Isu panas kembali beredar di media sosial. Kali ini, publik dibuat penasaran oleh pernyataannya bahwa emas bisa diproduksi massal. Jika benar, apakah kelangkaan emas akan runtuh? Dan apakah ini menjadi ancaman serius bagi statusnya sebagai aset lindung nilai?
Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Anak Purbaya itu pada Sabtu (14/02/2026). Ia menyebut bahwa emas dapat dihasilkan dari reaksi fusi nuklir.
“Panas yang dihasilkan dari reaksi fusi dipakai untuk memutar turbin yang menghasilkan listrik dengan limbah emas,” tulis Yudo.
Sekilas, narasi ini memang terdengar futuristik, bahkan revolusioner. Namun, seperti biasa, sains dan dinamika pasar tidak sesederhana potongan story Instagram.
Reaktor Fusi dan Klaim “Emas dari Energi”
Secara teori, emas memang bisa dibuat di laboratorium. Teknik ini dikenal sebagai transmutasi unsur, yaitu proses mengubah satu unsur menjadi unsur lain dengan memodifikasi jumlah proton di inti atomnya.
Dalam tabel periodik, emas memiliki 79 proton. Sementara merkuri memiliki 80 proton. Artinya, untuk mengubah merkuri menjadi emas, satu proton harus “dikurangi” atau diubah melalui reaksi nuklir berenergi sangat tinggi.
Analoginya sederhana. Bayangkan saja setiap unsur seperti kunci dengan jumlah gigi tertentu. Merkuri punya 80 “gigi”, emas punya 79. Jika satu gigi dihilangkan lewat proses nuklir, bentuk kunci berubah dan secara teori menjadi emas.

Namun, proses “menghilangkan satu gigi” ini bukan seperti mengikir logam biasa. Energi yang dibutuhkan setara dengan kondisi di dalam bintang. Reaksi menghasilkan neutron berenergi tinggi yang dapat menabrak inti atom dan memicu perubahan tersebut.
Startup asal San Francisco, Marathon Fusion, pernah mengklaim bahwa reaktor fusi 1 gigawatt bisa menghasilkan sekitar 5 ton emas per tahun sebagai produk sampingan. Secara konsep, neutron dari reaktor ditembakkan ke unsur seperti merkuri untuk memicu transmutasi.
Meski begitu, hingga 2026, belum ada reaktor fusi komersial yang stabil dan beroperasi penuh. Teknologinya masih dalam tahap pengembangan dan ditargetkan sebagai alternatif alat pembangkit listrik. Artinya, meski secara angka dan teori terlihat mungkin, produksi emas lewat fusi masih jauh dari realitas industri.
Seberapa Besar Dampaknya ke Pasar Emas?
Sekarang, mari kita bicarakan soal angka. Produksi emas global pada 2025 berada di kisaran 5.000 ton per tahun. Angka ini menjadi fondasi suplai yang menjaga stabilitas pasar emas dunia.
Jika satu reaktor fusi mampu menghasilkan sekitar 5 ton emas fisik per tahun, kontribusinya hanya sekitar 0,1 persen dari total suplai global. Secara matematis, dampaknya nyaris tidak signifikan.
Untuk mengganggu struktur pasar, dibutuhkan setidaknya 1.000 reaktor fusi dalam skala komersial. Itu pun dengan asumsi seluruhnya berjalan efisien, stabil, dan ekonomis dalam jangka panjang.
Sementara hingga kini, dunia bahkan belum memiliki satu reaktor fusi komersial yang benar-benar matang dan beroperasi penuh. Artinya, skenario tersebut masih sangat jauh dari kenyataan.
Ibarat membicarakan produksi massal mobil terbang ketika prototipe publik saja belum tersedia, klaim Anak Purbaya bahwa emas akan kehilangan kelangkaannya terdengar lebih sensasional daripada realistis.
Emas vs Bitcoin: Siapa Lebih Langka?
Diskusi ini hampir selalu berujung pada perbandingan emas dengan Bitcoin. Jika emas secara teori bisa diproduksi, apakah itu berarti Bitcoin otomatis lebih unggul dari sisi kelangkaan?
Secara matematis, suplai Bitcoin dibatasi maksimal 21 juta koin. Batas ini tertanam dalam protokol dan tidak bisa diubah begitu saja tanpa konsensus mayoritas jaringan.
Bahkan, riset yang dipublikasikan oleh Fortune menyebutkan sekitar 4 juta Bitcoin diperkirakan telah hilang permanen. Artinya, suplai efektif yang benar-benar bisa beredar kemungkinan hanya sekitar 17 juta BTC.
Di sinilah letak perbedaannya. Kelangkaan emas bergantung pada faktor fisik, produksi, serta perkembangan teknologi. Sementara kelangkaan Bitcoin terkunci. Tidak ada reaktor, tidak ada tambang, dan tidak ada eksperimen nuklir yang dapat mengubah batas suplai tersebut.
Meski demikian, pasar tidak selalu bergerak berdasarkan logika matematika semata. Persepsi, adopsi, serta psikologi investor tetap memainkan peran besar dalam menentukan nilai kedua aset ini.
Realita di Balik Klaim Besar
Klaim Yudo Sadewa yang menyebut bahwa emas bisa diproduksi bukanlah hoaks. Secara ilmiah, hal itu memang memungkinkan. Bahkan konsep transmutasi unsur sudah lama dikenal dalam dunia fisika nuklir.
Namun, antara “bisa dibuat” dan “bisa diproduksi massal secara ekonomis” adalah dua hal yang sangat berbeda. Benteng kelangkaan emas masih kokoh karena teknologi fusi belum matang, biayanya tinggi, dan skalanya jauh dari kebutuhan pasar global.
Ilusi Kelangkaan Emas dan Kilau Nyata Bitcoin di Masa Depan!
Lantas, apakah emas akan menjadi tidak langka dalam waktu dekat? Kemungkinannya bisa dibilang sangat kecil.
Untuk saat ini, narasi tentang emas dari reaktor fusi lebih tepat disebut sebagai gambaran masa depan yang ambisius, bukan ancaman dalam waktu dekat. Perdebatan pun terbuka: antara logam kuno yang lahir dari bintang dan aset digital yang lahir dari kode.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



