga yang tajam.
Arab Chain menilai bahwa meningkatnya aktivitas di pasar futures menunjukkan bahwa Ethereum kembali dipandang sebagai aset dengan volatilitas tinggi dan peluang pergerakan harga yang besar. Hal ini mendorong trader untuk memanfaatkan instrumen derivatif guna memperoleh eksposur yang lebih besar dibandingkan perdagangan spot.
Selain faktor teknikal, sentimen spekulatif juga didorong oleh ekspektasi terhadap dinamika makro dan perkembangan ekosistem kripto secara umum.
Dalam kondisi seperti ini, pasar derivatif sering menjadi indikator awal perubahan perilaku risiko, karena trader cenderung lebih cepat menyesuaikan posisi melalui kontrak futures dibandingkan transaksi spot.
Namun, Arab Chain mengingatkan bahwa aktivitas derivatif yang meningkat juga membawa risiko yang lebih tinggi. Penggunaan leverage yang agresif dapat memperbesar potensi keuntungan, tetapi sekaligus meningkatkan risiko likuidasi ketika pergerakan harga berlawanan dengan posisi trader.
Oleh karena itu, lonjakan volume futures sering kali menjadi pertanda bahwa pasar memasuki fase yang lebih sensitif terhadap volatilitas.
Arus Keluar Ethereum dari Bursa Menunjukkan Disiplin Pasokan
Di sisi lain, data on-chain dari analis Tugba di CryptoQuant menunjukkan dinamika yang berbeda pada pasar spot Ethereum. Berdasarkan metrik Exchange Netflow, terjadi arus keluar ETH yang konsisten dari bursa selama fase koreksi harga. Sementara itu, arus masuk ETH ke bursa saat harga naik cenderung terbatas.

Pola ini mengindikasikan struktur pasokan yang relatif disiplin. Pelaku pasar tidak terlihat melakukan penjualan besar-besaran saat harga melemah, dan juga tidak agresif mendistribusikan ETH ketika harga mengalami kenaikan.
Menurut Tugba, kondisi ini mencerminkan kecenderungan menahan atau mengakumulasi aset, bukan melakukan distribusi luas.
“Penurunan harga lebih banyak direspons dengan sikap menahan dan akumulasi, bukan pelepasan besar-besaran,” tambahnya.
Namun, ia juga menekankan bahwa Exchange Netflow saja tidak cukup untuk menentukan arah harga Ethereum. Jika permintaan tetap lemah atau kondisi makro memburuk, potensi kelanjutan penurunan harga tetap terbuka.
Meski demikian, selama tidak ada risiko makro atau sistemik yang signifikan, struktur pasokan seperti ini dinilai dapat menjadi fondasi yang konstruktif bagi potensi kenaikan harga Ethereum di masa depan.
Minimnya ekspansi pasokan saat koreksi dan terbatasnya aksi ambil untung saat rebound menunjukkan bahwa likuiditas di sisi jual relatif terbatas.
Dalam kondisi tersebut, jika permintaan kembali menguat, harga Ethereum berpotensi merespons lebih efisien karena tidak banyak tekanan jual yang siap masuk ke pasar.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



