Bank of America baru-baru ini mengeluarkan peringatan mengenai kemungkinan crash pada pasar saham hingga 40 persen. Jika itu terjadi, dampaknya bisa sangat besar, terutama bagi aset-aset berisiko tinggi seperti Bitcoin dan altcoin.
Dalam video terbarunya, analis dan investor kripto popular Lark Davis telah membahas lebih dalam mengenai sejarah kehancuran pasar dan kemungkinan pola serupa terjadi kembali di era modern.
Sejarah Berulang: Dari Nifty50 hingga Krisis Dotcom
Untuk memahami kondisi pasar saat ini, kita perlu melihat ke masa lalu. Pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, dunia investasi sangat optimis terhadap saham-saham blue chip, yang dikenal sebagai Nifty50.
Saham-saham seperti Coca-Cola, IBM dan McDonald’s dianggap sebagai investasi jangka panjang yang aman. Namun, ketika sistem Bretton Woods runtuh, ditambah dengan krisis minyak 1973 dan inflasi yang melonjak, pasar mengalami kejatuhan besar. Para investor kehilangan banyak uang dalam waktu singkat.
Situasi serupa terjadi lagi pada akhir 1990-an dengan ledakan dotcom. Saat itu, perusahaan-perusahaan berbasis internet seperti Pets.com menarik perhatian investor. Euforia ini menyebabkan lonjakan nilai saham di pasar Nasdaq, yang akhirnya runtuh dan menghapus sekitar US$5 triliun dari pasar.
Sejarah memang tidak selalu berulang dengan cara yang persis sama, tetapi sering kali memiliki pola yang serupa. Hal ini yang dikhawatirkan oleh Bank of America.
Apakah Kita Sedang Menghadapi Gelembung Baru?
Saat ini, pasar saham AS masih berada dalam kondisi kuat. Indeks S&P 500 hanya turun beberapa persen dari level tertingginya. Meskipun prediksi resesi sering muncul, perekonomian tetap stabil, dan pertumbuhan GDP masih positif.
Namun, yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana kenaikan pesat saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) telah menciptakan euforia baru.
Sama seperti Nifty50 dan saham dotcom, kini para investor menaruh kepercayaan besar pada tujuh perusahaan teknologi raksasa yang dijuluki Magnificent Seven, seperti Microsoft, Nvidia dan Google. Kapitalisasi pasar mereka sudah setara dengan GDP beberapa negara.
Di sisi lain, perusahaan-perusahaan kecil pun berlomba-lomba mencantumkan AI dalam strategi bisnis mereka, meskipun beberapa di antaranya mungkin tidak benar-benar relevan dengan teknologi tersebut.
Risiko Pasar yang Semakin Berat dan Potensi CrashÂ
Bank of America menyoroti satu indikator penting, yakni dominasi beberapa saham besar dalam indeks S&P 500 lebih tinggi dari biasanya, yang menciptakan risiko di bagian atas pasar.
Lima saham terbesar dalam indeks ini kini menyumbang 26,4 persen dari total bobot indeks. Jika saham-saham tersebut anjlok, dampaknya bisa merembet ke seluruh pasar saham, seperti efek domino.
Analis juga memberikan ilustrasi sederhana, bayangkan ada lima rasa es krim yang sangat popular. Semua orang mulai membeli rasa-rasa tersebut hanya karena tren, bukan karena benar-benar menyukainya.
Jika tren tiba-tiba berubah, maka seluruh pasar es krim bisa anjlok. Begitu pula dengan pasar saham, jika minat terhadap saham teknologi merosot, kejatuhan besar bisa terjadi.
Bagaimana Dampaknya ke Kripto?
Menurut Lark Davis, pasar kripto sangat terkait dengan pergerakan saham, terutama saham teknologi. Jika pasar saham mengalami koreksi besar, maka kripto kemungkinan besar akan mengikuti.
Selama periode ketidakpastian ekonomi, investor cenderung menarik dananya dari aset berisiko tinggi seperti kripto dan beralih ke aset yang lebih stabil seperti emas atau obligasi.
Bahkan triliuner dan manajer hedge fund Steve Cohen turut menyuarakan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi AS.
“Kebijakan tarif, regulasi ketat terhadap imigrasi dan pengurangan belanja pemerintah dapat memperlambat ekonomi di paruh kedua tahun ini,” ungkap Cohen.
Jika prediksi Cohen ini terbukti benar, maka tekanan terhadap aset berisiko seperti kripto bisa semakin besar.
Strategi Menghadapi Kemungkinan Crash PasarÂ
Dalam menghadapi skenario ini, Davis menekankan pentingnya strategi investasi yang tepat. Ia menyarankan agar investor tidak hanya mengandalkan euforia pasar, tetapi juga siap menghadapi potensi penurunan dengan memiliki cadangan dana tunai.
Beberapa aset, terutama altcoin berkapitalisasi kecil, mungkin tidak akan pernah pulih jika terjadi kejatuhan pasar besar.
Namun, bukan berarti semua kripto akan runtuh. Bitcoin, sebagai aset kripto utama, masih dianggap sebagai investasi jangka panjang yang kuat.
Menurut Davis, dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, harga Bitcoin saat ini bisa menjadi harga yang sangat murah dibandingkan dengan masa depan. Namun, investor perlu tetap waspada terhadap volatilitas jangka pendek.
Seperti yang dikatakan oleh investor legendaris Sir John Templeton, “untuk mereka yang benar-benar siap, pasar bearish bukan hanya sebuah bencana, tetapi juga sebuah kesempatan.”
Oleh karena itu, bagi investor kripto dan saham, sekarang adalah waktu yang tepat untuk meninjau kembali strategi investasi mereka sebelum badai benar-benar datang. [st]