Bayangkan kamu punya Solana atau Ethereum yang hanya tersimpan di wallet tanpa menghasilkan apa-apa. Sayang, bukan? Di sinilah staking crypto menjadi solusi cerdas. Alih-alih aset digital kamu hanya “nganggur“, kamu bisa membuatnya bekerja untuk menghasilkan passive income secara konsisten. Yuk, pelajari selengkapnya di bawah ini!
BACA JUGA:Â Apa Itu DYOR Crypto? Ini Penjelasan dan Cara Melakukannya!
Apa Itu Staking Crypto?
Staking crypto adalah proses mengunci aset cryptocurrency untuk mendukung keamanan jaringan blockchain, dengan imbalan berupa token tambahan.
Proses ini mirip deposito bank, kamu hanya perlu mengunci sejumlah asset dalam waktu tertentu, lalu mendapatkan reward, tapi dengan potensi return yang jauh lebih menarik.
Staking juga jauh lebih ramah pemula bagi para investor yang ingin mendapatkan keuntungan dari aset kripto miliknya. Alih-alih trading yang mengharuskan pemantauan grafik terus menerus, maupun mining yang memerlukan alat khusus, staking hanya memerlukan sejumlah aset dan menguncinya di dalam protokol.
BACA JUGA: 6 Strategi Staking untuk Pemula Buat Kamu yang Masih Bingung!
Mengapa Staking Crypto Semakin Diminati?
Sejak Ethereum melakukan transformasi besar dari Proof-of-Work ke Proof-of-Stake pada 2022, staking mengalami lonjakan popularitas yang signifikan. Data Token Terminal menunjukkan nilai total aset yang di-stake pada platform staking terpopuler mencapai lebih dari US$40 miliar pada awal 2026.

Ada beberapa alasan kuat mengapa staking crypto menjadi pilihan favorit investor:
- Pertama, investor mencari cara memaksimalkan return dari aset yang mereka miliki. Daripada sekadar menyimpan crypto dan berharap harganya naik, staking memberikan penghasilan tambahan yang terukur.
- Kedua, staking memberikan utilitas nyata pada cryptocurrency kamu. Aset yang sebelumnya hanya terparkir di wallet kini bisa berkontribusi langsung pada keamanan dan operasional blockchain.
- Ketiga, aksesibilitasnya sangat tinggi. Kamu tidak perlu menjadi ahli teknologi atau punya modal besar untuk memulai. Banyak platform staking yang user-friendly dan cocok untuk pemula.
BACA JUGA: 10 Aset Kripto Untuk Staking Terbaik Pada Tahun 2026!
Perbedaan Staking vs Mining
Banyak pendatang baru di dunia crypto yang masih bingung membedakan staking dengan mining. Padahal, keduanya punya perbedaan fundamental yang perlu kamu pahami sebelum memutuskan mana yang tepat.
Mining: Proof-of-Work (PoW)
Mining adalah proses validasi transaksi menggunakan kekuatan komputasi tinggi. Bitcoin menggunakan mekanisme Proof-of-Work ini, di mana para penambang (miner) bersaing memecahkan puzzle kriptografi kompleks menggunakan hardware khusus.
Kelemahannya cukup signifikan untuk investor pemula:
- Membutuhkan investasi hardware ASIC atau GPU yang mahal, bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah
- Konsumsi listrik sangat tinggi, bikin tagihan listrik membengkak
- Menghasilkan panas berlebih yang butuh sistem pendinginan memadai
- Kompetisi sangat ketat, membuat individu kecil kesulitan mendapat profit
Staking: Proof-of-Stake (PoS)
Sebaliknya, staking menggunakan mekanisme Proof-of-Stake yang jauh lebih efisien. Validator dipilih berdasarkan jumlah coin yang mereka stake (pegang, simpan, dan tahan), bukan berdasarkan kekuatan komputasi. Ini membuatnya lebih ramah lingkungan dan hemat energi.
- Keunggulan staking yang membuat banyak orang beralih:
- Investasi awal jauh lebih rendah, cukup beli cryptocurrency dan mulai stake
- Konsumsi energi minimal, hanya butuh koneksi internet stabil
- Tidak perlu hardware khusus atau ruangan ber-AC, tapi spek komputer server yang spesifik, tapi relatif lebih murah dibandingkan di PoW.
- Bisa dilakukan siapa saja, termasuk pemula yang baru terjun ke dunia crypto
Cara Kerja Staking
Staking bekerja dengan cara kamu mengunci cryptocurrency untuk membantu memvalidasi transaksi di blockchain, dan sebagai imbalannya kamu mendapat reward secara berkala. Semakin banyak yang kamu stake, semakin besar peluang mendapat reward.
Bayangkan kamu menjadi “penjamin” dalam sistem blockchain. Ketika kamu melakukan staking, aset crypto kamu akan dikunci dalam jaringan untuk mendukung proses validasi transaksi.
Berbeda dengan mining yang mengandalkan kompetisi kekuatan komputasi, staking menggunakan prinsip sederhana, validator dengan jumlah coin yang lebih banyak memiliki peluang lebih tinggi untuk dipilih memvalidasi blok transaksi. Setiap kali validator berhasil memproses transaksi, mereka, dan kamu sebagai staker akan mendapat reward.
Reward yang kamu terima berasal dari dua sumber utama. Pertama, inflasi token, yaitu pencetakan token baru oleh protokol blockchain sebagai insentif. Kedua, transaction fees atau biaya transaksi yang dibayarkan oleh pengguna jaringan.
Kombinasi keduanya menciptakan passive income yang bisa kamu nikmati secara konsisten, baik harian, mingguan, atau bulanan tergantung blockchain yang kamu pilih. Yang menarik, prosesnya otomatis dan tidak memerlukan intervensi aktif dari kamu setelah aset berhasil di-stake.
BACA JUGA: 10 Platform Staking Terbaik di Indonesia: Mana yang Paling Aman?
Proses Staking Step-by-Step
Untuk memudahkan kamu memulai, berikut langkah-langkah praktis melakukan staking dari awal hingga menerima reward pertama:
1. Pilih Platform dan Siapkan Aset
Langkah pertama, tentukan di mana kamu akan melakukan staking. Kamu bisa menggunakan crypto exchange seperti Bitget, Binance atau Tokocrypto, atau wallet khusus seperti MetaMask.
Pastikan kamu sudah memiliki cryptocurrency yang mendukung staking, misalnya Ethereum, Cardano, atau Solana. Jika belum punya, beli terlebih dahulu di exchange.
2. Deposit dan Kunci Aset Kamu
Setelah aset siap, masuk ke menu staking di platform pilihan kamu. Pilih jenis cryptocurrency yang ingin di-stake, masukkan jumlahnya, lalu konfirmasi. Aset kamu akan dikunci dalam smart contract atau validator pool. Proses ini biasanya hanya butuh beberapa klik.
3. Sistem Otomatis Bekerja untuk Kamu
Setelah aset terkunci, kamu tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Aset kamu akan otomatis membantu validator memproses dan memverifikasi transaksi baru di blockchain. Bayangkan seperti kamu menyetorkan uang di deposito, tinggal tunggu hasilnya.
4. Terima Reward Secara Berkala
Reward akan masuk ke akun kamu secara otomatis sesuai jadwal yang ditentukan blockchain, ada yang harian, mingguan, atau bulanan. Kamu bisa melihat akumulasi reward langsung di dashboard platform staking. Beberapa platform bahkan menawarkan fitur auto-compound, di mana reward otomatis di-stake ulang untuk memaksimalkan keuntungan kamu.
Memahami Lock-up Period
Sebelum mulai staking, ada satu aspek krusial yang harus kamu pahami, yaitu lock-up period atau periode penguncian. Ini berarti aset kamu tidak bisa ditarik selama jangka waktu tertentu, mirip deposito berjangka di bank.
Periode penguncian bervariasi tergantung blockchain yang kamu pilih:
- Ethereum: Tidak ada lock-up fixed, tapi antrian penarikan bisa memakan waktu beberapa hari.
- Solana: Berbasis epoch, sekitar 2-3 hari untuk proses unstake.
- Cardano: Sangat fleksibel, tidak ada lock-up period.
- Polkadot: Unbonding period selama 28 hari.
Bagi kamu yang terbiasa dengan likuiditas tinggi seperti di crypto exchange lokal Indonesia, lock-up period ini perlu menjadi pertimbangan serius. Pastikan kamu hanya mengunci aset yang memang tidak akan kamu butuhkan dalam waktu dekat.
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah volatilitas harga crypto. Meski kamu dapat reward dari staking, jika harga token turun drastis selama periode lock-up, kamu tidak bisa segera menjualnya untuk cut loss.
Siap Memulai Perjalanan Staking Crypto Kamu?
Staking crypto membuka peluang menarik untuk menghasilkan passive income dari aset digital yang kamu miliki. Dengan memahami cara kerja staking, perbedaannya dengan mining, mekanisme Proof-of-Stake, dan konsep lock-up period, kamu kini punya fondasi kuat untuk memulai.
Yang terpenting adalah memilih blockchain dan platform yang sesuai dengan profil risiko serta kebutuhan likuiditas kamu. Mulai dengan jumlah kecil untuk memahami prosesnya, lalu tingkatkan secara bertahap seiring pengalaman dan kepercayaan diri kamu bertambah.
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



