Optimisme di pasar kripto kembali menguat. Pendiri BitMEX sekaligus CIO Maelstrom, Arthur Hayes, memprediksi harga Bitcoin bisa menembus US$126.000. Menurutnya, lonjakan ini akan didorong oleh pesatnya perkembangan AI, bukan hanya sentimen ETF atau suku bunga.
Hayes menilai bahwa persaingan kecerdasan buatan antara Amerika Serikat dan China akan memicu banjir likuiditas global. Situasi itu diyakini menjadi katalis kuat bagi reli Bitcoin dalam beberapa tahun mendatang.
Perang AI Disebut Jadi Mesin Pendorong Kenaikan BTC
Dalam blog berjudul The Butterfly Touch yang dipublikasikan pada Selasa (12/05/2026), Arthur Hayes menyebut dunia tengah memasuki era baru, di mana AI bukan lagi sekadar teknologi, melainkan sudah menjadi bagian dari strategi geopolitik global.
Menurutnya, AS dan China kini berlomba membangun dominasi AI demi memperkuat pengaruh ekonomi serta militernya. Persaingan tersebut diyakini akan memicu gelombang likuiditas baru di pasar global.
Donald Trump dan Xi Jinping disebut sama-sama memandang AI sebagai elemen penting dalam keamanan nasional. Karena itu, pemerintah dan bank sentral diperkirakan akan terus mengalirkan likuiditas untuk mendukung pembangunan infrastruktur AI.
“Presiden Amerika Serikat dan China percaya bahwa supremasi AI dan teknologi sangat penting bagi kelangsungan kekuasaan mereka,” tulis Hayes dalam blog tersebut.
Hayes menilai kondisi ini menjadi lingkungan ideal bagi Bitcoin. Menurutnya, semakin besar pencetakan uang dan ekspansi kredit, semakin tinggi minat investor terhadap aset alternatif untuk menjaga nilai kekayaan mereka.
Dirinya juga menilai bahwa situasi tersebut berpotensi mendorong reli Bitcoin lebih lanjut, seiring meningkatnya arus likuiditas global ke pasar aset berisiko.
“Dengan dorongan likuiditas triliunan dolar serta yuan yang masih akan tercipta, kenaikan kembali menuju US$126.000 dianggap hampir pasti terjadi,” ujarnya.
Harga Bitcoin Dinilai Masih Punya Ruang Naik
Saat prediksi itu dirilis, harga Bitcoin berada di kisaran US$81.000. Meski sempat mengalami kenaikan moderat, Hayes menilai pasar masih berada di tahap awal bull market dan belum memasuki fase euforia penuh.
Menurutnya, begitu harga Bitcoin berhasil menembus area US$90.000, tekanan besar bisa muncul terhadap para trader BTC yang sebelumnya bertaruh harga akan turun.
Kondisi ini berpotensi memicu short squeeze, yaitu situasi ketika trader bearish terpaksa membeli kembali Bitcoin untuk menutup posisi mereka. Akibatnya, harga BTC bisa terdorong naik lebih agresif.
“Banyak pembenci Bitcoin akan melewatkan reli ini karena aset tersebut tertinggal dari saham teknologi dan emas dalam 24 bulan terakhir,” ujar Hayes.
Di sisi lain, data on-chain menunjukkan pasar belum terlalu panas. Bitcoin Taker Buy Sell Ratio masih berada di area 0,93, menandakan tekanan jual lebih dominan. Meski begitu, BTC tetap bertahan dekat level tertingginya, menjadi sinyal bahwa struktur pasar masih kuat.
Selain itu, data Spot Volume Bubble Map dari CryptoQuant juga memperlihatkan akumulasi Bitcoin masih berlangsung secara bertahap. Artinya, reli saat ini belum menunjukkan pola mania ekstrem seperti siklus bull market sebelumnya.

Likuiditas Global Jadi Kunci Reli BTC
Hayes mengaitkan prospek Bitcoin dengan situasi geopolitik global yang semakin memanas. Ia menilai perang, perlombaan AI, dan pembangunan infrastruktur energi mendorong pemerintah untuk terus menambah utang dan mencetak uang.
Menurutnya, banyak negara mulai sadar bahwa cadangan dolar saja tidak cukup untuk menghadapi ketidakpastian global. Akibatnya, belanja infrastruktur dan energi meningkat, sehingga lebih banyak likuiditas mengalir ke pasar.
Hayes menilai ekspansi kredit, persaingan AI, dan lonjakan belanja pemerintah akan menjadi pendorong utama reli kripto. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa reli tidak akan berlangsung selamanya, walau saat ini BTC masih diuntungkan oleh meningkatnya likuiditas global.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


