Arus Masuk Shark Bitcoin Jatuh ke Level 2017, Pertanda Apa?

Penurunan tajam arus masuk shark Bitcoin ke bursa menjadi sorotan utama pasar kripto, setelah indikator on-chain terbaru menunjukkan level terendah sejak 2017.

Analis Arab Chain di CryptoQuant mengungkap bahwa total inflow (arus masuk) 30 hari dari kelompok investor menengah atau shark Bitcoin di Binance hanya mencapai sekitar 45.200 BTC. Data ini mencerminkan perubahan besar dalam perilaku pasar, khususnya terkait tekanan jual dan aktivitas transaksi.

shark Bitcoin

Temuan tersebut menyoroti bahwa aktivitas transfer Bitcoin ke bursa mengalami perlambatan dalam beberapa pekan terakhir. Dalam analisisnya, Arab Chain menyatakan bahwa kondisi ini menunjukkan adanya jeda aktivitas pasar yang cukup jelas.

IKLAN
Chat via WhatsApp

“Penurunan ini mencerminkan kondisi pasar yang lebih tenang dengan aktivitas yang berkurang, yang dapat menjadi sinyal awal pergerakan besar berikutnya,” ungkap Arab Chain.

Fenomena melemahnya arus masuk shark Bitcoin ini menjadi indikator penting, mengingat kelompok investor tersebut biasanya aktif pada fase transisi antara tren bullish dan bearish.

Secara historis, peningkatan inflow sering kali berkaitan dengan niat jual atau aksi ambil untung. Sebaliknya, penurunan inflow seperti saat ini justru mengindikasikan melemahnya tekanan jual di pasar.

BACA JUGA:  Era Baru Polymarket, Manipulasi dan Insider Trading Kini Disikat

Struktur Pasar Makin Matang, Shark Bitcoin Pilih Menahan

Lebih lanjut, analis Arab Chain menilai bahwa turunnya arus masuk shark Bitcoin hingga ke level terendah sejak 2017 juga mencerminkan perubahan struktur pasar yang semakin matang.

Masuknya investor institusional serta meningkatnya kecenderungan penyimpanan jangka panjang dinilai menjadi faktor utama di balik perubahan perilaku ini.

Selain itu, sebagian likuiditas pasar diduga mulai mengalir ke instrumen keuangan alternatif atau platform di luar bursa tradisional. Hal ini turut berkontribusi terhadap berkurangnya aktivitas transfer Bitcoin ke bursa.

Dengan kata lain, pasar saat ini tidak berada dalam fase distribusi agresif, melainkan cenderung memasuki periode konsolidasi dengan volume yang lebih rendah.

Kondisi ini memperkuat narasi bahwa shark Bitcoin saat ini memilih untuk menahan aset mereka dibandingkan menjualnya di pasar terbuka. Penurunan aktivitas tersebut juga dapat mencerminkan sikap wait and see di tengah ketidakpastian arah pergerakan harga dalam jangka pendek.

BACA JUGA:  Hyperliquid Mau Masuk Wall Street, Grayscale Siapkan HYPE ETF

Sinyal Teknikal Menguat, Risiko Koreksi Bitcoin Kian Terbuka

Di sisi lain, analisis teknikal turut memberikan gambaran yang lebih kompleks terhadap kondisi pasar Bitcoin saat ini.

Analis TradingShot mencatat bahwa indikator Gaussian Channel (GC) telah berubah menjadi merah, sebuah sinyal yang secara historis selalu diikuti oleh penurunan kuat.

Gaussian BTC

Dalam siklus sebelumnya, indikator ini kerap diikuti koreksi lebih dari 52 persen, termasuk pada periode 2014, 2018 dan 2022. Berdasarkan pola tersebut, proyeksi penurunan dapat membawa harga Bitcoin ke kisaran US$36.500 jika skenario serupa kembali terulang.

Sementara itu, analis lain, Ted, menyoroti bahwa Bitcoin telah turun di bawah level US$69.000. Jika level ini tidak segera direbut kembali, maka potensi penurunan lanjutan menuju US$67.000 dinilai cukup terbuka dalam waktu dekat.

analisis Bitcoin 23 Mar

Namun, jika harga BTC mampu kembali menembus dan bertahan di atas US$69.000, peluang pemulihan menuju resistance di sekitar US$72.000 tetap ada.

BACA JUGA:  Muhammadiyah Tetapkan Hukum Kripto, Ini Respons Pelaku Industri

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait