Kevin Warsh, Ketua Federal Reserve Amerika Serikat yang dilantik baru-baru ini disebut pro crypto oleh pasar. Hal ini bukan tanpa alasan, ia diketahui memiliki investasi pribadi di aset digital, beberapa kali memberikan pernyataan publik yang mendukung kripto, dan sikap menolak CBDC retail. Berikut adalah penjelasan lengkap terkait alasan Kevin Warsh disebut pro crypto.
BACA JUGA:Â OJK Genjot Bursa Karbon, Blockchain Jadi Bagian Transformasi
Siapa Itu Kevin Warsh?
Kevin Warsh bukan nama baru di dunia keuangan. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur Federal Reserve (The Fed) dari 2006 hingga 2011, dan kini kembali menjadi sorotan setelah Presiden Donald Trump menominasikannya sebagai Ketua The Fed pada Januari 2026.
Senat Amerika Serikat kemudian mengonfirmasi pencalonannya dengan hasil suara 54 berbanding 45 pada 13 Mei 2026, dan ia resmi dilantik menggantikan Jerome Powell pada 22 Mei 2026.
Sikap Warsh terhadap aset digital membuatnya berbeda dari para pendahulunya. Sejak proses nominasi hingga pelantikannya, komunitas crypto menyebutnya sebagai “ketua The Fed pertama yang pro crypto dalam sejarah.” Tapi apa sebenarnya yang membuat label itu melekat padanya? Berikut penjelasan lengkapnya.
BACA JUGA:Â Mengenal William Sutanto, Bos Indodax Lulusan Stanford!
1. Warsh Mengakui Crypto Sudah Jadi Bagian dari Sistem Keuangan
Salah satu alasan Kevin Warsh disebut pro crypto yang paling mendasar adalah pernyataannya langsung di hadapan Komite Perbankan Senat AS.
Dalam sidang konfirmasi pada 21 April 2026, Warsh secara eksplisit menyatakan bahwa aset digital sudah tertanam dalam sistem keuangan Amerika dan harus diintegrasikan ke depannya dengan pengawasan yang tepat.
Ia merespons pertanyaan dari Senator Cynthia Lummis soal apakah aset digital perlu dimasukkan ke dalam sistem untuk memperluas akses investasi sekaligus melindungi konsumen, dan jawabannya: ya.
Pernyataan ini sangat signifikan. Berbeda dari para pejabat Fed sebelumnya yang cenderung menempatkan crypto di luar radar regulasi resmi, Warsh justru melihatnya sebagai bagian yang sudah nyata dari ekosistem finansial AS yang perlu diatur secara jelas, bukan dihapus atau diabaikan.
2. Ia Melihat Bitcoin sebagai “Canary in the Coal Mine” untuk Inflasi
Satu pernyataan Warsh yang banyak dikutip komunitas crypto adalah ketika ia menyebut Bitcoin seperti canary in the coal mine untuk inflasi. Maksudnya, kenaikan harga Bitcoin bisa menjadi sinyal awal bahwa masyarakat mulai kehilangan kepercayaan terhadap nilai uang fiat dan kebijakan moneter yang longgar.
Pada Januari 2021, Warsh juga sempat menyatakan di CNBC bahwa “Bitcoin adalah emas baru bagi siapa pun yang berusia di bawah 40 tahun,” sebuah komentar yang selaras dengan momen Bitcoin melampaui harga US$30.000 untuk pertama kalinya.
“If #bitcoin never existed gold would be rallying even more right now, but I guess if you are under 40 bitcoin is your new gold,” says Kevin Warsh. pic.twitter.com/1xp16aE8QS
— Squawk Box (@SquawkCNBC) January 6, 2021
Perspektif ini cukup langka dari seorang tokoh perbankan sentral. Pejabat The Fed pada umumnya skeptis terhadap Bitcoin dan melihatnya sebagai aset spekulatif yang tidak relevan dengan kebijakan moneter.
Warsh membalikkan framing itu, baginya, pergerakan Bitcoin justru bisa mencerminkan kondisi kepercayaan publik terhadap sistem moneter.
3. Warsh Menolak Tegas Retail CBDC
Ini mungkin alasan Kevin Warsh disebut pro crypto yang paling banyak disambut positif oleh komunitas aset digital.
Ketika Senator Bernie Moreno bertanya dalam sidang April 2026 apakah The Fed memiliki hak untuk menerbitkan CBDC retail (mata uang digital bank sentral yang langsung digunakan masyarakat umum), melansir laman Protos, Warsh menjawab tegas:
“Mereka tidak punya hak, dan itu menurut saya pilihan kebijakan yang buruk.” Bahkan ia berkomitmen untuk menentang eksplorasi CBDC retail semaksimal mungkin selama menjabat sebagai Ketua The Fed.
Mengapa ini penting bagi komunitas crypto? Karena CBDC retail sering dilihat sebagai ancaman terhadap ekosistem aset digital yang terdesentralisasi.
CBDC adalah “uang digital terpusat” yang dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah, termasuk potensi pemantauan transaksi warga secara langsung. Sebaliknya, Bitcoin, stablecoin, dan aset crypto lainnya menawarkan model yang lebih terbuka dan desentralisasi.
Dengan menolak CBDC retail, Warsh secara tidak langsung memberikan ruang lebih besar bagi ekosistem crypto untuk berkembang tanpa saingan dari instrumen keuangan negara yang bisa sangat dominan.
BACA JUGA:Â Bukan Cuma USDT! Ini 10 Stablecoin Terbesar yang Menguasai Pasar Kripto 2026
4. Portofolio Crypto Pribadi yang Signifikan
Melansir laman Yahoo Finance, dokumen keuangan yang diserahkan Warsh ke kantor etika pemerintah AS mengungkap sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya: seorang calon Ketua The Fed dengan portofolio aset digital yang substansial.
Warsh mengungkapkan eksposur ke lebih dari 20 proyek crypto dan fintech, di antaranya:
– Polymarket (platform prediksi terdesentralisasi)
– dYdX (bursa crypto berbasis DeFi)
– Bitwise (manajer aset crypto institusional)
– Flashnet (startup Lightning Network untuk Bitcoin)
– Solana dan lebih dari 12 protokol blockchain lainnya
Total nilai investasi crypto pribadinya diperkirakan melampaui US$100 juta, dari total kekayaan bersih antara US$131 juta hingga US$209 juta berdasarkan laporan April 2026. Ini menjadikannya calon Ketua The Fed pertama dalam sejarah dengan eksposur nyata ke dunia aset digital.
Bagi pasar, ini bukan sekadar angka. Ini memberi sinyal bahwa Warsh memahami industri crypto dari dalam, bukan hanya sebagai pengamat eksternal yang skeptis. Pemahamannya yang lebih nuansir terhadap DeFi dan infrastruktur blockchain dinilai jauh lebih maju dibandingkan para pendahulunya.
5. Pendekatan Regulasi yang Lebih Ramah Inovasi
Alasan Kevin Warsh disebut pro crypto tidak berhenti pada portofolionya saja. Sikap kebijakannya terhadap inovasi finansial juga berperan besar.
Warsh dikenal mendukung regulasi yang memberikan kepastian hukum bagi pelaku industri, bukan pendekatan “tekan dulu, atur belakangan” yang selama ini sering dikeluhkan komunitas crypto.
Ia mendukung kerangka regulasi yang memungkinkan industri berkembang secara sehat di Amerika Serikat, dengan perlindungan konsumen yang jelas namun tidak menghalangi inovasi.
Selain itu, fans-nya di komunitas crypto juga menunjuk pada posisi Warsh yang pro-pelonggaran moneter dan pro-likuiditas sebagai katalis positif bagi aliran dana ke sektor crypto.
Di sidang April 2026, ia bahkan secara langsung menyalahkan kebijakan era pandemi sebagai “kesalahan kebijakan fatal” yang memicu inflasi berlebihan, sekaligus mengkritik neraca The Fed yang membengkak sebagai “kebijakan fiskal yang tersamar.”
Dalam konteks ini, pasar melihat Warsh sebagai figur yang bisa membawa keseimbangan antara disiplin moneter dan keterbukaan terhadap inovasi keuangan digital.
Dampak Pengangkatan Warsh bagi Pasar Crypto
Sejak proses nominasi hingga pelantikannya pada 22 Mei 2026, pasar crypto merespons dengan beragam reaksi. Di satu sisi, Bitcoin sempat turun 14 persen secara kumulatif di awal 2026 ketika nama Warsh pertama kali disebut, karena reputasinya yang hawkish soal suku bunga membuat pasar khawatir. Namun semakin jelas sikapnya terhadap crypto terungkap, sentimen pasar mulai berbalik positif.
Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$80.000 saat transisi kepemimpinan terjadi, dan komunitas crypto secara luas berharap arah kebijakan Warsh akan membawa iklim yang lebih kondusif: kepastian regulasi, ruang lebih lebar bagi adopsi institusional, dan terbukanya akses perbankan bagi perusahaan crypto yang selama ini sering dipersulit.
Dengan Warsh di Pucuk The Fed, Apa Artinya Bagi Masa Depan Crypto?
Dari semua fakta yang sudah dibahas, gambaran Kevin Warsh sebagai figur pro crypto terbentuk bukan dari satu pernyataan saja, melainkan dari kombinasi yang konsisten.
Bagi komunitas crypto, ini bukan sekadar soal siapa yang memimpin The Fed. Ini soal arah kebijakan yang bisa menentukan apakah industri aset digital akan berkembang atau stagnan di Amerika Serikat dalam beberapa tahun ke depan.
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


