Popularitas kripto terus meningkat, terutama di kalangan anak muda. Di tengah tren tersebut, influencer sekaligus pengusaha Arief Muhammad mengingatkan agar tidak menganggap kripto sebagai jalan pintas menuju kekayaan.
Lewat unggahan di Threads pada Senin (08/06/2026), Arief menilai banyak orang berharap hidup berubah hanya dengan membeli aset kripto. Padahal, menurutnya, kenyataan di lapangan tidak sesederhana itu.
Fokus Bangun Penghasilan, Bukan Berburu Cuan Instan
Arief Muhammad mengajak masyarakat untuk lebih realistis dalam memandang investasi. Ia menilai banyak orang salah kaprah karena menganggap pasar saham maupun kripto sebagai jalan pintas menuju kekayaan.
“Realistis deh. Respect sama kerjaan yang kalian punya sekarang. Untuk jadi kaya di pasar saham atau kripto itu perlu modal. Mau Bitcoin naik 2x lipat dari harga sekarang, kalau masuknya Rp10 juta, ya jadi Rp20 juta. Fokus ngembangin skill dan income dulu,” tulis Arief.
10 Tips Investasi Bitcoin untuk Pemula yang Harus Kamu Tahu!
Menurut Arief, sumber kekayaan terbesar berasal dari bisnis, karier, atau keahlian yang menghasilkan pendapatan rutin. Cara tersebut dinilai lebih realistis dan berkelanjutan dibanding mengejar keuntungan instan dari pergerakan harga kripto.
Arief juga mengingatkan bahwa investasi pada dasarnya hanyalah alat untuk memperbesar aset yang sudah dimiliki. Tanpa modal yang cukup, ekspektasi memperoleh hasil fantastis menjadi sesuatu yang sulit diwujudkan.
“Jangan ngarep cuan instan deh. Investasi itu alat untuk memperbesar uang yang udah ada, bukan jalan pintas buat ngubah Rp10 juta jadi Rp10 miliar,” lanjutnya.
Peluang Selalu Ada, Tetapi Jangan Mudah Tergiur
Dalam lanjutan pesannya, Arief tidak menampik bahwa selalu ada kisah orang yang berhasil mengubah modal kecil menjadi kekayaan besar. Namun, menurutnya, kasus seperti itu sangat langka dan tidak bisa dijadikan patokan bagi semua orang.
“Ada yang bisa ngubah Rp10 juta jadi Rp10 miliar? Ya ada aja.. tapi berapa banyak??? realistis, ya.. Respect sama kerjaan yg kamu punya skrg, asah terus skillnya, selalu melek ngeliat peluang, jangan cepet silau liat sesuatu yang too good to be true,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa meningkatkan kualitas diri tetap menjadi investasi terbaik. Saat kemampuan berkembang, peluang memperoleh penghasilan yang lebih besar juga akan terbuka sehingga modal investasi ikut bertambah.
Di tengah maraknya cerita sukses di media sosial, Arief mengajak masyarakat untuk tidak mudah terjebak ilusi kekayaan instan yang kerap hanya menampilkan hasil akhir tanpa memperlihatkan risiko dan proses panjang di baliknya.
Jangan Terjebak Ilusi Cepat Kaya dari Kripto
Pandangan Arief Muhammad sejalan dengan pernyataan Sandiaga Uno yang sebelumnya juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan kripto sebagai sarana cepat kaya.
Dalam podcast Daging Talk bersama Atta Halilintar, Sandiaga menilai banyak investor pemula memiliki ekspektasi yang tidak realistis. Mereka berharap memperoleh keuntungan cepat dalam waktu singkat tanpa memahami tingginya risiko yang melekat pada pasar kripto.
“Kalau mau instant cuan atau instant kaya, ya itu profesimu. Tapi kalau yang mau cuan berkelanjutan, lakukanlah investasi dengan pola jangka panjang,” ujar Sandiaga.
Ia bahkan mengaku membeli Bitcoin dalam jumlah kecil bukan untuk mengejar keuntungan besar, melainkan sebagai sarana belajar memahami perkembangan teknologi dan dinamika pasar aset digital.
Arief Muhammad dan Sandiaga Uno sama-sama menegaskan bahwa investasi bukan jalan pintas menuju kekayaan. Meningkatkan keterampilan, hingga berinvestasi secara disiplin dalam jangka panjang tetap menjadi strategi yang realistis untuk membangun kondisi finansial yang lebih baik.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


