Di tengah investigasi peretasan Binance yang mengguncang industri kripto, Arbitrum mengambil langkah tidak biasa untuk mengamankan aset yang dikuasai penyerang. Jaringan layer-2 Ethereum tersebut menggunakan mekanisme darurat yang memungkinkan dana dipindahkan tanpa membutuhkan tanda tangan dari pemilik wallet terkait.
Langkah ini berhasil mengamankan sekitar 74,56 juta token ARB dan 8.425 ETH, dengan nilai gabungan diperkirakan mencapai US$30,5 juta.
Menariknya, tindakan tersebut bukan sekadar pembekuan token seperti yang dilakukan Tether dan Circle. Arbitrum justru memodifikasi sementara salah satu kontrak infrastruktur jaringan untuk mengeksekusi transaksi atas nama alamat yang dikaitkan dengan hacker Binance.
Berdasarkan pengumuman resmi Arbitrum Security Council, tindakan darurat itu dilaksanakan pada Jumat (30/10/2026) pukul 07.08 WIB, setelah alamat di Arbitrum One diidentifikasi memiliki hubungan dengan eksploitasi Binance.
Arbitrum Gunakan Mekanisme Tak Biasa untuk Amankan Dana
Dalam penjelasan teknisnya, Arbitrum mengungkap bahwa Security Council melakukan perubahan sementara pada kontrak bernama Inbox yang berada di jaringan Ethereum.
Kontrak tersebut merupakan bagian dari infrastruktur yang memungkinkan pesan dan transaksi diteruskan dari Ethereum menuju Arbitrum.
Melalui kewenangan daruratnya, Security Council menambahkan fungsi khusus bernama sendUnsignedTransactionOverride.
Fungsi tersebut memungkinkan pembuatan transaksi lintas jaringan yang meniru identitas pengirim tertentu. Dengan kata lain, sistem dapat menjalankan transaksi seolah-olah berasal dari alamat yang terkait dengan peretas, meskipun alamat tersebut tidak memberikan tanda tangan seperti transaksi biasa.
Arbitrum kemudian menggunakan dua transaksi lintas jaringan untuk memindahkan aset penyerang menuju wallet penampungan khusus.
Setelah seluruh proses selesai, kontrak Inbox langsung dikembalikan ke implementasi sebelumnya.
Prosedur tersebut dilakukan dalam satu rangkaian tindakan atomik, sehingga perubahan kontrak, pemindahan dana, dan pemulihan implementasi awal diproses sebagai satu operasi.
Arbitrum menegaskan bahwa aset pengguna lain maupun aplikasi yang berjalan di jaringannya tidak terdampak.
Dana Hacker Kini Menunggu Keputusan Arbitrum DAO
Seluruh aset yang diamankan dipindahkan ke alamat khusus 0x0000000000000000000000000000000000000DA0 di Arbitrum One.
Alamat tersebut berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara, sehingga wallet yang dikaitkan dengan penyerang tidak lagi dapat mengakses dana tersebut.
Namun demikian, keberhasilan memindahkan aset tidak berarti dana otomatis telah dikembalikan kepada Binance.
Menurut Arbitrum, pemindahan berikutnya hanya dapat dilakukan melalui keputusan tata kelola ArbitrumDAO, dengan proses yang dikoordinasikan bersama pihak-pihak terkait.
Artinya, terdapat perbedaan antara mengamankan aset dari jangkauan pelaku dan menyelesaikan proses pengembalian kepada pihak yang berhak.
Sementara itu, Binance dalam pengumuman keamanan terbarunya memperkirakan total dampak insiden mencapai US$6,3 miliar, dengan sekitar US$3 miliar aset terkait telah dibekukan secara on-chain.
Binance juga menegaskan akan menanggung seluruh kerugian melalui dana SAFU dan sumber daya perusahaan.
Penyelamatan Dana Ungkap Kewenangan Besar Pengelola Layer-2
Di luar keberhasilan mengamankan aset, tindakan Arbitrum turut memperlihatkan seberapa besar kewenangan teknis yang tersedia bagi pengelola keamanan jaringan layer-2.
Berdasarkan Konstitusi ArbitrumDAO, Security Council beranggotakan 12 orang dan dapat menjalankan tindakan darurat apabila memperoleh persetujuan sedikitnya sembilan anggota.
Dalam keadaan darurat keamanan yang memenuhi ketentuan konstitusi, dewan tersebut memiliki kewenangan untuk memperbarui perangkat lunak protokol tanpa harus melewati masa tunggu tata kelola seperti perubahan reguler.
Mekanisme itulah yang memungkinkan Arbitrum merespons eksploitasi Binance dengan memodifikasi kontrak inti, menjalankan transaksi khusus, lalu mengembalikannya ke kondisi semula.
Namun, penggunaan kewenangan tersebut juga menghadirkan pertanyaan penting mengenai batas desentralisasi.
Di satu sisi, kemampuan melakukan intervensi cepat dapat melindungi aset ketika terjadi serangan besar. Di sisi lain, keberadaan otoritas yang mampu mengubah perilaku transaksi jaringan menegaskan bahwa desentralisasi pada layer-2 tidak selalu berarti seluruh tindakan harus mendapat persetujuan langsung dari pemilik wallet.
Hal ini berbeda dari pembekuan stablecoin oleh penerbit token, karena tindakan Arbitrum melibatkan perubahan sementara pada infrastruktur jaringan, bukan sekadar penambahan alamat ke daftar pembekuan suatu aset.
Konstitusi ArbitrumDAO sendiri mengharuskan Security Council menerbitkan laporan transparansi lengkap setelah keadaan darurat berlalu, termasuk penjelasan mengenai tindakan yang diambil serta alasan penggunaannya.
Dengan demikian, kasus Binance kini menghadirkan persoalan yang lebih luas daripada sekadar jumlah aset yang berhasil dicuri atau dibekukan.
Peristiwa ini menjadi contoh nyata bagaimana kewenangan darurat blockchain dapat digunakan untuk melindungi aset, sekaligus membuka kembali perdebatan tentang siapa yang memiliki kendali terakhir atas transaksi dalam ekosistem terdesentralisasi.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


