Penulis Dikirim oleh Dimaz Ankaa Wijaya | Kolomnis

Dimaz Ankaa Wijaya | Kolomnis

Dimaz Ankaa Wijaya | Kolomnis
35 KIRIMAN 0 KOMENTAR
Peneliti di Blockchain Research Joint Lab Universitas Monash, Australia. Pada tahun 2015 dan 2016 ia menulis dua buku "Mengenal Bitcoin dan Cryptocurrency" dan "Bitcoin Tingkat Lanjut".
Teknologi blockhain memang menarik. Tak sekadar dipakai untuk menjalankan mata uang kripto/aset kripto seperti Bitcoin, tetapi diharapkan mampu berkontribusi meningkatkan kapabilitas sistem elektronik di bidang-bidang lainnya.
Serupa dengan bentuk objek bernilai lainnya, Bitcoin memiliki sisi gelap, salah satunya adalah sebagai alat mencuci uang alias (money laundering).
Keunggulan teknologi blockchain kian mengundang perhatian banyak pihak, termasuk JPEG (Joint Photographic Experts Group). Selasa, 21 Januari 2020 lalu saya berkesempatan menghadiri diskusi terbuka yang mereka selenggarakan di Sydney, Australia.
Adopsi massal bitcoin barangkali masih harus menunggu dua-tiga generasi mendatang. Itupun jika bitcoin memang masih mampu bertahan.
PoW amatlah popular seiring makin terkenalnya bitcoin, sementara PoS hadir setelah berbagai kritik dan kecaman dialamatkan kepada para penambang bitcoin yang haus akan energi listrik. Lantas, apakah PoS adalah solusi?
Dalam operasinya, pengelola bursa umumnya menggunakan dua jenis dompet aset kripto untuk masing-masing aset, yakni hot wallet dan cold wallet (meskipun saya tidak meyakini semua bursa melakukan hal yang sama, umumnya mereka selalu memiliki hot wallet).
Penambangan desentralisasi terlihat lebih adil, karena mereka yang bermodal kecil pun masih punya kesempatan untuk meraup keuntungan. Namun demikian, pilihan untuk mendesentralisasi proses penambangan ini membuat kekuatan penambangan dalam sistem menjadi kecil, sehingga dapat dimanfaatkan oleh para peretas yang berkecimpung dalam dunia botnet untuk memperoleh keuntungan dengan mencemari komputer milik orang lain dan menjalankan kegiatan penambangan tanpa sepengetahuan si pemilik komputer.
Pengimplementasian blockchain dalam sistem pemilu bukan perkara mudah. Diperlukan riset yang lebih mendalam untuk mendapatkan sistem yang sempurna dari sisi teknologi, regulasi, dan dapat diaplikasikan dalam kondisi yang tidak ideal seperti yang ada di Indonesia. Bukan sekarang, mungkin nanti di masa mendatang.
Saat ini amat banyak ditemukan klaim para pengembang amatiran yang menyatakan bahwa mereka sedang mengembangkan blockchain baru, barangkali setelah sukses menyelenggarakan ICO. Namun, saya amat yakin bahwa mayoritas di antara mereka ini hanyalah sekedar menyalin dari sistem yang sudah ada dengan penyesuaian sebelumnya. Bikin blockchain itu tentu saja tidak mudah!
Menurut saya, argumen dan persepsi Pak Onno tidaklah keliru. Tetapi persepsi itu hanya tepat bagi para penjahat amatiran saja, yang tidak benar-benar punya kemampuan untuk membangun sebuah protokol untuk menghilangkan jejak hasil kejahatannya