Bank Tradisional Mulai Beralih? Lloyds Uji Stablecoin untuk Transaksi Global

Stablecoin perlahan tidak lagi hanya hidup di pasar kripto. Hal ini terlihat dari langkah salah satu bank besar di Inggris yang mulai membawanya langsung ke jalur settlement perbankan melalui uji coba nyata bersama Visa.

Lloyds dan Visa Uji Settlement Stablecoin

Uji coba yang diumumkan Rabu (30/09/2026) itu menjadi eksperimen settlement stablecoin pertama antara Visa dan kelompok perbankan besar Inggris, sekaligus membawa konsep pembayaran 24/7 ke tahap pengujian nyata.

Fokusnya bukan pada transaksi konsumen di kasir, melainkan proses di belakang layar ketika institusi keuangan saling memindahkan dana untuk menyelesaikan dan mencocokkan kewajiban pembayaran.

Dalam uji coba tersebut, Lloyds membeli stablecoin USDC melalui Archax, bursa aset digital teregulasi di Inggris. Nilai settlement kemudian dibukukan melalui cabang Corporate Markets Lloyds di Jersey.

Dari sana, dana diteruskan ke Visa di Amerika Serikat. Hasilnya cukup menarik, karena proses transfer dapat selesai dalam waktu kurang dari satu jam, termasuk ketika dilakukan pada akhir pekan.

SWIFT Hadirkan Blockchain untuk Pembayaran Global, Gandeng 17 Bank Besar

Sebagai perbandingan, proses settlement lintas negara melalui sistem tradisional dapat memakan waktu sehari atau lebih jika transaksi dilakukan di luar jam operasional bank, terutama saat akhir pekan atau hari libur.

BACA JUGA:  Prediksi Harga Kripto Ethena Usai Digandeng Binance

Bank Tidak Lagi Harus Menunggu Jam Operasional

Bagi Lloyds, keuntungan stablecoin bukan sekadar soal kecepatan. Penyelesaian transaksi yang dapat berjalan sepanjang waktu juga memberi kepastian lebih besar mengenai kapan dana tiba dan berapa lama likuiditas tertahan.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Peter Left, Kepala Aset Digital Lloyds Banking Group, mengatakan stablecoin dapat bernilai besar untuk transaksi lintas negara karena proses tersebut masih melibatkan banyak pasar, mata uang, serta infrastruktur berbeda.

“Settlement kewajiban pembayaran langsung senilai US$750.000 antara Lloyds dan Visa menggunakan stablecoin memungkinkan kami bergerak melampaui teori dan menguji kemampuan ini dalam kondisi dunia nyata,” ujarnya.

Menurut Left, uang digital dapat membuat pembayaran internasional menjadi lebih cepat, transparan dan fleksibel. Visibilitas pergerakan dana yang lebih baik juga dinilai dapat mengubah cara perusahaan mengelola likuiditas.

BACA JUGA:  Bandung Bangun Ekosistem Blockchain, Angkot Jadi Pintu Masuknya

Namun, eksperimen ini tidak berhenti pada soal kecepatan. Lloyds menjalankan node miliknya sendiri di Canton Network, sementara Visa mendukung settlement melalui blockchain publik berbeda dalam pengujian tersebut.

Skema tersebut menunjukkan bagaimana settlement stablecoin dapat berjalan melintasi lingkungan blockchain privat dan publik, sebuah kemampuan yang semakin relevan ketika likuiditas institusional tersebar di berbagai jaringan.

Eksperimen Stablecoin Bank Makin Serius

Rob Cameron, Kepala Visa untuk Inggris dan Irlandia, menilai infrastruktur pembayaran belum selalu memiliki fleksibilitas yang sama dengan bisnis yang kini beroperasi lintas negara sepanjang waktu.

“Pilot bersama Lloyds ini menunjukkan stablecoin dapat bekerja berdampingan dengan infrastruktur perbankan yang ada, memberi institusi lebih banyak pilihan tentang bagaimana dan kapan mereka melakukan settlement,” ujar Cameron.

Visa, lanjut Cameron, ingin membuat bentuk uang baru tersebut lebih praktis, interoperabel dan tepercaya dalam skala besar, bukan sekadar menjadi teknologi yang berhenti pada tahap eksperimen.

BACA JUGA:  Stablecoin Masuk Infrastruktur Bantuan PBB, WFP Siapkan Uji Coba Tiga Tahun

Langkah Lloyds juga bukan eksperimen yang berdiri sendiri. Pada Juni, Visa dan Brale telah menguji stablecoin privat SBC untuk settlement institusional melalui Canton Network yang sama.

17 Bank Uji Deposit Tokenisasi di Blockchain Swift, Era Baru Dimulai?

Beberapa hari sebelumnya, 17 bank juga dilaporkan menguji tokenized deposit melalui shared ledger Swift, memperlihatkan bagaimana blockchain semakin dekat dengan jalur operasional keuangan tradisional.

Dengan pola tersebut, stablecoin perlahan bergeser dari sekadar aset bagi trader menjadi bagian dari eksperimen infrastruktur finansial. Kini pertanyaannya bukan apakah bank tertarik, melainkan seberapa cepat penerapannya akan meluas.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait