Apa Itu Robinhood Chain? Kenalan Sama L2 Baru yang Lagi Viral!

Robinhood Chain adalah jaringan blockchain Layer 2 yang dibangun Robinhood di atas teknologi Arbitrum untuk menghadirkan perdagangan saham tokenisasi dan layanan keuangan blockchain selama 24 jam penuh.

Kalau kamu mengikuti berita kripto belakangan ini, nama Robinhood Chain pasti sering muncul di timeline kamu. Wajar saja, sebab platform trading yang sudah dikenal luas oleh investor ritel di Amerika Serikat ini baru saja resmi meluncurkan blockchain miliknya sendiri.

Buat kamu yang penasaran apa sebenarnya Robinhood Chain, teknologi apa yang dibawanya, dan kenapa jaringan ini jadi perbincangan hangat di komunitas kripto, yuk simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

BACA JUGA: Apa Itu Aster Chain? Ini Fitur dan Teknologi Di Baliknya!

Apa Itu Robinhood Chain?

Robinhood Chain adalah blockchain Layer 2 (L2) permissionless yang dirancang khusus untuk layanan keuangan dan aset dunia nyata yang ditokenisasi (tokenized real-world assets). Melansir laman resmi Robinhood, jaringan ini dibangun agar siapa saja bisa mengakses, mentransfer, atau membangun aplikasi di atasnya tanpa perantara maupun keterikatan pada satu platform tertentu.

Secara teknis, Robinhood Chain merupakan jaringan Layer 2 dari Ethereum yang dibangun menggunakan teknologi Arbitrum.

Melansir laman Yahoo Finance, jaringan ini resmi diluncurkan dan memungkinkan sekitar 28 juta pengguna Robinhood untuk memperdagangkan saham AS yang sudah ditokenisasi secara 24/7 di lebih dari 120 negara. Jadi, kamu bisa membayangkan Robinhood Chain sebagai jembatan yang menghubungkan dunia trading saham tradisional dengan infrastruktur blockchain modern. Tak heran, performa jaringan ini berhasil tumbuh dengan cepat sejak pertama kali peluncurannya.

Performa Robinhood Chain
Performa Robinhood Chain. DefiLlama

Yang membuat peluncuran ini terasa signifikan adalah perjalanannya yang cukup terukur. Melansir laman Coindesk, Robinhood Chain awalnya diperkenalkan dalam bentuk testnet publik pada Februari 2026, lalu resmi masuk mainnet publik pada awal Juli 2026 dalam acara bertajuk “The World is Flat” di London.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Selama masa testnet saja, jaringan ini sudah memproses lebih dari empat juta transaksi hanya dalam minggu pertama, menandakan antusiasme developer yang cukup tinggi terhadap ekosistem ini.

BACA JUGA:  XRP Bidik Pasar Indonesia, OJK Siap Buka Jalan!

Teknologi di balik Robinhood Chain

Robinhood tidak membangun blockchain-nya dari nol. Melansir laman Yahoo Finance, Robinhood Chain menggunakan tumpukan teknologi (tech stack) milik Arbitrum, yang membuat proses pengembangan jadi jauh lebih efisien dibanding harus merancang seluruh infrastruktur secara mandiri.

Sebagai gantinya, ada mekanisme berbagi nilai antara kedua ekosistem, sepuluh persen dari biaya protokol bersih yang dihasilkan di Robinhood Chain akan dialirkan kembali ke ekosistem Arbitrum, dengan delapan persen di antaranya masuk ke treasury yang dikendalikan oleh pemegang token ARB.

Karena berstatus Layer 2 dari Ethereum, keamanan transaksi di Robinhood Chain pada akhirnya tetap bertumpu pada Ethereum sebagai lapisan dasar (settlement layer). Jaringan ini dikembangkan di atas infrastruktur Layer 2 Arbitrum yang menawarkan throughput tinggi dengan waktu blok sekitar 100 milidetik, sambil tetap mewarisi standar keamanan Ethereum.

Satu hal menarik lainnya, Robinhood menyebut jaringan ini sebagai blockchain yang “AI-native”. Istilah ini merujuk pada agen software otonom atau AI agent yang dirancang menjadi salah satu kelompok pengguna utama di jaringan tersebut.

Robinhood memang sudah lebih dulu membuka platform trading sahamnya untuk AI agent sejak akhir Mei, dan langkah berikutnya adalah memperluas kemampuan ini ke perdagangan kripto, opsi, hingga futures di Robinhood Chain.

BACA JUGA: 10 Tempat Beli Memecoin Terbaik 2026 yang Bisa Kamu Coba!

Bagaimana Cara Kerja Robinhood Chain

Di level pengguna, Robinhood Chain bekerja dengan menghadirkan produk bernama Stock Token, yaitu representasi tokenisasi dari saham-saham AS yang bisa kamu perdagangkan secara langsung melalui Robinhood Wallet.

Perlu dicatat, Stock Token ini secara struktur merupakan surat utang (debt securities) yang diterbitkan oleh Robinhood Assets, bukan kepemilikan saham secara langsung, sehingga pemegangnya tidak mendapatkan hak sebagai pemegang saham resmi seperti hak suara di RUPS.

Token-token ini tidak hanya bisa diperdagangkan, tapi juga dapat digunakan sebagai agunan (collateral) dalam berbagai aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi), termasuk dimasukkan ke dalam lending pool untuk mendapatkan imbal hasil.

Robinhood Chain sejak awal sudah menggandeng sejumlah mitra strategis, mulai dari Uniswap yang menghadirkan protokol AMM khusus, hingga integrasi dengan Alchemy, BitGo, dan Chainlink untuk mendukung infrastruktur di baliknya.

Selain trading saham tokenisasi, Robinhood juga menghadirkan produk bernama Robinhood Earn, yaitu layanan lending terdesentralisasi yang memungkinkan pengguna meminjamkan stablecoin USDG milik Robinhood dengan estimasi imbal hasil sekitar tujuh persen.

Robinhood Wallet yang sudah diperbarui juga kini terhubung dengan platform Lighter untuk akses ke perdagangan perpetual futures di beberapa yurisdiksi tertentu.

BACA JUGA: 10 Aplikasi Beli Bitcoin di Indonesia Terbaik & Terpercaya 2026

Keunggulan Robinhood Chain Dibanding Jaringan Lain

Kalau dibandingkan dengan blockchain lain yang juga fokus pada tokenisasi aset, Robinhood Chain punya beberapa keunggulan yang cukup mencolok. Yang pertama dan paling jelas adalah basis pengguna yang sudah sangat besar.

Robinhood memiliki puluhan juta pengguna aktif yang sebelumnya sudah terbiasa bertransaksi di platformnya, sehingga adopsi Robinhood Chain berpotensi jauh lebih cepat dibanding jaringan baru yang harus membangun basis pengguna dari nol.

Selain itu, kombinasi antara infrastruktur institutional-grade dan kecepatan transaksi tinggi ala Arbitrum membuat Robinhood Chain punya fondasi teknis yang solid untuk menangani volume transaksi keuangan dalam skala besar.

Jaringan ini juga dirancang permissionless, artinya siapa pun tetap bisa membangun aplikasi di atasnya tanpa harus mendapatkan izin khusus dari Robinhood, meski aset intinya tetap dikelola oleh entitas resmi perusahaan.

Fokus pada narasi AI-native juga menjadi pembeda tersendiri. Di tengah tren agen AI yang mulai bertransaksi secara otonom, Robinhood memposisikan dirinya lebih siap dibanding kompetitor karena sudah lebih dulu membuka akses trading untuk AI agent.

Kombinasi antara basis pengguna besar, dukungan tokenisasi aset dunia nyata, dan orientasi ke agen AI inilah yang membuat banyak pihak menilai kehadiran Robinhood Chain bisa menjadi pesaing serius bagi jaringan seperti Solana maupun Ethereum di segmen aset tokenisasi.

Meski begitu, penting untuk kamu ingat bahwa produk seperti Stock Token tetap membawa risiko tersendiri, terutama karena statusnya sebagai surat utang dan bukan kepemilikan saham langsung. Sebelum terjun lebih jauh, ada baiknya kamu memahami dulu mekanisme dan risikonya secara menyeluruh.

BACA JUGA:  10 Kripto Layer-2 yang Layak Dipantau Akhir Juni 2026, Ada Favoritmu?

Jadi, Apakah Robinhood Chain Layak Kamu Pantau?

Robinhood Chain hadir sebagai blockchain Layer 2 yang dibangun di atas teknologi Arbitrum, dengan fokus utama pada tokenisasi saham dan aset dunia nyata yang bisa diakses selama 24 jam. Didukung oleh basis pengguna Robinhood yang sangat besar, jaringan ini punya peluang besar untuk mempercepat adopsi keuangan blockchain, apalagi dengan tambahan narasi AI-native yang sedang naik daun.

Namun seperti produk kripto lainnya, tetap ada risiko dan detail teknis yang perlu kamu pahami sebelum ikut terjun, terutama soal status hukum Stock Token yang berbeda dari kepemilikan saham biasa.

Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait