Aset Digital Berpotensi Gandakan Industri Dana Investasi Hong Kong

Industri dana investasi di Hong Kong berpotensi tumbuh hingga dua kali lipat seiring meningkatnya adopsi aset digital dan teknologi tokenisasi. Hal ini terungkap dalam laporan bersama yang disusun oleh Boston Consulting Group, Aptos Labs dan Hang Seng Bank, dengan dukungan uji coba dari Otoritas Moneter Hong Kong (HKMA).

Laporan tersebut menyebutkan bahwa integrasi teknologi blockchain dan programmable digital money dalam pengelolaan dana dapat mempercepat transaksi, menekan biaya operasional, serta memperluas akses investor global.

Survei yang dilakukan terhadap investor di Hong Kong dan Tiongkok Daratan menunjukkan bahwa sekitar 61 persen responden menyatakan siap menggandakan alokasi dana mereka apabila produk investasi tersedia dalam format tokenisasi dengan fitur penyelesaian instan dan akses 24 jam.

“Tokenisasi dana dan penggunaan digital money membuka peluang besar untuk meningkatkan efisiensi, likuiditas, dan partisipasi investor dalam industri pengelolaan aset Hong Kong,” ungkap laporan tersebut.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Minat Investor dan Potensi Pertumbuhan Dana Digital

Survei yang menjadi dasar laporan tersebut melibatkan ratusan investor ritel dan institusional di kawasan Asia Timur. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai produk dana berbasis blockchain lebih menarik karena proses transaksi yang lebih cepat, transparan, serta dapat diakses kapan saja.

BACA JUGA:  Penculik Anak Bos Crypto Scam Ukraina di Bali Akhirnya Ditangkap

Selain itu, hampir seluruh responden menyatakan tertarik menggunakan produk berbasis digital money, seperti stablecoin atau tokenized deposits, selama memiliki fungsi yang setara dengan instrumen keuangan biasa.

Kondisi ini dinilai dapat mendorong lonjakan dana kelolaan (AUM) di Hong Kong dalam beberapa tahun mendatang.

Para penyusun laporan menilai bahwa perubahan preferensi investor tersebut mencerminkan pergeseran struktural dalam industri keuangan, dari sistem berbasis perantara tradisional menuju ekosistem berbasis teknologi terdesentralisasi dan otomatis.

Pasar Tokenisasi Global dan Hasil Uji Coba HKMA

Secara global, nilai pasar tokenized assets tercatat telah mencapai sekitar US$30 miliar pada September 2025. Dari jumlah tersebut, obligasi dan dana investasi menjadi sektor dengan tingkat adopsi tertinggi, diikuti oleh komoditas dan aset kredit swasta.

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa tokenisasi mulai menjadi bagian dari infrastruktur utama pasar keuangan internasional.

Di Hong Kong, potensi tersebut diperkuat melalui proyek percontohan e-HKD+ yang dipimpin HKMA. Dalam proyek ini, para mitra berhasil menguji sistem penyelesaian transaksi dana tokenisasi menggunakan programmable digital money berbasis blockchain.

BACA JUGA:  4 Proyek Kripto RI yang Sempat Booming, Kini Tinggal Kenangan?

Uji coba tersebut memperlihatkan bahwa transaksi dapat diselesaikan secara atomik, yakni pembayaran dan penyerahan aset terjadi secara bersamaan dalam satu proses. Dengan mekanisme ini, risiko keterlambatan dan gagal bayar dapat ditekan, sekaligus meningkatkan kepercayaan pelaku pasar.

HKMA menilai hasil pengujian tersebut membuktikan bahwa infrastruktur blockchain telah memenuhi standar institusional, baik dari sisi kecepatan, keamanan, maupun stabilitas sistem.

Dinamika Regional: Kebijakan Tiongkok dan Perkembangan di AS

Di tengah percepatan adopsi aset digital di Hong Kong, Tiongkok Daratan menerapkan pendekatan yang lebih ketat.

Berdasarkan laporan Odaily, delapan lembaga utama di negara tersebut membentuk sistem regulasi dua jalur, dengan People’s Bank of China (PBoC) mengawasi mata uang virtual dan China Securities Regulatory Commission memimpin pengawasan terhadap aktivitas aset dunia nyata (RWA).

Dalam kebijakan tersebut, aktivitas RWA di dalam negeri dilarang kecuali mendapat persetujuan otoritas dan dilakukan melalui infrastruktur keuangan tertentu.

BACA JUGA:  Survei: 56 Persen Pengguna Stablecoin Siap Tambah Aset 2026

Sementara itu, cabang luar negeri lembaga keuangan Tiongkok diperbolehkan menjalankan bisnis tokenisasi, dengan kewajiban mengintegrasikan kepatuhan dalam sistem pengendalian risiko domestik.

Di AS, perkembangan stablecoin juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan laporan CryptoBriefing, CEO Tether, Paolo Ardoino, menyatakan bahwa perusahaannya telah mencapai 536 juta pengguna global. Capaian tersebut disebut sebagai tonggak penting dalam perluasan inklusi keuangan melalui stablecoin.

Tether juga dilaporkan tengah menyiapkan peluncuran stablecoin USAT untuk memperkuat akses pasar AS, dengan skema kepatuhan penuh dan dukungan aset 1:1 dengan dolar AS.

Perusahaan tersebut juga disebut tengah berevolusi menjadi perusahaan teknologi yang fokus menjembatani keuangan tradisional dan kripto melalui perdagangan 24 jam dan penyelesaian instan.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait