Peretasan Bitget kini membuka pertanyaan yang lebih luas dari sekadar ke mana dana curian bergerak. Nama THORChain ikut terseret setelah protokol itu digunakan kelompok hacker untuk mencuci asetnya.
Jejak Dana Curian Bitget Membawa Nama THORChain
Kasus ini bermula setelah Bitget mengonfirmasi US$387,5 juta aset berpindah ke alamat yang dikendalikan hacker. Setelah itu, sebagian dana mulai bergerak lintas jaringan melalui sejumlah protokol terdesentralisasi.
Pergerakannya kemudian mulai terpetakan. Investigasi Bitquery mencatat sedikitnya 126,71 BTC senilai sekitar US$10,6 juta berasal dari 66 transaksi swap yang melibatkan BNB dan TRX hasil peretasan.
Dari rangkaian transaksi itu, sebagian dana diketahui melewati THORChain dan Chainflip. Alurnya tidak berhenti di sana karena aset terus berpindah jaringan dan berubah bentuk untuk memperumit pelacakan.
AMLBot kemudian melacak dana peretasan Bitget dari jaringan TRON yang diubah menjadi USDT, dipindahkan ke jaringan Ethereum, lalu ditukar menjadi sekitar 145 ETH sebelum akhirnya masuk ke THORChain.
THORChain Jadi Jalur Dana Curian Bitget, Kritik Mulai Berdatangan
Melalui protokol tersebut, aset kembali berubah menjadi sekitar 4,59 BTC. Sebagian Bitcoin itu selanjutnya masuk ke Wasabi CoinJoin, membuat hubungan antara dana masuk dan keluar semakin sulit ditelusuri.
Rangkaian perpindahan inilah yang kemudian menyeret nama THORChain. Protokol tersebut mulai ramai dibahas karena menjadi salah satu jalur yang digunakan kelompok hacker untuk memindahkan dan menyamarkan dana curian.
THORChain Angkat Suara, Halt Bukan Blacklist
Situasi memanas setelah CEO Bitget, Gracy Chen, meminta THORChain menolak alamat yang dikaitkan dengan penyerang. Menurutnya, prinsip desentralisasi tidak semestinya menjadi perlindungan bagi perpindahan aset yang sudah diidentifikasi sebagai hasil pencurian.
THORChain menolak premis bahwa protokolnya dapat membekukan dana tertentu. Dalam tweet yang diunggah pada Senin (28/09/2026), mereka menjelaskan bahwa mekanisme penghentian jaringan dibuat untuk keadaan darurat yang mengancam protokol.
“Penghentian jaringan THORChain merupakan mekanisme keamanan darurat yang dirancang untuk melindungi protokol. Penghentian ini bukanlah pembekuan selektif terhadap dana tertentu ataupun transaksi swap individual,” jelas mereka.
Pernyataan itu sekaligus menjawab kritik mengenai peretasan THORChain pada Mei 2026. Ketika sekitar US$10,7 juta terkuras dari salah satu vault, sistem otomatis dan node operator memang menghentikan sejumlah aktivitas jaringan.
Namun, THORChain menegaskan alamat penyerang ketika itu tidak pernah masuk blacklist dan tetap dapat melakukan swap. Bagi mereka, desain permissionless berarti protokol tidak menyensor pengguna berdasarkan identitas ataupun asal dana.
Bukan Kasus Pertama, Nama THORChain Sudah Beberapa Kali Muncul
Kontroversi Bitget sebenarnya bukan pertama kalinya menyeret THORChain. Dalam peretasan Bybit pada 2025, dana dalam jumlah sangat besar juga dilaporkan bergerak melalui protokol ini ketika pelaku mengubah aset antarjaringan.
Laporan sebelumnya mencatat sekitar 499.000 ETH hasil peretasan Bybit dicuci dalam sepuluh hari, dengan sebagian besar aliran melewati THORChain. Aktivitasnya ikut mendorong volume protokol hingga miliaran dolar.
Rp9,9 Triliun Aset Curian dari Peretasan Bybit Berhasil Dicuci!
Jejak serupa muncul pada kasus KelpDAO pada April 2026. Setelah memperoleh ETH yang lebih likuid, pelaku memecah dana ke banyak wallet dan menggunakan jalur lintas chain, termasuk THORChain.
Bahkan pada kasus kebocoran data Coinbase pada 2025, ZachXBT melacak US$42,5 juta BTC yang dialihkan menjadi ETH melalui THORChain. Polanya hampir sama, yakni mengganti aset sekaligus berpindah jaringan.
Hal pentingnya, THORChain bukan mixer seperti Tornado Cash, juga bukan mekanisme privasi seperti CoinJoin. Protokol ini tidak otomatis menghapus jejak transaksi, tetapi swap lintas blockchain dapat membuat pelacakan jauh lebih kompleks.
Apa Itu THORChain?
Setelah melihat namanya berkali-kali muncul dalam kasus peretasan, pertanyaan berikutnya cukup sederhana: sebenarnya apa itu THORChain, dan mengapa protokol ini menjadi favorit peretas?
Secara sederhana, THORChain adalah protokol likuiditas lintas blockchain sekaligus DEX. Pengguna bisa menukar aset native dari beberapa jaringan tanpa harus memindahkannya lebih dahulu ke bursa terpusat.
Bisa Dibayangkan seperti Terminal Transit Kripto
Bayangkan THORChain seperti terminal transit untuk kripto. Seseorang bisa datang membawa BTC dari jaringan Bitcoin, kemudian keluar membawa ETH di Ethereum tanpa perlu membuat akun baru di sebuah exchange.
Bedanya, tidak ada satu perusahaan yang berdiri sebagai kasir utama. Pertukaran dijalankan melalui node, liquidity pool, serta vault yang bekerja bersama untuk memproses perpindahan aset.

Beberapa fungsi utama THORChain dapat disederhanakan seperti berikut:
- Menukar aset lintas blockchain. Pengguna bisa menukar BTC menjadi ETH, LTC, DOGE, atau aset lain yang didukung tanpa mengubah semuanya menjadi token wrapped.
- Tidak membutuhkan akun terpusat. Pengguna cukup menghubungkan wallet dan melakukan transaksi, sehingga prosesnya berbeda dengan crypto exchange.
- Menggunakan aset native. BTC yang masuk berasal dari jaringan Bitcoin dan aset tujuan juga dikirim melalui jaringan aslinya, bukan sekadar representasi token di blockchain lain.
Fitur inilah yang membuat THORChain menarik bagi pengguna DeFi. Namun, karakter permissionless yang sama juga membuat protokol dapat digunakan siapa saja, termasuk alamat yang dikaitkan dengan aktivitas kriminal.
Bagaimana Cara Kerja THORChain?
Di balik tampilan swap crypto yang sederhana, THORChain menjalankan beberapa proses sekaligus. Pengguna hanya menentukan aset yang ingin dikirim dan diterima, sedangkan jaringan mengurus proses pertukarannya di belakang layar.
Liquidity Pool Menjadi Jembatan Utama
Misalnya seseorang ingin menukar BTC menjadi ETH. BTC masuk ke infrastruktur THORChain, kemudian sistem menggunakan likuiditas yang tersedia untuk menghitung dan mengeksekusi pertukaran menuju ETH.
Di dalam sistem terdapat token RUNE yang berperan sebagai aset penghubung utama. Secara sederhana, jalur BTC ke ETH dapat diproses melalui hubungan BTC-RUNE dan RUNE-ETH di belakang layar.
Pengguna tidak harus membeli atau menyimpan RUNE. Seluruh proses penghubung dilakukan otomatis oleh protokol, sementara pengguna pada akhirnya hanya melihat BTC keluar dan ETH masuk.
Vault dan Node Mengurus Aset Native
THORChain juga memiliki vault yang menyimpan aset dari berbagai jaringan. Pengelolaannya tidak bergantung pada satu pihak, tetapi dilakukan kolektif menggunakan sistem kriptografi oleh kumpulan node jaringan.
Ketika transaksi selesai, jaringan mengirim aset tujuan dari vault yang sesuai. Mekanisme ini memungkinkan pengguna menerima aset native tanpa perlu mengandalkan satu kustodian kripto terpusat sebagai perantara.
Alurnya secara bisa dibayangkan seperti ini:
- Pengguna mengirim BTC. Transaksi masuk dari jaringan Bitcoin menuju alamat yang dikendalikan sistem THORChain, lengkap dengan instruksi mengenai aset apa yang ingin diterima sebagai hasil pertukaran.
- THORChain memproses pertukaran. Likuiditas di dalam protokol digunakan untuk menentukan jumlah aset tujuan, sementara RUNE bekerja sebagai aset penghubung dalam mekanisme pertukaran antar-pool.
- ETH dikirim ke pengguna. Setelah pertukaran selesai, jaringan mengeluarkan ETH dari vault Ethereum dan mengirimkannya ke wallet address yang sudah ditentukan pengguna sebelumnya.
Desain tersebut menjelaskan mengapa THORChain sering muncul ketika dana bergerak lintas blockchain. Pelaku tidak harus mengirim aset ke bursa terpusat yang memiliki akun, identitas pengguna, dan mekanisme pembekuan dana.

Namun, THORChain juga bukan alat yang membuat transaksi anonim. Seluruh aktivitas tetap meninggalkan jejak on-chain, meskipun perpindahan berulang antarjaringan dapat membuat proses investigasi menjadi lebih kompleks.
Pada akhirnya, kasus peretasan Bitget kembali memunculkan dilema lama dalam dunia DeFi. Infrastruktur terbuka memberikan kebebasan besar bagi pengguna, tetapi sifat yang sama juga dapat dimanfaatkan pihak yang berniat buruk.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


