Bank Sentral Wajib Simak Prinsip Dasar Mata Uang Digital Ini

Bank sentral di seluruh dunia kiranya diwajibkan menyimak prinsip dasar penerbitan mata uang digital yang diterbitkan oleh Bank for International Settlements (BIS) ini. Ini adalah pandangan terbaru sejak tahun 2018, oleh 7 bank sentral ternama, kecuali Indonesia.

Prinsip itu tertuang dalam satu laporan khusus bertajuk “Central bank digital currencies: foundational principles and core features” itu disusun oleh Bank Sentral Kanada, Inggris, Jepang, Bank Sentral Eropa, Bank Sentral AS (The Fed), Sveriges Riksbank, Bank Sentral Swiss dan BIS, sebagai induk bank sentral.

Laporan itu menyoroti tiga prinsip utama Mata Uang Digital Bank Sentral (Central Bank Digital Currency/CBDC), yakni:

Pertama, Hadir dan ada bersamaam dengan uang tunai (fisik) dan jenis uang lainnya dalam sistem pembayaran yang fleksibel dan inovatif.

Kedua, Dalam hal sosialisasi dalam bentuk apapun, harus mendukung tujuan kebijakan yang lebih luas dan tidak membahayakan stabilitas moneter dan keuangan.

Ketiga, Fitur-fitur harus mendorong inovasi dan efisiensi.

“Laporan ini merupakan langkah maju yang nyata bagi bank sentral dalam menyetujui prinsip-prinsip umum dan mengidentifikasi fitur-fitur utama yang kami yakini akan diperlukan untuk sistem CBDC yang dapat diterapkan,” kata Sir Jon Cunliffe Deputi Bank Sentral Inggris dalam keterangan resmi di situs BIS, 9 Oktober 2020.

Berkat laporan itu, menurut Cunliffe tujuh bank sentral itu dalam satu kelompok, selain membantu bank sentral untuk memenuhi tujuan kebijakan publik mereka, juga memberikan kerangka kerja yang berguna tentang bagaimana bank sentral menyediakan uang dan mendukung sistem pembayaran di dunia digital yang terus berkembang.

“Kelompok bank sentral itu telah membangun konsensus internasional yang kuat yang akan membantu memuluskan rancangan terbaik CBDC di masing-masing negara,” sebutnya.

CBDC kian menyita perhatian publik setidaknya sejak tahun 2014. Ketika itu Bank Sentral Tiongkok dalam kesenyapannya meneliti dan mengembangkan yuan digital.

Sejak medio tahun 2020 mereka pun gencar menggelar uji coba, setelah pada akhir 2019 Presiden Xi Jinping memproklamirkan mendukung teknologi blockchain untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi mereka.

Pada tahun 2018 BIS pun menerbitkan kajian khusus soal potensi dan tantangan penerbitan CBDC, termasuk di tahun yang sama oleh IMF.

Direktur Pelaksana IMF: Bank Sentral Disarankan Membuat Mata Uang Digital

Diperkirakan, pada tahun 2021 akan lebih banyak lagi pengayaan dan ujicoba CBDC oleh sejumlah bank sentral, mengingat konsepnya kian matang.

CBDC berkat teknologi blockchain atau bermodel hybrid menjanjikan efisiensi waktu dan biaya transfer. Cakupannya pun bisa lebih luas dan memungkinkan mengeluarkan kebijakan moneter yang lebih akurat. [red]

Terkini

Warta Korporat

Terkait