AS Alihkan Bitcoin Sitaan, Mungkinkah untuk Biayai Perang Iran?

Pergerakan kecil bisa terasa besar saat muncul di waktu sensitif. Pada 3 Maret 2026, beberapa hari setelah serangan AS dan Israel ke Iran, dompet Bitcoin yang terafiliasi dengan pemerintah AS kembali aktif. Nilainya kecil, tetapi momennya memicu tanda tanya.

Di tengah eskalasi konflik dan potensi lonjakan biaya militer, transfer Bitcoin oleh pemerintah Amerika Serikat langsung memantik spekulasi. Apakah ini sekadar konsolidasi biasa atau sinyal menuju penjualan?

Transfer BTC AS yang Datang di Waktu Sensitif

Data on-chain dari platform Arkham Intelligence menunjukkan bahwa alamat yang terafiliasi dengan pemerintah AS mentransfer 0,0377 BTC senilai sekitar US$2.510 pada 3 Maret pukul 15:16 waktu setempat.

Beberapa jam sebelumnya, dua transaksi lain juga terjadi. Sebanyak 0,24 BTC senilai sekitar US$16.260 dan 0,0568 BTC senilai sekitar US$3.880 dipindahkan ke alamat baru yang berbeda.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Secara nominal, jumlah tersebut tergolong sangat kecil. Namun, waktunya yang berdekatan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah membuat pergerakan ini terlihat lebih besar.

Terlebih, transfer terakhir dari alamat pemerintah AS tercatat pada 3 November 2025. Artinya, ada jeda yang cukup panjang sebelum aktivitas kembali muncul di awal Maret ini.

Transfer Bitcoin oleh Pemerintah AS - Arkham Intelligence
Transfer Bitcoin oleh Pemerintah AS – Arkham Intelligence

Biaya Perang Modern yang Tinggi

Untuk memahami mengapa transfer Bitcoin yang dilakukan pemerintah AS terlihat sensitif, kita perlu melihat biaya perang modern. Sistem pertahanan udara seperti rudal Patriot bukanlah perlengkapan murah.

BACA JUGA:  Konflik Iran Memanas, Apa AS Bisa Menyita BTC Negara Ini?

Satu rudal Interceptor diperkirakan menelan biaya sekitar US$3 juta hingga US$4 juta per unit, tergantung variannya. Artinya, setiap peluncuran untuk mencegat drone atau misil Iran membawa konsekuensi finansial yang besar.

Selain itu, satu baterai Patriot lengkap yang mencakup radar, peluncur, dan sistem komando dilaporkan bernilai sekitar US$1 miliar atau lebih. Nilai tersebut belum termasuk biaya operasional, perawatan, serta pengisian ulang rudal.

Dalam konflik berintensitas tinggi, sistem pertahanan ini bisa digunakan selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. 

Kondisi ini terlihat dalam Operation Epic Fury yang diusung oleh AS dan Israel dan tengah berlangsung, yang dilaporkan menghabiskan sekitar US$700 juta hingga US$800 juta hanya dalam 24 jam pertama.

Jika biaya operasi terus membengkak, kebutuhan likuiditas tentu meningkat. Pemerintah AS memiliki sejumlah opsi, mulai dari menambah utang hingga mendorong pelonggaran kebijakan moneter.

Di sisi lain, AS saat ini menguasai sekitar 320 ribu BTC senilai lebih dari US$22,4 miliar beserta aset kripto lainnya. Dalam konteks tersebut, kripto menjadi salah satu opsi yang secara teori dapat dimonetisasi apabila diperlukan.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Turun, Investor Berpengalaman Asik Serok
Aset Kripto Milik Pemerintah AS - Arkham Intelligence
Aset Kripto Milik Pemerintah AS – Arkham Intelligence

Cetak Uang atau Jual Bitcoin?

Dalam konteks ini, pandangan Arthur Hayes sebelumnya menjadi relevan. Ia menilai bahwa konflik besar yang melibatkan AS hampir selalu diikuti pelonggaran kebijakan oleh Federal Reserve.

Artinya, jika konflik dengan Iran berlarut dan memakan biaya besar, opsi mencetak uang atau memangkas suku bunga bisa kembali dipertimbangkan. Pola historis menunjukkan tekanan geopolitik kerap berujung pada pelonggaran likuiditas.

Namun, di tengah situasi saat ini, muncul pertanyaan yang tak kalah menarik. Apakah menjual sebagian Bitcoin dapat menjadi alternatif bagi AS sebelum pelonggaran moneter benar-benar dilakukan?

Secara matematis, jika AS melepas 5 persen dari total 320 ribu BTC, nilainya bisa melampaui US$1 miliar. Dana itu cukup untuk mendukung pengadaan sistem pertahanan atau kebutuhan logistik jangka pendek tanpa mengubah arah kebijakan moneter.

Di sisi lain, jika The Fed melonggarkan kebijakan, dampaknya akan luas. Likuiditas global meningkat, dolar berpotensi melemah, dan aset berisiko seperti kripto bisa menguat.

Sebaliknya, jika pemerintah memilih menjual BTC, dampaknya lebih terbatas dan kemungkinan hanya terasa di pasar kripto. Dengan demikian, penjualan Bitcoin dapat dipandang sebagai jembatan likuiditas bagi AS untuk membiayai konflik dengan Iran.

Arthur Hayes: The Fed Bisa Cetak Uang untuk Biayai Konflik AS–Iran

Pasar Masih Tenang, Tapi Drama Bisa Berlanjut

Sejauh ini, pasar belum menunjukkan kepanikan. Bitcoin masih bergerak sideways di kisaran US$67.000 hingga US$69.000, mencerminkan sikap wait and see dari para investor.

BACA JUGA:  Tekanan Jual Melemah, Bitcoin Siap Balik Arah?

Reaksi yang relatif stabil ini menunjukkan bahwa konflik Iran dan AS masih dipandang sebagai risiko yang terukur, belum sebagai krisis sistemik yang mengganggu fondasi pasar global.

Namun, jika eskalasi meningkat dan biaya perang membengkak, opsi-opsi fiskal akan semakin terbuka. Setiap pergerakan kecil dari dompet pemerintah AS pun berpotensi dibaca sebagai sinyal yang lebih besar.

Apakah transfer Bitcoin yang dilakukan AS pada 3 Maret ini hanya konsolidasi teknis atau langkah awal menuju manuver likuiditas yang lebih strategis? Hingga kini, belum ada jawaban yang pasti.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait