Nama THORChain beberapa kali ikut muncul dalam penelusuran dana peretasan kripto. Mulai dari Bybit pada 2025 hingga Bitget dan Binance pada 2026, sebagian aset curian tercatat sempat bergerak melalui protokol lintas blockchain tersebut.
Namun, THORChain bukan celah yang digunakan untuk membobol ketiga crypto exchange tersebut. Namanya muncul setelah pencurian terjadi, ketika hacker mulai memindahkan dan menukar aset dari satu blockchain ke blockchain lainnya.
Di balik proses tersebut ada komponen penting bernama THORNode. Sistem inilah yang membantu THORChain memantau aktivitas di berbagai blockchain, memvalidasi transaksi, mencapai konsensus hingga mengirim aset ke tujuan.
Apa Itu THORNode di THORChain?
Secara sederhana, THORNode adalah infrastruktur node yang membantu menjalankan dan mengamankan THORChain. Node ini dioperasikan oleh operator dan bekerja bersama node lain secara terdesentralisasi.
THORChain sendiri merupakan protokol likuiditas lintas blockchain yang memungkinkan pengguna menukar aset native seperti BTC dan ETH tanpa harus menggunakan wrapped token.
Apa Itu THORChain yang Dipakai Peretas Bitget untuk Mencuci Uang?
Karena beroperasi di banyak blockchain, THORChain membutuhkan sistem yang tidak hanya mengawasi jaringannya sendiri. THORNode perlu memantau aktivitas di Bitcoin, Ethereum dan blockchain lain yang didukung.
Kalau THORChain dianalogikan sebagai terminal transit kripto, THORNode bisa dianggap sebagai gabungan petugas operasional, penjaga keamanan dan juga menara kontrolnya.
Mereka membantu memastikan aset benar-benar telah masuk, transaksi memperoleh persetujuan jaringan, dan aset tujuan dikirim ke alamat yang benar.
Apa yang Dikerjakan THORNode?
THORNode menjalankan beberapa fungsi penting sekaligus. Sistem ini tidak hanya membantu memvalidasi jaringan THORChain, tetapi juga memantau aktivitas di berbagai blockchain yang terhubung.
Secara sederhana, tugas THORNode meliputi:
- Memvalidasi transaksi dan blok di jaringan THORChain.
- Memantau blockchain lain, seperti Bitcoin dan Ethereum melalui full node masing-masing.
- Mendeteksi aset yang masuk ke vault THORChain.
- Membantu memproses transaksi keluar, sehingga aset hasil swap dapat dikirim kepada pengguna.
- Mengamati kondisi jaringan, termasuk biaya transaksi, saldo vault dan aktivitas blockchain eksternal.
Salah satu komponen penting dalam proses tersebut adalah Bifrost. Modul ini berfungsi sebagai penghubung antara THORChain dan blockchain lain.
Bifrost membaca transaksi yang masuk dari jaringan seperti Bitcoin atau Ethereum, lalu meneruskan informasi tersebut ke THORChain. Modul ini juga ikut menyiapkan transaksi keluar ketika aset hasil pertukaran perlu dikirim kepada pengguna.
Karena setiap jaringan blockchain memiliki cara kerja berbeda, Bifrost menggunakan chain client yang disesuaikan untuk masing-masing jaringan.
Bagaimana Cara Kerja THORNode?
Setelah memahami tugasnya, cara kerja THORNode paling mudah dilihat melalui contoh sederhana. Misalnya, seseorang ingin menukar BTC menjadi ETH menggunakan THORChain.
Contoh Swap BTC Menjadi ETH
Secara garis besar, prosesnya berjalan seperti berikut:
- Pengguna mengirim BTC. Bitcoin dikirim menuju alamat vault THORChain dengan instruksi mengenai aset yang ingin diterima.
- THORNode mendeteksi transaksi. Bifrost yang terhubung ke full node Bitcoin melihat adanya transaksi masuk menuju vault.
- Node mencapai kesepakatan. Sedikitnya 67 persen node aktif perlu melaporkan transaksi yang sama sebelum pengamatan dianggap mencapai konsensus.
- THORChain memproses pertukaran. Setelah transaksi dianggap final, protokol menjalankan swap berdasarkan likuiditas yang tersedia.
- ETH dikirim kepada pengguna. Kelompok node bekerja bersama untuk menandatangani transaksi keluar dari vault menuju wallet tujuan.

Tahap terakhir menggunakan Threshold Signature Scheme atau TSS. Mekanisme ini membuat aset di dalam vault tidak bergantung pada satu private key yang dipegang satu pihak.
Cara kerjanya menyerupai multisig. Tidak ada satu node yang memegang private key lengkap untuk memindahkan aset sendirian. Sebaliknya, sejumlah node harus bekerja bersama untuk menandatangani transaksi.
Sederhananya, bayangkan sebuah brankas yang tidak bisa dibuka oleh satu penjaga saja. Beberapa penjaga harus memberikan persetujuan sebelum aset di dalamnya dapat keluar.
Kenapa THORChain Sering Muncul dalam Peretasan Kripto?
Kemampuan untuk menukar aset langsung antar-blockchain juga menjelaskan mengapa nama THORChain beberapa kali muncul ketika investigator melacak pergerakan dana hasil peretasan.
Beberapa kasus peretasan kripto yang cukup menarik perhatian antara lain:
- Bybit, Februari 2025. Hacker mencuri aset senilai lebih dari US$1,4 miliar. Lookonchain kemudian melaporkan hampir seluruh 499.395 ETH yang dicuri telah dicuci, dengan THORChain menjadi salah satu jalur yang digunakan.
- Bitget, September 2026. Penelusuran Bitquery menemukan sedikitnya 126,71 BTC senilai sekitar US$10,6 juta berasal dari 66 transaksi swap terkait aset curian, dengan sebagian aliran melewati THORChain dan Chainflip.
- Binance, Oktober 2026. Investigator ZachXBT menemukan sebagian dana yang terkait dengan kasus Binance dan Bitget akhirnya bercampur pada alamat yang sama setelah sebelumnya bergerak melalui THORChain.
Namun, bukan berarti THORNode digunakan untuk membobol Bybit, Bitget ataupun Binance. Dalam ketiga kasus tersebut, THORChain baru muncul setelah pencurian terjadi, ketika hacker mulai memindahkan atau menukar aset ke blockchain lain.
THORNode pada dasarnya tetap menjalankan tugas normalnya, mulai dari mendeteksi transaksi masuk, mencapai konsensus hingga memproses pertukaran lintas-chain sesuai aturan protokol.
7 Peretasan Kripto Sepanjang 2026, Kerugiannya Tembus Rp157 Triliun!
Karakter permissionless inilah yang membuat THORChain menarik bagi hacker. Mereka tidak perlu membuka akun di bursa terpusat untuk menukar aset native dari satu blockchain ke blockchain lainnya.
Kenapa Operator THORNode Harus Mengunci RUNE?
Karena THORNode ikut memegang peran penting dalam mengamankan aset dan memproses transaksi, THORChain tidak hanya mengandalkan kriptografi. Operator harus menempatkan token RUNE sebagai bond atau jaminan sebelum bisa menjadi validator aktif.
Konsepnya mirip uang jaminan. Operator mempertaruhkan modalnya sendiri, sehingga mereka ikut menanggung risiko jika bertindak tidak sesuai aturan jaringan.
Jika node crypto melakukan pelanggaran atau gagal menjalankan tugas tertentu, sebagian RUNE yang dikunci dapat terkena slashing atau pemotongan.
Dokumentasi THORChain mencatat minimum bond sekitar 300.000 RUNE. Namun, jumlah yang dibutuhkan untuk benar-benar masuk ke kelompok validator aktif bisa lebih tinggi karena adanya persaingan antar-node.
Penalti juga dapat diberikan ketika node mengalami masalah. Misalnya, gagal mengamati transaksi yang dilihat node lain atau tidak menandatangani transaksi keluar dapat menghasilkan slash points dan mengurangi pendapatan operator.
Mekanisme ini membuat keamanan THORChain tidak hanya bergantung pada kepercayaan. Operator memiliki insentif finansial untuk tetap online, menjalankan tugas dengan benar dan mengikuti aturan jaringan.
THORNode Juga Terus Berganti
Meski sudah menjadi validator aktif, sebuah THORNode tidak berada di posisi tersebut selamanya. THORChain menggunakan mekanisme bernama churning untuk merotasi node yang masuk dan keluar secara berkala.
Apa Itu Validator dalam Kripto? Ini Pengertian dan Perannya!
Ketika komposisi validator berubah, pengelolaan vault juga dapat berpindah ke kelompok node berikutnya. Proses ini membantu menjaga jaringan tetap terdistribusi sekaligus menyingkirkan node dengan performa buruk.
THORNode sendiri bisa disebut sebagai salah satu mesin utama di balik THORChain. Mereka membantu jaringan memantau transaksi, mencapai konsensus, menjaga vault dan memproses pengiriman aset.
Bagi pengguna, seluruh proses tersebut nyaris tidak terlihat. Namun, di balik satu tombol swap crypto, banyak THORNode sebenarnya sedang bekerja bersama di beberapa blockchain sekaligus.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


