Monad (MON) tengah menarik perhatian pasar kripto setelah peluncurannya menuai euforia besar. Namun di balik kenaikan harga yang cepat, Arthur Hayes justru memberikan peringatan keras.
Monad Berisiko Jadi Eksperimen Gagal
MON menjadi altcoin paling ramai dibahas dalam sepekan terakhir. Sebagai Layer-1 yang berfokus pada peningkatan skalabilitas, Monad berhasil mencuri perhatian publik, terutama karena mendapat dukungan dari modal ventura terkemuka, Paradigm.
Popularitas itu semakin memuncak saat blockchain Monad resmi diluncurkan pada awal pekan lalu, disertai airdrop token MON. Harga token langsung melesat dari US$0,023 hingga mencapai rekor tertinggi di US$0,048.
Namun antusiasme tersebut tidak berlangsung lama. Harga MON kembali terkoreksi ke kisaran US$0,03-US$0,035, meski volume perdagangannya masih tinggi dan mencapai sekitar US$370 juta dalam 24 jam.

Di tengah euforia ini, muncul suara skeptis. Arthur Hayes, co-founder BitMEX, memperingatkan bahwa MON adalah “bom waktu”. Dalam wawancaranya di Altcoin Daily, Sabtu (29/11/2025), Hayes menilai struktur token terlalu dikuasai VC sehingga memberikan risiko besar bagi ritel.
“Ini adalah proyek dengan FDV yang tinggi. Dengan float yang rendah dan didukung VC, koin seperti ini biasanya tetap mendapat pump pertamanya. Banyak orang ingin percaya pada L1 baru, karena semua orang berharap menemukan ‘Ethereum baru’,” tegasnya.
Hayes bahkan mengingatkan bahwa MON berpotensi anjlok hingga tak bernilai dan menjadi “another failed experiment” di antara banyak proyek Layer-1 yang datang silih berganti namun gagal mencapai adopsi nyata.
“Saya rasa ini akan menjadi bear chain lainnya. Harga MONAD (MON) kemungkinan besar akan turun hingga 99 persen,” ujar Hayes dengan nada skeptis.
Lirik Privacy Coin Ketimbang Proyek Layer-1
Menurut Hayes, kegagalan Layer-1 baru bukanlah hal yang jarang terjadi. Ia menegaskan bahwa sebagian besar jaringan blockchain generasi baru tidak mampu bertahan dalam jangka panjang, meskipun mereka menawarkan inovasi dan teknologi yang menjanjikan.
Hayes menilai hanya sedikit protokol yang benar-benar akan tetap relevan di masa depan. Salah satunya adalah Bitcoin, yang ia anggap sebagai aset paling kuat untuk melewati siklus pasar berikutnya.
Meski memberikan kritik keras terhadap MON, Hayes juga memaparkan pandangannya mengenai arah perkembangan industri kripto ke depan. Ia percaya bahwa narasi besar berikutnya akan berfokus pada privacy coin.
“Saya kebetulan berpendapat bahwa narasi privasi akan menjadi salah satu tema besar pada 2026. Dan hal ini sudah sedikit banyak diperlihatkan oleh tren privasi yang mulai mencuat,” jelasnya.
Sistem zero-knowledge dan privasi on-chain diperkirakan akan mendapatkan perhatian lebih besar. Hayes bahkan mengungkapkan bahwa ZEC kini menjadi kepemilikan terbesar kedua di kantor keluarga Maelstrom miliknya.
Hayes juga memperkirakan bahwa adopsi institusional akan mengalir ke Ethereum, terutama melalui stablecoin dan tokenisasi. Menurutnya, meski banyak proyek Layer-1 bermunculan, fokus pasar kemungkinan akan kembali pada ekosistem yang sudah mapan.
Menimbang Hype dan Risiko di Balik MON
Kenaikan popularitas MON sebagai altcoin baru memang memicu rasa penasaran. Namun di balik euforia, peringatan Arthur Hayes membuka perspektif lain tentang berbagai risiko yang mungkin tidak terlihat jelas.
Dalam industri kripto yang bergerak cepat dan penuh spekulasi, perbedaan pendapat seperti ini menjadi pengingat bahwa tidak semua tren berakhir manis. Banyak proyek yang menjanjikan di awal, tetapi tidak semuanya mampu bertahan melewati fase hype.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



