Aturan Kripto AS Makin Jelas, SEC Soroti Token, DAO dan Desentralisasi

Regulator Amerika Serikat kembali memperjelas pandangannya soal industri kripto. Kali ini, SEC menyoroti bagaimana token, governance, dan tingkat desentralisasi bisa mempengaruhi cara sebuah proyek kripto dinilai.

Panduan yang diperbarui pada Senin (02/11/2026) itu memang bukan aturan baru. Namun, isinya memberi gambaran lebih jelas soal bagaimana regulator melihat struktur, kendali, dan cara kerja sebuah jaringan kripto.

SEC Perjelas Cara Melihat Token Kripto

Dalam panduan terbarunya, staf Division of Corporation Finance SEC membahas sejumlah jenis kripto, termasuk digital commodity, Staking Receipt Token, serta jaringan yang sudah berfungsi dan terdesentralisasi.

Salah satu poin pentingnya, digital commodity tidak otomatis dianggap sebagai sekuritas. Token tersebut dapat memiliki fungsi nyata di jaringan, misalnya untuk menggunakan layanan atau berpartisipasi dalam sistem tertentu.

SEC juga membedakan jaringan yang sudah functional dengan jaringan yang benar-benar terdesentralisasi. Keduanya memang berkaitan, tetapi menggambarkan dua kondisi berbeda yang perlu dilihat secara terpisah.

“Fungsional dan terdesentralisasi merupakan dua konsep berbeda yang membahas aspek berbeda dalam desain dan pengoperasian sebuah sistem kripto,” tulis staf SEC dalam panduan yang diperbarui pada Senin (02/11/2026).

BACA JUGA:  Berburu Kripto 100x dari Launchpad? Coba Fitur Ini di Cryptoiz

Secara sederhana, jaringan disebut functional ketika token native-nya sudah digunakan sesuai fungsi. Sementara itu, desentralisasi lebih berkaitan dengan siapa yang memegang kendali terhadap jaringan.

Punya Governance Belum Tentu Berarti Terpusat

Bagian menarik lainnya muncul ketika SEC membahas broad-based governance, yakni sistem pengambilan keputusan yang melibatkan developer, operator node, validator, miner, hingga para pemegang token.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Menurut SEC, keberadaan banyak pihak dalam sistem governance tidak otomatis membuat mereka dianggap sebagai satu kelompok terpusat. Hubungan dan koordinasi di antara mereka ikut menjadi perhatian.

“Peserta dalam sistem broad-based governance umumnya tidak akan dianggap sebagai satu kelompok apabila mereka tidak terafiliasi dan tidak memiliki kesepakatan atau pemahaman untuk bertindak bersama,” jelas mereka.

Memahami Desentralisasi: Misi Besar yang Dibawa Cryptocurrency

Artinya, banyaknya pemegang token yang ikut melakukan voting belum cukup untuk membuat sebuah jaringan dianggap dikendalikan satu pihak. Regulator tetap melihat siapa yang benar-benar memegang kekuasaan.

BACA JUGA:  Kasus Timothy Ronald Dihentikan Polisi, Korban Kini Mengadu ke DPR

SEC memberi beberapa contoh, seperti kemampuan membatasi akses pengguna, menentukan siapa yang dapat memvalidasi transaksi, mengubah proses voting, hingga mengubah kode atau aturan jaringan blockchain secara sepihak.

“Pihak terpusat mengawasi partisipasi ketika memiliki kewenangan mengontrol akses terhadap sistem kripto, baik pada tingkat protokol, validator, maupun pengguna,” tulis staf SEC dalam penjelasan tersebut.

Apa Dampaknya bagi Proyek Kripto?

Penjelasan tersebut cukup penting bagi proyek kripto karena struktur jaringan berhubungan dengan penilaian apakah suatu aset memiliki karakter sebagai kontrak investasi berdasarkan kerangka hukum sekuritas AS.

SEC menyebut promosi mengenai fungsi atau kemampuan jaringan tidak otomatis dianggap sebagai janji keuntungan. Pernyataan mengenai pengembangan teknologi juga tidak memenuhi unsur upaya manajerial yang menjadi perhatian regulator.

Setelah berjalan, kegiatan seperti memperbaiki sistem, menjaga keamanan, meningkatkan fitur, atau membantu pertumbuhan jaringan juga tidak otomatis dianggap sebagai upaya yang menentukan keuntungan bagi holder.

BACA JUGA:  1 Persen Dompet XRP Kuasai 92 Persen Saldo, Data Terbaru Ungkap Faktanya

“Setelah sistem kripto menjadi functional, layanan untuk mengamankan, memelihara, memperbaiki, atau meningkatkan sistem tersebut tidak akan dianggap melibatkan essential managerial efforts,” jelas staf SEC.

Program buyback juga mendapat perhatian. Pada jaringan yang sudah berfungsi dan tidak memiliki pengendali, pengumuman pembelian kembali token non-sekuritas tidak dianggap sebagai janji memberikan keuntungan.

Namun, kondisinya dapat berbeda jika jaringan belum berfungsi dan buyback dipasarkan sebagai cara menciptakan yield atau keuntungan. Dalam situasi tersebut, regulator dapat melihatnya dengan cara berbeda.

Meski bukan aturan baru, panduan ini menunjukkan bahwa SEC semakin menyoroti fungsi token, struktur kendali, dan tingkat desentralisasi sebagai faktor penting dalam menilai proyek kripto di Amerika Serikat.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait