Pergerakan harga Bitcoin dalam beberapa waktu terakhir memang membuat banyak orang gelisah. Setelah sempat pulih dan menyentuh US$110.000 pada awal November, BTC kini kembali merosot di bawah level tersebut dan terus melemah mendekati US$87.000.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: ke mana arah pergerakan harga Bitcoin selanjutnya? Apakah ada peluang untuk rebound, atau justru berpotensi mengalami penurunan yang lebih dalam?
Bitcoin Bisa Terperosok ke US$74.500, Akhir Siklus Bullish?
QCP Group pada Senin (17/11/2025) mencatat pada analisisnya bahwa penembusan di bawah moving average 50-minggu serta penutupan mingguan di bawah US$100.000 untuk pertama kalinya sejak Mei telah memicu sikap pasar yang jauh lebih hati-hati dan secara bersamaan mendekati akhir siklus empat tahunan.
“Dalam ruang pasar yang sering digerakkan oleh narasi, pembicaraan tentang siklus empat tahun yang semakin mendekati akhir justru menambah sentimen bearish yang sudah berlangsung,” jelas mereka.
Saat ini, BTC berada tepat di atas support US$92.000, area kuat pada akhir 2024 dan awal 2025. Level ini bertepatan dengan CME gap yang belum tertutup, membuka peluang rebound. Namun, suplai berat di area atas dan minimnya likuiditas bisa membatasi kekuatan rebound.
Begini Pandangan CEO Bitwise dan Robert Kiyosaki Soal Kondisi Pasar Kripto Terkini
Dari sisi makro, pemerintah AS yang kembali beroperasi membuat rilis data yang tertunda akan mulai keluar pekan ini. Pasar saham sudah defensif, dengan VIX bertahan di atas 20. Laporan pekerjaan September pada Kamis menjadi fokus karena data inflasi Oktober dan November masih belum tersedia.
Pasar opsi kripto mulai menunjukkan tanda-tanda kewaspadaan. Volatilitas jangka pendek BTC mendekati level kritis, sementara permintaan opsi Put meningkat tajam, menandakan pasar kripto mulai condong ke fase bearish.
“Volatilitas BTC untuk jangka pendek kini berada di atas level 50, dan skew masih condong kuat ke arah opsi Put, menandakan tingginya permintaan lindung nilai terhadap risiko penurunan harga,” sebagaimana tercantum pada laporan tersebut.
Bitcoin Kehilangan Support Kunci, Tren Berbalik Bearish
Pandangan QCP Group sejalan dengan analis lain. Dalam analisis teknikal yang diunggah pada hari yang sama, Jelle menekankan bahwa Bitcoin menembus di bawah klaster MA/EMA 50-minggu, memperkuat narasi tren bearish.
“Bitcoin kembali di bawah klaster MA/EMA 50-minggu untuk pertama kalinya sejak harga BTC berada di level US$22.000. Tren resmi telah hilang,” jelasnya.

Support kunci saat ini berada di US$92.000–US$88.000. Jika gagal bertahan, tekanan turun bisa meningkat hingga US$74.500. Support sebelumnya di US$100.000 kini berubah menjadi resistance terdekat setelah penembusan MA/EMA.
Indikator teknis menunjukkan tekanan jual kuat, rebound jangka pendek terbatas, dan resistance terdekat berada di level MA/EMA yang baru ditembus. Tren jangka menengah kini jelas bearish, dengan fokus pasar pada pengujian support dan potensi konsolidasi.
Selain Jelle dan QCP Group, Matrixport juga menyoroti support penting di US$93.000. Mereka mencatat banyak posisi long telah dilikuidasi. Dengan Bitcoin yang mendekati level ini, likuiditas bisa menipis, dan sebagian investor terpaksa menyesuaikan posisi mereka.
“Posisi bullish Q4 di pasar futures yang sebelumnya ramai kini telah runtuh, menyisakan pemegang ETF sebagai sumber ketidakseimbangan dan berpotensi menjadi kelompok berikut yang harus menyesuaikan eksposur,” jelas Matrixport.

Sinyal Sell BTC dari SuperTrend
Analisis harga Bitcoin terbaru yang menyoroti tren bearish juga datang dari analis ternama Ali Martinez. Ia mencatat bahwa grafik SuperTrend 1-minggu kini menunjukkan sinyal sell, pertama kali sejak sinyal besar pada 2022 yang berujung pada koreksi sekitar 67 persen.
Bitcoin kini menembus di bawah support SuperTrend, menandakan pergeseran momentum ke bearish. Candle terakhir menolak kuat di zona US$110.000–US$115.000, yang kini menjadi resistance utama, sementara tekanan jual meningkat setelah higher-high gagal berlanjut.
Support pertama berada di US$92.000–US$88.000, menjadi “line in the sand” untuk tren naik jangka panjang. Jika gagal bertahan, zona berikutnya di US$78.000–US$82.000, historisnya menjadi area konsolidasi dan demand kuat pada pertengahan 2024.

Sinyal jual ini menegaskan tren makro melemah. Trader biasanya menghindari buy, fokus melindungi modal, dan mencari peluang short atau hedge di timeframe lebih kecil. Dengan kondisi ini, prioritas bergeser dari mencari posisi beli menjadi menunggu struktur baru dan memastikan risiko terkendali.
Secara keseluruhan. Bitcoin kini berada di persimpangan penting. Pantulan jangka pendek masih mungkin, namun risiko penurunan lebih dominan. Pekan ini, rilis data AS akan menjadi katalis utama yang menentukan arah tren BTC selanjutnya.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



