Tekanan terhadap harga Bitcoin terbaru kembali menjadi sorotan setelah sejumlah indikator makro dan data on-chain menunjukkan pergeseran likuiditas global.
Data pasar Kalshi mencatat peluang 35 persen Bitcoin turun di bawah US$90.000, sementara di sisi lain, analis on-chain menilai kondisi likuiditas justru sedang kembali menguat.
Meski volatilitas meningkat, Bitcoin pada Kamis (13/11/2025) masih diperdagangkan di sekitar US$102.045, naik 0,63 persen dalam empat jam terakhir.
Laporan terbaru XWIN Research Japan mengungkap bahwa pelemahan dolar AS selama 2025 menjadi faktor utama yang menopang ketahanan Bitcoin meskipun aksi jual meningkat.

Indeks Dolar (DXY) telah melemah sekitar 8 persen secara year-to-date, sementara korelasi antara keduanya berada di kisaran –0,52, menegaskan peran Bitcoin sebagai sensor likuiditas global.
“Ketika dolar AS melemah, likuiditas cenderung mengalir kembali ke aset berisiko seperti Bitcoin,” ujar tim riset XWIN.
Likuiditas Stablecoin Menguat, Pasar Mulai Mengisi Ulang Amunisi
Menurut data CryptoQuant, indikator Exchange Supply Ratio (ESR) stablecoin, yang mengukur jumlah stablecoin di bursa dibanding total pasokan, melonjak ke 0,457, level tertinggi sejak awal 2025.

Lonjakan ini menandakan investor menyimpan likuiditas siap pakai, bukan menarik modal keluar dari ekosistem kripto. Kondisi tersebut kerap menjadi sinyal awal dimulainya fase akumulasi baru.
XWIN Research menilai pola ini sejalan dengan tren historis, ketika DXY melemah dan saldo stablecoin di bursa meningkat, pasar umumnya memasuki fase persiapan menuju reli besar.
Meski terdapat potensi koreksi jangka pendek, pola ini disebut menunjukkan bahwa pasar sedang “mengisi ulang likuiditas” sebagai modal rotasi kapital berikutnya menuju Bitcoin.
Di sisi lain, ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS ikut membentuk arah harga Bitcoin terbaru. Pasar mulai mem-price in peluang penurunan real yields dan potensi pelonggaran moneter pada 2026, dua faktor yang biasanya menguntungkan aset berisiko.
Divergensi antara DXY dan Bitcoin disebut menggambarkan transisi menuju rezim likuiditas yang lebih longgar.
Aksi Whale Berbalik Arah, BTC Tetap Bertahan di Atas US$100.000
Sementara indikator likuiditas menunjukkan penguatan, tekanan lain datang dari perilaku investor besar.
Analis kripto Ali Martinez melaporkan bahwa sejak 28 Oktober, kelompok whale beralih dari fase akumulasi menjadi distribusi, menjual lebih dari 80.000 BTC sejauh ini.
Pergeseran ini menambah tekanan jangka pendek terhadap pergerakan harga Bitcoin terbaru, terutama ketika pasar berada pada zona sensitif di atas US$100.000.
Namun, ketahanan Bitcoin di atas level psikologis utama menunjukkan bahwa aksi jual whale tidak sepenuhnya membalikkan tren yang ada.
Dalam konteks likuiditas yang sedang membangun, analis menilai tekanan distribusi kemungkinan hanya bersifat sementara, terutama jika saldo stablecoin yang tinggi kembali mengalir ke aset kripto.
Di tengah ketidakpastian pasar, data on-chain memperlihatkan bahwa mayoritas pelaku pasar belum keluar dari ekosistem. Sebaliknya, mereka menyimpan modal dalam bentuk stablecoin untuk memanfaatkan peluang berikutnya.
Sementara itu, proyeksi penurunan dolar AS dan meningkatnya potensi pelonggaran kebijakan moneter memberi ruang bagi Bitcoin untuk kembali memperoleh momentum kenaikan.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



