Arah Pasar Kripto Pasca Kasus Binance, Pelaku Pasar Merasa Lega

Settlement senilai US$4,3 miliar yang dicapai antara Binance dengan otoritas Amerika Serikat pada Selasa lalu menciptakan sedikit komplikasi baru bagi crypto exchange terbesar di dunia itu. Namun, sejumlah pelaku pasar kripto justru merasa lega, karena denda “maha jumbo” itu menghilangkan banyak ketidakpastian yang selama ini menghantui industri.

Pada Selasa (21/11/2023), Binance mengaku bersalah atas tuduhan pidana terkait pencucian uang, menjalankan bisnis pengiriman uang tanpa izin, dan pelanggaran sanksi karena memfasilitasi transaksi kripto dengan negara-negara yang mendapatkan sanksi dari AS.

Changpeng Zhao (CZ) pun setuju untuk mundur dari tampuk kekuasaan sebagai CEO, mengaku bersalah atas pelanggaran persyaratan anti pencucian uang, dan membayar denda sebesar US$50 juta. Namun CZ masih memiliki kendali mayoritas di Binance dan kursi CEO digantikan oleh Richard Teng (RT).

Binance juga akan membayar denda terbesar yang pernah dibayar oleh perusahaan kripto manapun sebesar US$4,3 miliar kepada berbagai lembaga pemerintah Amerika Serikat, dan akan beroperasi dengan pengawas kepatuhan independen selama tiga tahun untuk memastikan memenuhi syarat dalam settlement.

Kasus Binance Mencuat, Pelaku Pasar Justru Merasa Lega

Sebagian pelaku pasar justru merasa lega atas nasib yang menimpa Binance dan CZ.

“Senang rasanya, ketika saya bangun di dunia kripto dan tidak khawatir tentang apa yang akan terjadi dengan Binance. Tahun 2024-2025 akan sangat baik,” kata Matt Hougan, Chief Investment Officer Bitwise, di X, Rabu (22/11/2023).

Hal senada disampaikan oleh analis JPMorgan Chase dalam sebuah catatan khusus, bahwa settlement itu justru mengakhiri potensi risiko sistemik yang mungkin berpangkal dari kejatuhan Binance. Pasalnya Binance tetap beroperasi seperti biasa, berbeda dengan kasus yang menimpa FTX.

Michael Safai dari Dexterity Capital, berpendapat bahwa kasus Binance membuka jalan bagi pasar kripto dan memberikan keyakinan bahwa kelas aset ini sulit diabaikan.

Pergerakan dalam kripto dan saham terkait setelah kasus ini mencerminkan bahwa investor sebagian besar “terbagi”.

Harga kripto BNB milik Binance sendiri turun 13 persen dalam jam-jam setelah pengumuman settlement, tetapi kemudian pulih pada Rabu ketika harga kripto lainnya stabil. Pagi ini, Kamis (23/11/2023) harga Bitcoin dan kripto lainnya larut dalam warna hijau.

Sementara harga Bitcoin naik 1 persen dalam 24 jam setelah pengumuman Binance, sedangkan Ether naik lebih dari 4 persen. Saham bursa kripto besar lainnya, Coinbase (COIN), juga naik lebih dari 3 persen pada hari Rabu dengan harapan bahwa mungkin akan menjadi salah satu pihak yang mendapatkan manfaat dari masalah Binance.

 

Bull ke Depan?

Bitcoin mencapai puncaknya pada US$68.789 pada November 2021, tetapi kemudian mengalami penurunan di tahun 2022 ketika Federal Reserve mulai menaikkan suku bunga dan sejumlah perusahaan mengalami kebangkrutan, termasuk bursa kripto FTX pada November 2022.

Regulator AS pun menggugat sejumlah pemain besar, termasuk Coinbase dan Binance. Bulan ini, juri memvonis pendiri FTX, Sam Bankman-Fried (SBF), atas penipuan terhadap pelanggan, pemberi pinjaman, dan investor. Ia pun terancam penjara selama 115 tahun.

Sekarang, investor kembali optimis bahwa industri ini siap untuk diterima secara lebih luas dan mendapatkan kejelasan regulasi dari Washington.

Mereka berharap bahwa Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) akan segera memberikan persetujuan untuk Spot Bitcoin ETF dan Spot ETH ETF, yang akan memungkinkan investor mendapatkan eksposur terhadap kripto tanpa harus memilikinya.

BlackRock adalah salah satu perusahaan manajemen investasi terkemuka yang baru-baru ini mengajukan permohonan untuk meluncurkan produk semacam itu. Grayscale Investments juga mendorong SEC untuk menyetujui konversi trust Bitcoin-nya menjadi Spot Bitcoin ETF setelah keputusan positif pada Agustus dari panel tiga hakim Pengadilan Banding Distrik Columbia.

Panel tersebut menyimpulkan bahwa SEC telah bersikap sewenang-wenang dan tiba-tiba ketika menolak permohonan konversi Grayscale pada tahun 2022.

Tonggak resmi berikutnya di mana SEC harus menerima atau menolak persetujuan untuk Spot Bitcoin ETF adalah tanggal 10 Januari 2024, meskipun SEC bisa menyetujui permohonan lebih cepat.

Namun, ada beberapa alasan bagi investor untuk tetap waspada. SEC masih memiliki sejumlah gugatan yang tertunda terhadap beberapa nama besar dalam industri ini, termasuk Binance dan Coinbase, ketika mereka mencoba memaksa lebih banyak pemain untuk mendaftar dengan lembaga regulasi dan mengklasifikasikan aset digital sebagai sekuritas. Yang terbaru adalah menimpa Kraken. SEC menyorot crypto exchange itu untuk kesekian kalinya karena memperdagangkan sejumlah kripto yang tergolong “sekuritas tak terdaftar”.

Hal yang pasti adalah bahwa Binance sekarang harus beroperasi dengan pengawasan pemerintah yang sangat ketat yang membatasi ruang gerak perusahaan.

“Dengan kripto menjadi lebih mainstream dan pemain institusional memasuki ruang tersebut, regulasi dan penegakan hukum akan menjadi lebih ketat untuk memastikan kepatuhan dan perlindungan konsumen. Kasus Binance dan otoritas AS dilihat sebagai titik balik yang sama di pertumbuhan awal era industri dot com,” kata Yiannis Giokas, Direktur Senior Aset Digital di Moody’s Analytics, dilansir dari Yahoo Finance.

“Koboi Kripto” Sudah Berlalu

Sementara itu menanggapi kasus Binance ini, Kevin O’Leary, dilansir dari Benzinga, mengatakan bahwa “koboi kripto” sudah berlalu.

“Saya pikir ‘koboi kripto’ terakhir telah pergi menjelang matahari terbenam, bahwa litigasi dan legislasi menjadi perhatian utama tahun ini. Orang-orang tidak menghormati regulator, dan mereka telah mendapatkan pelajara darinya, karena sistem keuangan hanya berfungsi dengan baik dalam lingkungan yang patuh hukum,” kata O’Leary.

Berbeda dengan sebagian besar pelaku pasar yang bersikap positif terhadap akan lahirnya Spot Bitcoin ETF, O’Leary justru lebih berminat membeli kripto secara langsung dan berinvestasi di saham-saham perusahaan terkait kripto.

“Spot Bitcoin ETF tidak akan menjadi produk untuk institusi, karena sejumlah crypto exchange di AS masih bermasalah dengan SEC. Tidak ada institusi yang akan menyentuhnya (ETF-Red), karena Anda membutuhkan crypto exchange yang sangat likuid jika Anda mencoba menciptakan unit ETF,” ujarnya. [ps]

Terkini

Warta Korporat

Terkait