Pasar kripto kembali menghadapi tekanan. Di tengah aktivitas perdagangan yang masih tinggi, altcoin justru mengalami gelombang penjualan masif senilai sekitar Rp4.780 triliun. Kondisi ini memunculkan pertanyaan baru, apakah era altseason mulai memudar?
Data terbaru menunjukkan tekanan jual di pasar altcoin mencapai level terdalam dalam enam tahun terakhir. Di saat yang sama, modal investor terlihat mulai mengalir ke berbagai instrumen lain, mulai dari saham, logam mulia, hingga produk investasi berbasis AI.
Tekanan Jual Altcoin Capai Rekor Baru
Berdasarkan data yang dibagikan analis IT Tech, pada Rabu (17/06/2026), pasar altcoin di luar Bitcoin dan Ethereum mencatat akumulasi selisih volume beli dan jual sebesar minus US$266 miliar atau sekitar Rp4.780 triliun dalam satu tahun terakhir.

Angka tersebut menunjukkan tekanan jual masih mendominasi permintaan beli. Kondisi ini secara tidak langsung menandakan minat investor terhadap altcoin belum pulih dan narasi altseason masih lemah.
“Tekanan jual altcoin baru saja mencapai level paling ekstrem dalam lima tahun terakhir. Ini bukan sekadar koreksi harga biasa, melainkan 15 bulan aksi jual bersih yang terus berlangsung di pasar spot,” ujar IT Tech.
Meski demikian, aktivitas perdagangan derivatif justru menunjukkan kondisi yang berbeda. Berdasarkan data CryptoQuant per Kamis (18/06/2026), altcoin mendominasi volume perdagangan futures di Binance dengan pangsa mencapai 51 persen pada 16 Juni.
Sebagai perbandingan, Bitcoin hanya menyumbang 28,85 persen dari total volume futures, sementara Ethereum berada di kisaran 20,20 persen. Kondisi ini menunjukkan aktivitas trading altcoin masih sangat tinggi meski permintaan di pasar spot terus melemah.

Fenomena tersebut mengindikasikan pelaku pasar masih aktif berspekulasi di altcoin. Namun, arus modal baru yang masuk belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan jual dan memicu altseason.
Modal Investor Mulai Berpindah ke Aset Lain
Menariknya, likuiditas di pasar kripto sebenarnya masih cukup besar. Analis CryptoQuant MorenoDV mencatat rasio pasokan stablecoin ERC-20 di bursa relatif stabil sejak Desember 2024, berada di kisaran 0,40 hingga 0,46.
Kondisi tersebut menunjukkan 40 hingga 46 persen total stablecoin yang beredar masih berada di bursa kripto dan siap digunakan sewaktu-waktu. Dengan kata lain, dana investor belum benar-benar keluar dari ekosistem kripto sehingga berpotensi menjadi katalis bagi altseason.
Namun, cara investor memanfaatkan modal mulai berubah. Alih-alih memborong altcoin, sebagian dana justru mengalir ke berbagai produk investasi lain yang kini tersedia di bursa kripto.
“Likuiditas di pasar melimpah, tetapi menjadi lebih selektif. Akibatnya, perubahan kecil dalam keyakinan investor, selera risiko, atau alokasi modal memicu volatilitas yang tidak proporsional pada harga Bitcoin,” tulis MorenoDV dalam analisanya pada Rabu (17/06/2026).

CryptoQuant juga mencatat volume perdagangan kontrak futures logam mulia sempat mendekati US$500 miliar pada Maret 2026 seiring lonjakan harga emas dan perak ke rekor tertinggi baru.
Tidak hanya itu, produk perpetual pra-IPO mengalami peningkatan yang besar. Volume transaksinya melonjak dari US$2 juta pada Maret menjadi US$715 juta pada Mei, lalu menembus US$2 miliar pada Juni 2026.
Apakah Altseason Benar-Benar Berakhir?
Perubahan arus memunculkan spekulasi bahwa likuiditas investor kini tersebar ke berbagai instrumen. Bursa kripto tidak hanya menjadi tempat memperdagangkan aset digital, tetapi juga berkembang sebagai gerbang menuju saham hingga komoditas lain.
Binance sendiri mencatat transaksi perpetual pra-IPO senilai US$10,3 miliar sepanjang Juni, atau sekitar 20 kali lipat lebih besar dibandingkan bulan sebelumnya. Bursa tersebut juga menguasai sekitar 83 persen pangsa pasar di segmen tersebut.
Di sisi lain, Binance memegang 25 hingga 30 persen dari total pasokan stablecoin global, yang menunjukkan bahwa likuiditas di pasar tetap melimpah. Namun, modal tersebut kini mengalir secara jauh lebih selektif.
Bukan Cuma BTC, Bursa Kripto Kini Jadi Pusat Trading Saham hingga Emas
Kondisi ini membuat peluang terjadinya altseason berikutnya masih menjadi tanda tanya besar. Selama permintaan di pasar spot belum pulih dan arus modal terus mengalir ke instrumen lain, kebangkitan pasar altcoin membutuhkan waktu yang lebih lama.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


