Mantan CEO BitMEX, Arthur Hayes, kembali melakukan aksi borong token HYPE setelah vakum selama sekitar tiga bulan.
Berdasarkan data Hypurrscan, Hayes membeli sebanyak 19.227 token HYPE dengan nilai sekitar US$499.000, setara Rp7,8 miliar. Pembelian ini dilakukan melalui dompet kripto yang selama ini dikaitkan dengan identitas Hayes.

Langkah ini menjadi sorotan karena sebelumnya Hayes sempat menjual seluruh kepemilikan HYPE miliknya. Pada transaksi sebelumnya, ia melepas sekitar 96.628 token HYPE dengan nilai sekitar US$5,1 juta.
Dari penjualan tersebut, Hayes mencatatkan keuntungan sekitar US$823.000, atau sekitar 19,2 persen dari nilai investasinya. Setelah periode tanpa aktivitas pada aset tersebut, kembalinya Hayes ke HYPE dinilai sebagai sinyal penting bagi pengamat pergerakan dana investor besar di pasar kripto.
Pembelian terbaru ini terjadi di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap strategi dan pandangan makro Hayes terhadap aset digital, khususnya Bitcoin dan altcoin berkapitalisasi menengah seperti HYPE.
Aktivitas dompet kripto milik Hayes kerap dijadikan referensi oleh analis on-chain karena historinya yang aktif dalam melakukan transaksi bernilai besar.
Rekam Jejak Transaksi Arthur Hayes di HYPE
Pada Agustus tahun sebelumnya, Hayes sempat menyampaikan pandangan optimistis terhadap potensi pertumbuhan HYPE dalam sebuah forum industri.
Saat itu, ia menilai token tersebut memiliki peluang kenaikan yang signifikan dalam jangka menengah hingga panjang. Namun, beberapa waktu setelah pernyataan tersebut, Hayes justru merealisasikan keuntungan dengan menjual seluruh kepemilikan HYPE-nya.
Keputusan untuk keluar dari posisi tersebut terbukti menguntungkan secara finansial. Data perdagangan menunjukkan bahwa Hayes berhasil mengamankan profit ratusan ribu dolar sebelum akhirnya menghentikan eksposurnya terhadap HYPE selama beberapa bulan.
Periode tanpa transaksi ini kemudian berakhir dengan pembelian baru senilai hampir setengah juta dolar AS pada awal 2026.
Dalam praktik perdagangan aset kripto, strategi mengambil keuntungan lalu masuk kembali pada level harga yang berbeda bukanlah hal baru, terutama di kalangan investor dengan modal besar.
Pola seperti ini sering dilakukan untuk mengelola risiko sekaligus memanfaatkan volatilitas pasar. Meski demikian, setiap keputusan tetap bergantung pada kondisi pasar saat transaksi dilakukan, termasuk sentimen investor, likuiditas, dan arah pergerakan aset kripto utama seperti Bitcoin.
Pandangan Makro Hayes dan Strategi Agresif Q1 2026
Kembalinya Hayes ke pasar HYPE juga terjadi di tengah pandangan makroekonomi yang ia sampaikan terkait arah Bitcoin. Hayes berpendapat bahwa harga Bitcoin berpotensi menembus US$200.000 pada Maret 2026.
Ia mengaitkan proyeksi tersebut dengan kebijakan terbaru bank sentral AS, yang menurutnya menyerupai “penyamaran pencetakan uang.”
Menurut Hayes, kebijakan tersebut secara efektif menciptakan likuiditas dalam jumlah besar di sistem keuangan. Ia memperkirakan bahwa ketika pasar mulai menyadari dampak dari aliran likuiditas tersebut, harga Bitcoin dapat mengalami lonjakan signifikan.
Pandangan ini memperkuat posisinya sebagai salah satu figur yang kerap mengaitkan dinamika kebijakan moneter global dengan pergerakan harga aset kripto.
Sejalan dengan proyeksi tersebut, Hayes juga mengungkapkan bahwa strategi perdagangannya untuk kuartal pertama 2026 akan bersifat sangat agresif.
Ia menyatakan akan mengambil posisi long dalam jumlah besar pada saham perusahaan yang terkait erat dengan Bitcoin, seperti Strategy dan Metaplanet. Selain itu, Hayes juga berencana menggunakan leverage untuk membuka posisi long langsung pada Bitcoin.
Strategi ini menunjukkan keyakinan Hayes terhadap potensi kenaikan pasar kripto dalam jangka pendek hingga menengah.
Dengan memanfaatkan instrumen leverage, ia berupaya memperbesar eksposur terhadap pergerakan harga Bitcoin. Namun, penggunaan leverage juga dikenal memiliki risiko tinggi, terutama di pasar kripto yang volatil.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



