Selasa, 12 November 2019
Penulis Dikirim oleh Peter Dabu

Peter Dabu

Peter Dabu
167 KIRIMAN 0 KOMENTAR
Pernah berkarir di harian ekonomi dan bisnis Kontan (Kelompok Kompas-Gramedia) sejak 2010. Sebelumnya bekerja sebagai jurnalis politik dan hukum.
Harga Bitcoin melonjak pada hari Jumat (25 Oktober 2019) dan terus berlanjut hingga detik ini, beberapa saat setelah Presiden Tiongkok Xi Jinping mengumumkan dukungan kuat terhadap teknologi blockchain (asas dari aset kripto/mata uang kripto/mata uang digital/cryptocurrency Bitcoin). Tapi bagaimana Tiongkok memakai teknologi blockchain saat ini dan apa rencana negara itu bagi masa depan blockchain dan cryptocurrency?
Aset kripto Bitcoin (BTC) terbang lagi hingga Rp35 juta dalam tempo 24 saja. Raja Kripto itu naik dari US$7500 menjadi US$10.000. Terpantau pagi ini, Sabtu (26/10/2019), Bitcoin menukik tipis di US$9.700.
Dalam ranah teknologi blockchain ada yang disebut sebagai "trilema", yakni tiga tantangan dalam hal meningkatkan derajat desentralistik, keamanan dan skalabilitas. Hingga saat ini dua tantangan pertama praktis telah terjawab, namun tidak untuk persoalan skalabilitas, yang utamanya mengacu pada peningkatan kecepatan transaksi per detik. Namun, selayaknya persoalan yang dilematis, skalabilitas yang tinggi tidak boleh mengorbankan karakter desentralistik blockchain.
Dalam 24 jam terakhir Basic Attention Token (BAT), yang merupakan token proyek browser Brave, sempat naik hingga 8 persen di US$0,248, mengalahkan aset kripto lain termasuk Bitcoin (BTC). Kenaikan ini memperkukuh tren naik selama 30 hari terakhir dan sudah melampaui puncak harga US$0,237 pada 15 Oktober 2019 lalu. Sedangkan Bitcoin turun hingga 2 persen ke kisaran US$8.000.
Anda sekarang bisa bertransaksi Bitcoin (BTC) dan Tron TRX) di peramban (browser) Opera, setelah produk asal Oslo itu mengumumkan telah menyematkan dompet dua aset kripto tersebut. Sebelumnya Opera baru mendukung Ether (ETH) saja, termasuk token-token di bawah blockhain Ethereum.
Saat ini ada beragam stablecoin yang beredar. Tether (USDT) misalnya adalah yang paling popular. Namun, karena USDT syarat kontroversi soal ketersediaan uang dolar yang merepesentasikan nilai USDT, ada Paxos Standard (PAX) "yang lebih resmi", karena direstui dan di bawah pengawasan New York Department of Financial Services (NYDFS). Ini adalah badan khusus di negara bagian itu untuk mengurus sektor layanan keuangan. Artikel ini menjabarkan secara umum apa itu PAX dan bagaimana cara menggunakannya.
Pada 8 Oktober 2019 Telegram akhirnya memastikan memang membuat blockchain sendiri bernama TON (Telegram Open Network), dengan aset kripto bernama GRAM. Informasi itu dijabarkan di situs web resmi Telegram di bagian Grams Wallet dalam hal term of services (ToS) untuk layanan Telegram.
Kian bertaji, kini proyek teknologi blockchain Matic Network sudah masuk tahap Beta-Main Net. Tahapan ini adalah tahap sebelum masuk tahapan Full Main Net, ketika jaringan blockchain Matic sudah berjalan penuh dan sejumlah aplikasi dapat berjalan di dalamnya.
Manuel Andersch, Analis Senior di Bank Negara Bavaria, Jerman menyebutkan Bitcoin berpotensi naik menjadi US$90.000 pada tahun 2020.
Para pengguna blockchain tahu benar bahwa mengirimkan uang menggunakan teknologi baru itu jauh lebih cepat dan murah daripada menggunakan layanan bank atau sejumlah layanan tradisional lainnya. Tidak heran IBM, Microsoft, Facebook dan Telegram, serta sejumlah perusahaan besar lainnya berlomba-lomba berinvestasi dan mengembangkan blockchain. Pada akhirnya guncangan (disruption) ke sistem keuangan kita pun semakin terasa. Apa kata David Marcus, Bos Libra, besutan Facebook-Libra Association soal ini?