Pergerakan harga Bitcoin semenjak akhir pekan lalu terlihat cukup stabil, bergerak di kisaran level US$89.000 hingga US$93.000. Namun, pada awal minggu ini, harga BTC kembali turun di bawah US$90.000.
Tren sideways yang bertahan lama ini membuat banyak trader dan investor bertanya-tanya ke mana arah pergerakan Bitcoin selanjutnya. Apakah ini menandakan fase akumulasi, ataukah BTC berisiko terlempar hingga US$82.000 atau bahkan US$70.000?
Bitcoin Terkonsolidasi dalam Channel Bearish
Berdasarkan prediksi harga Bitcoin terbaru dari GainMuse pada Jumat (12/12/2025), BTC saat ini bergerak dalam fase konsolidasi di dalam descending channel setelah gagal menembus resistance dan menunjukkan momentum yang melambat.
Pada awal November, BTC membentuk pola triangle yang berakhir dengan break & drop, mendorong harga turun ke area US$100.000, lalu mencetak lower low di sekitar US$88.000, mengonfirmasi tren turun yang masih dominan.

Saat ini, BTC berada dalam fase kompresi atau sideways dengan volatilitas menurun, bergerak di antara support US$90.000–US$91.000 dan resistance US$94.000. Kondisi ini menunjukkan pasar masih menunggu arah pergerakan berikutnya.
“Fase kompresi saat ini menandakan adanya keraguan, namun strukturnya masih mengarah pada potensi kelanjutan penurunan jika resistance tetap bertahan. Pihak pembeli membutuhkan breakout yang bersih untuk mengubah bias,” tegas GainMuse.
Selama harga Bitcoin gagal menembus level US$95.000 dengan volume dan momentum yang kuat, bias akan tetap bearish. Jika support US$88.000 berhasil ditembus, potensi penurunan BTC diperkirakan mengarah ke zona target hingga US$82.000.
Analisis harga Bitcoin serupa juga diungkapkan oleh Ali Martinez. Lewat grafik yang diunggah pada Minggu (14/12/2025), ia menunjukkan bahwa BTC membentuk pola bear flag, setelah turun dari US$105.000. Pola ini mengindikasikan konsolidasi sebelum kelanjutan tren turun.
Harga BTC saat ini bergerak di kisaran US$88.000–US$92.000, dengan resistance kuat di US$93.000. Sementara itu, support kunci berada di angka US$86.000, yang menjadi level pertahanan utama bagi buyer dalam jangka pendek.

Martinez menegaskan bahwa US$86.000 adalah level krusial. Jika jebol, maka tekanan jual bisa membawa BTC turun hingga US$70.000. Selama harga belum mampu menembus US$94.000, risiko penurunan masih lebih dominan.
Kebijakan The Fed dan Reaksi Bitcoin
Pergerakan harga Bitcoin tidak bisa dilepaskan dari konteks makro. RLinda menyoroti bahwa meski BTC dikategorikan sebagai aset finansial, pergerakannya berbeda dari emas digital saat The Fed kembali mengambil langkah besar.
“Kembalinya The Fed ke kebijakan QE (mencetak uang/membeli obligasi) memicu arus keluar dana besar-besaran dari dolar menuju emas dan perak. Namun, tidak terjadi arus masuk modal ke Bitcoin,” jelasnya.
Pandangan serupa datang dari Matrixport, yang menambahkan bahwa FOMC memang menurunkan suku bunga seperti yang diperkirakan, tetapi forward guidance Fed menciptakan ketidakpastian yang belum sepenuhnya tercermin di pasar.
“Pesan yang disampaikan Powell yang tidak konsisten, dikombinasikan dengan tanda-tanda awal pelemahan pasar tenaga kerja, menciptakan latar belakang makro yang jauh berbeda dibanding awal tahun,” tegasnya.
Sinyal Bank of Japan Tekan Bitcoin, Pasar Kripto Keringat Dingin
Likuiditas kripto juga terlihat ketat, aktivitas ritel rendah, dan faktor politik kemungkinan membentuk perilaku pasar lebih signifikan daripada yang disadari investor.
Semua faktor ini menegaskan bahwa konsolidasi BTC berada dalam konteks risiko makro yang lebih kompleks. Dalam kondisi seperti ini, strategi posisi dan manajemen risiko menjadi lebih penting daripada sekadar mengikuti tren pasar.
Tanda Akumulasi atau Bearish Berkepanjangan?
Beberapa analis teknikal dan pengamat pasar sempat berasumsi bahwa kondisi Bitcoin saat ini bisa menjadi awal fase bearish yang cukup panjang. Namun, data terbaru justru menunjukkan tren berbeda.
Analis on-chain, Maartun, menjelaskan pada Jumat lalu bahwa indikator akumulasi/distribusi memperlihatkan perubahan penting. Setelah berminggu-minggu didominasi tekanan jual, indikator tersebut kini berbalik ke fase akumulasi.
“Spot Taker CVD Bitcoin dalam 90 hari terakhir baru saja berbalik menjadi Taker Buy Dominant, menandai perubahan perilaku pasar setelah berminggu-minggu berada di bawah tekanan jual,” tegasnya.
Pelemahan terakhir tidak disertai lonjakan jual. Justru muncul bullish divergence, di mana momentum beli meningkat meski harga belum naik dan biasanya menandai pembentukan dasar pasca-koreksi, bukan awal tren turun panjang.

Secara teknikal, support utama ada di area konsolidasi bawah, sementara resistance berada di puncak lokal sebelumnya. Selama BTC bertahan di atas support dan taker buy tetap dominan, peluang menuju fase re-accumulation dan potensi kenaikan lanjutan masih terbuka.
Mengamati Arah Pergerakan Bitcoin Berikutnya
Bitcoin saat ini berada di persimpangan antara konsolidasi sideways dan potensi penurunan lebih lanjut. Secara teknikal, ada tanda-tanda akumulasi dan bullish divergence, namun resistance kuat dan kondisi makro yang kompleks menahan peluang kenaikan.
Trader sebaiknya memperhatikan support krusial dan memantau momentum beli. Risiko penurunan hingga ke US$70.000 tetap ada, sehingga fase berikutnya akan menentukan apakah BTC memulai akumulasi baru atau melanjutkan tren bearish.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



