Bahaya! Hacker Korut Punya Modus Baru untuk Membobol Wallet Kripto

Serangan siber yang menargetkan industri kripto kembali berevolusi. Kali ini, kelompok peretas asal Korea Utara, BlueNoroff, dilaporkan menggunakan Zoom dan Microsoft Teams palsu untuk mengidentifikasi wallet kripto bernilai tinggi sebelum melancarkan serangan malware.

BlueNoroff Profilkan Wallet Kripto Sebelum Menyerang

Laporan The Hacker News yang dipublikasikan pada Jumat (24/07/2026) mengungkap bahwa BlueNoroff mengoperasikan phishing kit yang dirancang menyerupai Zoom dan Microsoft Teams. Modus ini menjadi serangan social engineering untuk menyebarkan malware.

Menurut perusahaan keamanan siber JUMPSEC, serangan tersebut tidak lagi dilakukan secara acak. BlueNoroff terlebih dahulu memprofilkan wallet kripto milik korban sebelum memutuskan apakah serangan akan dilanjutkan atau tidak.

“BlueNoroff menjalankan penyalahgunaan kepercayaan sistematis dengan menggabungkan kontak industri yang telah diretas, rekayasa sosial, pengintaian wallet kripto, serta penyebaran malware ke dalam alur akuisisi korban yang dapat diulang,” tulis JUMPSEC.

Oleh karena itu, modus peretasan ini dinilai jauh lebih berbahaya. BlueNoroff tidak lagi menyerang korban secara acak, melainkan hanya memprioritaskan target yang teridentifikasi memiliki aset kripto bernilai tinggi.

BACA JUGA:  Harga XRP Diprediksi Terbang ke US$6, Ini Momentum Penentunya

JUMPSEC menjelaskan bahwa rantai serangan dimulai dari akun Telegram seseorang yang sebelumnya telah diretas. Akun tersebut kemudian digunakan untuk menghubungi rekan kerja atau kontak tepercaya korban, sehingga pesan yang dikirim terlihat meyakinkan.

Korban biasanya menerima tautan Calendly untuk menjadwalkan rapat. Namun, alih-alih mengarah ke Zoom resmi, tautan tersebut justru membawa pengguna ke situs palsu dengan domain yang dibuat sangat mirip melalui teknik typosquatting.

Pertemuan Palsu Berbasis AI Jadi Senjata Baru Hacker

Begitu korban masuk ke halaman palsu, serangan memasuki fase yang lebih canggih. Semua tahapan dirancang agar terlihat seperti rapat daring biasa, sehingga korban tidak menyadari bahwa perangkatnya sedang dipantau.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Setelah bergabung ke rapat, korban hanya melihat layar yang bertuliskan “waiting for other participants“. Momen tersebut dimanfaatkan pelaku untuk melanjutkan serangan tanpa memunculkan kecurigaan dari korban. 

Menurut JUMPSEC, operator mengirim pesan palsu seperti “your mic isn’t working” dan meminta korban memasang Zoom SDK Update. Padahal, pembaruan tersebut merupakan payload ClickFix yang berisi malware. 

BACA JUGA:  Optimisme Clarity Act Mulai Pudar, Polymarket Sisakan Peluang 36 Persen
Payload ClickFix yang Berisi Malware - The Hacker News
Payload ClickFix yang Berisi Malware – The Hacker News

Pada saat yang sama, phishing kit melakukan proses fingerprinting terhadap browser korban. Sistem kemudian mengidentifikasi ekstensi wallet crypto, termasuk MetaMask, untuk memilih target bernilai tinggi. 

Yang membuat serangan ini semakin canggih adalah penggunaan video berbasis AI. Korban melihat wajah hasil OpenAI yang dipadukan dengan gerakan tubuh asli dari rekaman korban sebelumnya.

Malware Bidik Telegram hingga Wallet Kripto di Browser

JUMPSEC menemukan bahwa BlueNoroff telah menyiapkan dua varian phishing, yakni untuk Zoom dan Microsoft Teams. Varian Teams dinilai lebih matang karena memiliki fitur tambahan, termasuk emoji, pemblokiran perangkat seluler, serta pemeriksaan wallet yang mendalam. 

Menurut Sean Moran, Head of Threat Research and Enablement JUMPSEC, kedua platform tersebut dipilih karena lebih umum digunakan oleh perusahaan kripto, investor modal ventura, dan pendiri startup untuk menggelar pertemuan bisnis. 

“Zoom dan Microsoft Teams menjadi platform utama yang digunakan banyak perusahaan kripto, VC, dan para startup di sektor keuangan. Sebaliknya, Google Meet sering dipandang sebagai platform untuk panggilan dengan pelanggan dibandingkan rapat bersama investor atau mitra bisnis,” jelasnya.

BACA JUGA:  Binance Digugat! 1.700 Investor Inggris Seret CZ ke Pengadilan

Serangan ini mendukung sistem operasi Windows dan macOS. Pada Windows, malware akan berusaha menonaktifkan Microsoft Defender, memeriksa sesi Telegram, serta mengidentifikasi ekstensi wallet kripto yang terpasang di berbagai browser populer. 

Sementara pada macOS, korban diarahkan mengunduh installer Zoom atau Teams palsu. Setelah dijalankan, malware mencuri berbagai data sensitif, termasuk metadata sistem dan master key Google Chrome dari iCloud Keychain. 

Temuan ini menunjukkan bahwa ancaman kini tidak lagi hanya menyasar infrastruktur blockchain. Seiring berkembangnya industri Web3, para peretas semakin fokus memburu individu yang memiliki akses terhadap aset digital.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait