Franklin Templeton kembali membuat gebrakan. Pada Kamis (18/06/2026), manajer investasi asal AS tersebut mengajukan produk baru bernama Franklin US Equity Bitcoin DRIP Index ETF kepada Securities and Exchange Commission (SEC).
ETF ini hadir dengan konsep yang berbeda dari produk Bitcoin Spot ETF. Alih-alih membagikan dividen dalam bentuk tunai kepada investor, dividen dari saham-saham di dalam portofolio justru akan digunakan untuk membeli Bitcoin secara otomatis.
Mekanisme tersebut membuat investor seolah melakukan strategi dollar cost averaging (DCA) Bitcoin tanpa perlu membeli secara manual. Dengan kata lain, setiap dividen yang dihasilkan berpotensi menjadi tambahan akumulasi BTC secara bertahap.
Bitcoin DRIP Index ETF Ubah Dividen Jadi BTC
Franklin Templeton menjelaskan bahwa ETF ini menggabungkan saham-saham berkapitalisasi besar di Amerika Serikat dengan alokasi Bitcoin dalam satu indeks. Strategi tersebut membuat investor bisa memperoleh eksposur terhadap dua kelas aset sekaligus.
Dalam dokumen pengajuannya, perusahaan menjelaskan bahwa mekanisme utama Bitcoin DRIP Index ETF adalah menggunakan dividen saham untuk menambah kepemilikan Bitcoin secara sistematis.
“Indeks acuan ini mencakup alokasi Bitcoin yang diperoleh melalui reinvestasi dividen dari saham-saham yang ada di dalam indeks tersebut secara sistematis ke Bitcoin,” tulis Franklin Templeton dalam prospektus yang diajukan ke SEC.
Artinya, setiap dividen yang dihasilkan saham-saham dalam portofolio tidak dibagikan kepada investor dalam cash. Dana tersebut justru dialihkan untuk membeli Bitcoin sehingga eksposur aset digital dapat meningkat secara bertahap.
Bagi investor, konsep ini menghadirkan pengalaman investasi yang menarik. Tanpa melakukan pembelian rutin secara manual, kepemilikan BTC bisa terus bertambah seiring distribusi dividen dari perusahaan-perusahaan yang ada di dalam ETF.
Dollar Cost Averaging Crypto: Definisi dan Cara Melakukannya!
Porsi Bitcoin Tetap Dijaga agar Seimbang
Meski memanfaatkan dividen saham untuk membeli BTC, Franklin Templeton menerapkan mekanisme pengendalian risiko agar porsi aset digital dalam portofolio tidak tumbuh terlalu besar.
Pada awal pembentukannya, Bitcoin DRIP Index ETF terdiri dari 95 persen saham Amerika Serikat dan 5 persen Bitcoin. Seiring waktu, alokasi BTC akan dievaluasi dan disesuaikan secara otomatis untuk menjaga keseimbangan portofolio.
“Jika porsi Bitcoin melebihi 5 persen, eksposurnya akan disesuaikan turun menjadi 4,5 persen. Namun, jika alokasinya berada di 5 persen atau di bawahnya, maka komposisi tersebut akan dipertahankan,” tulis Franklin Templeton dalam prospektusnya.
Strategi investasi tersebut dirancang untuk menjaga keseimbangan antara investasi saham dan juga aset kripto, sehingga eksposur Bitcoin tetap terkendali meski nilainya mengalami kenaikan signifikan.
Cara Baru Berinvestasi Bitcoin?
ETF terbaru Franklin Templeton menghadirkan pendekatan baru dalam investasi BTC. Alih-alih membeli Bitcoin secara rutin dengan dana tambahan, produk ini memanfaatkan dividen saham untuk mengakumulasi Bitcoin secara otomatis.
Seluruh dividen yang dihasilkan dari saham dalam portofolio akan digunakan untuk membeli Bitcoin. Dengan demikian, investor dapat menambah kepemilikannya tanpa perlu melakukan pembelian berkala secara manual.
Konsep ini memberikan cara praktis bagi investor untuk berinvestasi di saham-saham Amerika Serikat sekaligus membangun eksposur terhadap BTC secara bertahap, layaknya menerapkan strategi dollar-cost averaging (DCA).
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


