Selasa, 10 Desember 2019
Penulis Dikirim oleh Dimaz Ankaa Wijaya | Kolomnis

Dimaz Ankaa Wijaya | Kolomnis

Dimaz Ankaa Wijaya | Kolomnis
32 KIRIMAN 0 KOMENTAR
Peneliti di Blockchain Research Joint Lab Universitas Monash, Australia. Pada tahun 2015 dan 2016 ia menulis dua buku "Mengenal Bitcoin dan Cryptocurrency" dan "Bitcoin Tingkat Lanjut".
Adopsi massal bitcoin barangkali masih harus menunggu dua-tiga generasi mendatang. Itupun jika bitcoin memang masih mampu bertahan.
PoW amatlah popular seiring makin terkenalnya bitcoin, sementara PoS hadir setelah berbagai kritik dan kecaman dialamatkan kepada para penambang bitcoin yang haus akan energi listrik. Lantas, apakah PoS adalah solusi?
Dalam operasinya, pengelola bursa umumnya menggunakan dua jenis dompet aset kripto untuk masing-masing aset, yakni hot wallet dan cold wallet (meskipun saya tidak meyakini semua bursa melakukan hal yang sama, umumnya mereka selalu memiliki hot wallet).
Penambangan desentralisasi terlihat lebih adil, karena mereka yang bermodal kecil pun masih punya kesempatan untuk meraup keuntungan. Namun demikian, pilihan untuk mendesentralisasi proses penambangan ini membuat kekuatan penambangan dalam sistem menjadi kecil, sehingga dapat dimanfaatkan oleh para peretas yang berkecimpung dalam dunia botnet untuk memperoleh keuntungan dengan mencemari komputer milik orang lain dan menjalankan kegiatan penambangan tanpa sepengetahuan si pemilik komputer.
Pengimplementasian blockchain dalam sistem pemilu bukan perkara mudah. Diperlukan riset yang lebih mendalam untuk mendapatkan sistem yang sempurna dari sisi teknologi, regulasi, dan dapat diaplikasikan dalam kondisi yang tidak ideal seperti yang ada di Indonesia. Bukan sekarang, mungkin nanti di masa mendatang.
Saat ini amat banyak ditemukan klaim para pengembang amatiran yang menyatakan bahwa mereka sedang mengembangkan blockchain baru, barangkali setelah sukses menyelenggarakan ICO. Namun, saya amat yakin bahwa mayoritas di antara mereka ini hanyalah sekedar menyalin dari sistem yang sudah ada dengan penyesuaian sebelumnya. Bikin blockchain itu tentu saja tidak mudah!
Menurut saya, argumen dan persepsi Pak Onno tidaklah keliru. Tetapi persepsi itu hanya tepat bagi para penjahat amatiran saja, yang tidak benar-benar punya kemampuan untuk membangun sebuah protokol untuk menghilangkan jejak hasil kejahatannya
Sebenarnya berita peretasan bukanlah hal yang abnormal di era digital sekarang ini. Namun, hal yang menarik adalah munculnya nama situs nasional di berita kali ini: Bukalapak. Terkait dengan mitigasi risiko peretasan data, dapatkah blockchain memberikan solusi yang tepat?
Mata uang kripto merupakan sesuatu yang amat unik. Ketiadaan bentuk fisik bukan jadi penghalang dalam penciptaan nilai hingga puluhan juta dolar. Barangkali, mata uang kripto jadi tonggak revolusioner berikutnya dalam sejarah inovasi teknologi manusia.
Meskipun saat ini sudah ada peningkatan efisiensi dengan mengembangkan paradigma konsensus baru, tetap saja blockchain plus konsensus menghasilkan sistem yang amat sulit mengungguli kinerja perangkat basis data tradisional. Barangkali, setelah kita pahami bahwa konsensus bisa menjadi “duri dalam daging” sistem blockchain, di masa depan blockchain berbasis otoritas tunggal akan menjadi lebih tenar daripada blockchain berkonsensus.