Pendiri BitMEX, Arthur Hayes, mengatakan bahwa ia belum tertarik membeli Bitcoin saat ini. Menurutnya, momentum terbaik untuk masuk ke pasar akan muncul ketika The Fed mulai melonggarkan kebijakan moneter dan kembali mencetak uang.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Hayes menilai eskalasi konflik berpotensi mendorong Federal Reserve melonggarkan kebijakan moneternya.
Hayes Pilih Menunggu, Bukan Memburu Bitcoin
Dalam wawancara di podcast Coin Stories bersama Natalie Brunell pada Selasa (10/03/2026), ia menegaskan bahwa pendekatan terbaik saat ini adalah menunggu perkembangan kebijakan moneter sebelum membeli Bitcoin.
“Jika saya memiliki US$1 untuk diinvestasikan saat ini, apakah saya akan memasukkannya ke Bitcoin? Tidak. Saya akan menunggu,” ujar Hayes dalam podcast yang dipublikasikan di YouTube.
Menurutnya, banyak yang beranggapan bahwa perang atau konflik geopolitik berdampak positif bagi Bitcoin. Namun, Hayes melihat faktor yang jauh lebih penting, yakni likuiditas yang berasal dari kebijakan bank sentral.
“Perang tidak baik untuk Bitcoin. Yang baik untuk Bitcoin adalah pencetakan uang,” katanya.
Co-Founder Indodax: Waspada Dampak Ekonomi Akibat Perang Iran–AS
Dengan kata lain, bagi pendiri BitMEX tersebut, pemicu utama reli besar Bitcoin bukanlah konflik itu sendiri, melainkan respons kebijakan moneter yang biasanya mengikuti konflik tersebut.
Konflik AS–Iran Bisa Dorong The Fed Cetak Uang
Hayes menilai ketegangan yang berkepanjangan antara AS dan Iran berpotensi meningkatkan tekanan fiskal bagi AS. Dalam skenario tersebut, bank sentral kemungkinan besar harus melonggarkan kebijakan moneternya untuk menjaga stabilitas ekonomi.
“Semakin lama konflik ini berlangsung, semakin besar kemungkinan The Fed harus mencetak uang untuk mendukung mesin perang Amerika,” jelasnya.
Ia bahkan menyoroti pola historis yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Sejak 1985, hampir setiap keterlibatan militer besar Amerika Serikat di Timur Tengah sering diikuti oleh pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve.
Contohnya terlihat pada Perang Teluk 1990, perang melawan terorisme pasca-11 September 2001, hingga lonjakan pasukan AS di Afghanistan pada 2009. Pada periode tersebut, Federal Reserve memangkas suku bunga atau memperluas suplai uang untuk menjaga stabilitas.
“Semakin lama Trump terlibat dalam aktivitas nation-building Iran yang sangat mahal, semakin besar kemungkinan The Fed menurunkan harga uang dan meningkatkan jumlahnya,” tulis Hayes.
Risiko Tekanan Pasar Masih Membayangi BTC
Meski melihat peluang jangka panjang bagi BTC, Hayes mengingatkan dalam jangka pendek pasar masih bisa menghadapi tekanan. Ia bahkan tidak menutup kemungkinan terjadinya penurunan harga lebih lanjut jika ketegangan geopolitik terus meningkat.
Menurutnya, konflik yang berkepanjangan bisa memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham maupun kripto.
“Dengan adanya perang yang tidak menguntungkan antara Amerika Serikat dan Iran, saya pikir jika konflik ini terus berlanjut, ada kemungkinan terjadi aksi jual besar-besaran di pasar saham dan Bitcoin,” ujarnya.
Pendiri BitMEX: Perang AS dengan Iran Bisa Picu Reli Bitcoin
Ia menambahkan bahwa Bitcoin bahkan berpotensi turun di bawah US$60.000 jika terjadi likuidasi di pasar. Saat ini, harga BTC berada di kisaran US$69.000, sekitar 40 persen di bawah rekor tertingginya di level US$126.000 pada Oktober lalu.
Meski demikian, Hayes tetap mempertahankan pandangan bullish terhadap Bitcoin dalam jangka panjang. Ia sebelumnya memproyeksikan harga BTC berpotensi mencapai US$250.000 pada 2026.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter, Hayes menegaskan bahwa likuiditas tetap menjadi bahan bakar utama reli Bitcoin. Selama bank sentral belum mencetak uang, ia memilih menunggu sebelum kembali masuk ke pasar kripto.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



