Satu transaksi di jaringan Solana bikin geleng-geleng kepala. Seorang trader menukar aset kripto senilai puluhan miliar rupiah, tetapi hasil swap berikutnya justru menyisakan nilai yang sangat kecil.
Swap Crypto Berakhir Tragis, Rp29 Miliar Lenyap
Berdasarkan data Solscan per Rabu (09/09/2026), transaksi itu terjadi melalui Raydium pada 8 September 2026. Trader menukar 7.778.169 STONK senilai US$1,67 juta atau sekitar Rp29,46 miliar.
STONK tersebut kemudian ditukar menjadi 15.629.322 OIL melalui Raydium CPMM. Sampai tahap ini, transaksi masih terlihat seperti swap kripto biasa, hanya saja dengan nominal yang sangat besar.
Namun, situasinya berubah drastis pada proses swap crypto yang berikutnya. Sebanyak 15.160.442 OIL kemudian ditukar menjadi hanya 26,745547 RAY dalam rangkaian transaksi yang sama.

Solscan mencatat nilai RAY yang diterima hanya US$33,68. Dengan kurs US$1 setara Rp17.650, jumlah tersebut hanya sekitar Rp594 ribu.
Perbandingannya tentu sangat mencolok. Aset senilai sekitar Rp29,46 miliar pada swap awal akhirnya berubah menjadi aset bernilai kurang dari Rp1 juta dalam rangkaian transaksi tersebut.
Yang membuat kejadian ini semakin menarik, kedua proses swap tercatat dalam satu transaksi on-chain. Artinya, seluruh eksekusi berlangsung dalam satu rangkaian transaksi yang sangat cepat.
Slippage dan MEV Jadi Biang Keladi?
Lantas, bagaimana swap senilai US$1,67 juta bisa menghasilkan nilai akhir yang sangat kecil? Salah satu kemungkinan yang perlu diperiksa adalah kondisi likuiditas serta price impact pada pool.
Raydium menggunakan mekanisme automated market maker, termasuk CPMM. Dalam model ini, ukuran transaksi dibandingkan likuiditas yang tersedia dapat sangat memengaruhi harga eksekusi.
Semakin besar transaksi terhadap likuiditas pool, semakin besar pula potensi price impact. Akibatnya, harga eksekusi bisa bergerak jauh dari harga awal yang terlihat sebelum transaksi dilakukan.
Faktor lain yang patut diperhatikan adalah slippage. Jika toleransinya terlalu longgar, transaksi tetap dapat dieksekusi meskipun harga aktual sudah bergerak jauh dari ekspektasi trader.
Aktivitas MEV juga belum bisa dikesampingkan. Salah satu bentuknya adalah sandwich attack, ketika transaksi pengguna diapit transaksi lain untuk mengambil keuntungan dari perubahan harga yang terjadi.
Meski demikian, belum ada bukti yang cukup untuk memastikan adanya MEV. Terlepas dari penyebabnya, kejadian ini menunjukkan betapa berisikonya swap bernilai besar ketika likuiditas tipis atau parameter transaksi tidak ideal.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


