Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran. Kali ini, bukan fasilitas militer atau perdagangan minyak, melainkan aset kripto yang selama ini dianggap menjadi salah satu jalur pendanaan penting bagi Teheran.
AS Klaim “Merebut” Aset Kripto Iran
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengklaim pihaknya telah menyita aset kripto Iran senilai US$1 miliar atau sekitar Rp17,7 triliun. Pernyataan itu disampaikan saat dirinya berbicara di Reagan National Economic Forum pada Sabtu (30/05/2026).
Menurut Bessent, pemerintah AS berhasil mengambil alih sejumlah dompet kripto yang terkait dengan Iran sebagai bagian dari kampanye tekanan ekonomi yang lebih luas terhadap Teheran.
“Saya yakin kami telah menyita sekitar US$1 miliar aset kripto mereka,” kata Bessent saat berbicara di Reagan National Economic Forum.
Ia menjelaskan bahwa operasi tersebut dilakukan dengan mengambil alih crypto wallet target. Bessent bahkan menyebut sebagian pemilik dompet kemungkinan belum menyadari bahwa aset mereka telah disita.
“Kami benar-benar mengambil alih dompet mereka. Mungkin ada beberapa orang yang sedang mencoba masuk ke dompet mereka sekarang dan belum menyadari bahwa wallet tersebut telah diambil,” tambahnya.
Penyitaan aset kripto yang dilakukan oleh pemerintah AS merupakan bagian dari Operation Economic Fury, kampanye tekanan ekonomi terhadap Iran yang diluncurkan pada Maret 2025.
Melalui operasi ini, Amerika Serikat menargetkan berbagai aset Iran, mulai dari aset kripto dan rekening bank hingga properti yang disita bersama negara-negara sekutunya di Eropa.
“Saya pikir dalam lima hingga enam minggu terakhir, melalui kampanye militer yang sukses dan Operation Economic Fury, kami benar-benar telah memutus akses mereka. Secara finansial, mereka kini berada di ujung tali,” ujar Bessent.
Tekanan Ekonomi Disebut Mulai Melumpuhkan Iran
Bessent menilai kombinasi operasi militer dan juga tekanan ekonomi dalam beberapa minggu terakhir telah memberikan pukulan besar terhadap kondisi keuangan Iran.
Menurutnya, pemerintah Iran sebelumnya memperoleh sekitar US$400 juta hingga US$500 juta per bulan yang kemudian didistribusikan kepada sekitar 80 petinggi rezim.
Namun, aliran dana tersebut disebut mulai terganggu setelah Amerika Serikat melakukan penyitaan aset dan pembekuan berbagai sumber pendanaan yang terkait dengan Iran.
Menteri Keuangan AS tersebut juga mengklaim kondisi ekonomi Iran tertekan. Ia menyebut inflasi telah melampaui 200 persen dan sebagian personel militer dilaporkan tidak menerima gaji.
Menariknya, angka ini lebih besar dibandingkan klaim sebelumnya. Pada akhir April, AS melaporkan penyitaan kripto Iran senilai US$500 juta, sementara aset yang dibekukan melalui sanksi pada 24 April tercatat sebesar US$344 juta.
Di Tengah Tekanan AS, Iran Justru Melirik Bitcoin
Di tengah tekanan ekonomi yang dilakukan oleh Amerika Serikat, Iran justru dilaporkan semakin terbuka terhadap pemanfaatan Bitcoin sebagai instrumen ekonomi strategis.
Salah satu proposal yang muncul adalah platform Hormuz Safe. Skema ini memungkinkan asuransi pelayaran digital dibayar menggunakan Bitcoin dan diproses melalui blockchain.
Selain itu, seorang perwakilan eksportir energi Iran sebelumnya mengusulkan agar kapal tertentu dapat melintasi Selat Hormuz dengan membayar tarif sebesar US$1 per barel minyak menggunakan Bitcoin.
Hormuz Safe, Cara Iran Kuasai Jalur Minyak Dunia Pakai Bitcoin
Perkembangan ini menunjukkan bahwa kripto dipandang sebagai alat pendanaan dan ekonomi, bukan sekadar instrumen investasi. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, persaingan AS dan Iran kini juga mulai merambah ke ranah aset digital.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


