Piala Dunia 2026 tak hanya menyajikan drama di lapangan, tetapi juga di pasar prediksi. Seorang trader Polymarket kehilangan sekitar Rp207 miliar hanya dalam 10 hari setelah mayoritas taruhan yang dipasangnya berakhir gagal.
Win Rate 26,7 Persen, Rp207 Miliar Lenyap dalam 10 Hari
Taruhan olahraga memang selalu menawarkan peluang keuntungan besar. Namun, di balik potensi cuan tersebut, tersimpan risiko kerugian yang tak kalah besar. Hal itulah yang baru saja dialami seorang trader Polymarket dengan nama akun “coldsway”.
Berdasarkan data Polymarket yang dibagikan oleh Lookonchain pada Senin (06/07/2026), trader tersebut membukukan kerugian mencapai US$11,63 juta atau Rp207 miliar. Kerugian fantastis itu terjadi hanya dalam kurun waktu 10 hari, bertepatan dengan berlangsungnya fase gugur Piala Dunia 2026.

Selama periode tersebut, ia memasang 15 taruhan di berbagai pasar pertandingan sepak bola. Sayangnya, hasil yang diperoleh jauh dari ekspektasi. Dari seluruh posisi, 11 taruhan berakhir kalah, sementara hanya empat taruhan yang berhasil mencetak keuntungan.
Catatan tersebut membuat tingkat kemenangan atau win rate hanya menyentuh 26,7 persen. Artinya, hampir tiga dari setiap empat prediksi yang dipasangnya justru meleset, sehingga akumulasi kerugiannya terus membengkak.
Meski mengantongi keuntungan sekitar US$4,23 juta dari empat taruhan yang berhasil, nominal tersebut belum mampu menutup kerugian besar dari sebelas posisi lainnya. Akibatnya, total portofolio trader prediksi tersebut berakhir minus hingga US$11,63 juta.
Taruhan Hampir US$5 Juta Jadi Penyebab Kerugian
Data menunjukkan kerugian terbesar berasal dari taruhan pada pertandingan Maroko pada 4 Juli 2026. Posisi tersebut hangus sepenuhnya dengan nilai hampir US$4,95 juta, menjadikannya taruhan paling mahal yang gagal.
Kerugian besar lainnya juga berasal dari beberapa pertandingan. Trader itu kehilangan sekitar US$3,09 juta pada taruhan Kanada, disusul rugi US$1,95 juta saat bertaruh pada Portugal, serta lebih dari US$1,62 juta pada pertandingan Belgia.
Kerugian belum berhenti sampai di situ. Taruhan pada pertandingan Pantai Gading, Spanyol, hingga Kanada kembali berakhir buntung. Hampir seluruh posisi yang kalah mencatatkan imbal hasil -100 persen, menandakan seluruh modal yang dipasang hangus.
Di tengah rentetan kerugian, trader ini sempat mencetak keuntungan dari empat taruhan. Profit terbesar berasal dari prediksi laga Australia kontra Mesir yang menghasilkan US$1,11 juta, sementara dua taruhan lainnya mencetak laba US$1,07 juta.
Sayangnya, keuntungan tersebut belum cukup untuk menutupi besarnya kerugian dari sejumlah taruhan bernilai jumbo. Secara keseluruhan, trader ini membukukan volume transaksi sekitar US$48,19 juta, mencerminkan strategi perdagangan yang agresif dan berisiko.
Cuan Ratusan Miliar! Ini 10 Trader Prediksi Piala Dunia 2026 Terbaik!
Kasus ini menjadi pengingat bahwa prediction market seperti Polymarket tetap memiliki tingkat risiko yang tinggi, meski berbasis data, probabilitas, dan sentimen pasar. Prediksi yang terlihat meyakinkan belum tentu berakhir sesuai ekspektasi.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


