Begini Nasib ABG 20 Tahun Pencuri Kripto Rp5 Triliun

Pada 2024, dunia kripto diguncang aksi Malone Lam, pemuda 20 tahun yang terlibat pencurian kripto bernilai triliunan rupiah. Sejak penangkapannya oleh FBI, kasus ini terus berkembang dengan terungkapnya jaringan pelaku, penambahan tersangka, serta proses hukum yang masih berjalan.

Kronologi Awal Kasus Malone Lam

Kasus ini pertama kali terungkap pada September 2024, ketika FBI menangkap dua pemuda, Malone Lam (20) dan Jeandiel Serrano (21). Keduanya didakwa di pengadilan distrik Amerika Serikat di Florida dan California atas konspirasi pencurian serta pencucian uang berbasis kripto.

Dikutip dari laporan sebelumnya, otoritas AS menyebut Lam dan Serrano mencuri lebih dari 4.100 Bitcoin dari seorang korban di Washington, D.C. Aksi tersebut terjadi pada 18 Agustus 2024, dengan kripto yang dicuri saat itu diperkirakan mencapai US$230 juta.

“Dakwaan ini menuduh Malone Lam dan Jeandiel Serrano bersekongkol mencuri dan mencuci lebih dari US$230 juta dalam bentuk cryptocurrency,” tulis pihak berwenang AS dalam pernyataan resminya, Kamis (19/9/2024).

IKLAN
Chat via WhatsApp

DPO Kripto Scam Ditangkap FBI, Kerugian Capai US$230 Juta

Namun, konteks nilai tersebut penting dipahami. Angka US$230 juta merupakan valuasi saat kejadian. Dengan kenaikan harga Bitcoin sepanjang 2025, nilai 4.100 BTC yang sama kini melonjak tajam dan jika dikonversi ke rupiah mendekati Rp5,5 triliun.

BACA JUGA:  12 Polisi Malaysia Ditangkap Usai Peras Kripto Senilai Rp841,5 Juta

Modus Rekayasa Sosial dan Jejak Digital Pelaku

Dalam menjalankan aksinya, Malone Lam dan kelompoknya mengandalkan metode rekayasa sosial dengan menyamar sebagai staf Google atau crypto exchange. Mereka menggunakan nomor telepon palsu dan pendekatan persuasif untuk membangun kepercayaan korban.

Melalui cara tersebut, para pelaku berhasil memperoleh akses sensitif, mulai dari kata sandi hingga private key dan seed phrase, yang kemudian digunakan untuk mengambil alih akun serta menguras aset kripto milik korban.

Target utama mereka adalah individu dengan kepemilikan aset kripto besar. Setelah berhasil menguasai akun korban, aset digital tersebut segera dipindahkan dan dipecah ke berbagai dompet serta jaringan blockchain untuk meminimalkan risiko pelacakan.

Dana hasil pencurian kemudian dialirkan melalui lebih dari 15 bursa kripto berbeda. Proses ini melibatkan crypto mixing, mulai dari Bitcoin hingga altcoin dan koin privasi, guna mengaburkan asal-usul dana dan memperumit jejak transaksi.

Setelah melalui pencucian, kripto tersebut dicairkan melalui bursa luar negeri dan pengiriman uang tunai dalam jumlah besar. Otoritas AS, termasuk FBI dan IRS, bekerja sama dengan mitra internasional untuk menelusuri aliran dana, dengan sebagian aset berhasil dibekukan.

Mengapa Pelaku Pencurian Kripto Berlindung Lewat Layanan Bitcoin Mixing?

Mengenal Sosok Malone Lam

Malone Lam bernama lengkap Malone Lam Yu Xuan, warga negara Singapura yang lahir pada 19 Juli 2004. Ia sempat bersekolah di Unity Secondary School, Choa Chu Kang, pada 2017, namun keluar sebelum menuntaskan pendidikan menengah.

BACA JUGA:  Penculik Anak Bos Crypto Scam Ukraina di Bali Akhirnya Ditangkap

Setelah meninggalkan sekolah, Lam aktif di komunitas game online dan mulai mendalami perdagangan aset kripto. Aktivitas inilah yang kemudian membawanya membangun jejaring dengan anak muda lain yang memiliki minat serupa.

Pada 2023, Lam pindah ke Amerika Serikat dan membentuk kelompok yang beranggotakan sekitar 14 pemuda berusia 18–22 tahun. Kelompok tersebut dikenal dengan nama Social Engineering Enterprise (SE Enterprise), dengan Lam berperan sebagai pemimpin.

Jaringan ini menargetkan individu dengan kepemilikan kripto besar melalui social engineering. Hasil kejahatan digunakan untuk membiayai gaya hidup mewah, termasuk pembelian mobil sport hingga perhiasan mahal sebelum akhirnya jaringan tersebut dibongkar FBI.

Bagaimana Nasib Malone Lam Sekarang?

Mengutip laporan CNA yang dipublikasikan pada Kamis (18/12/2025), hingga saat ini total 17 orang telah didakwa dalam kasus pencurian kripto ini. Tiga tersangka tambahan, yakni Nicholas Dellecave, Mustafa Ibrahim, dan Danish Zulfiqar, ditangkap di Miami dan Dubai.

BACA JUGA:  Cardano Kini Bisa Dipakai Belanja di Toko Ritel di Swiss

Sejauh ini, sembilan konspirator telah mengaku bersalah dan berpotensi menjadi saksi kunci dalam persidangan yang melibatkan Malone Lam. Pengakuan tersebut memperkuat posisi jaksa dalam mengungkap peran Lam sebagai pemimpin jaringan.

Salah satu terdakwa, Evan Tangeman, mengakui telah membantu mencuci dana sedikitnya sebesar US$3,5 juta. Persidangan lanjutan dijadwalkan berlangsung pada 12 Januari 2026, sementara Lam masih menunggu proses hukum berikutnya di Amerika Serikat.

Pembobolan Layanan Terkait BI Fast Memanas, Rp200 Miliar Dicuci Lewat Kripto

Lam didakwa dengan sejumlah pasal berat, termasuk konspirasi RICO, penipuan kawat, dan pencucian uang. Jika terbukti bersalah, ia terancam hukuman penjara jangka panjang, denda jutaan dolar, penyitaan aset, serta kemungkinan deportasi ke Singapura.

Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa di balik potensi besar dunia kripto, kejahatan siber juga berkembang semakin kompleks. Kewaspadaan, literasi keamanan, dan perlindungan aset digital kini menjadi kebutuhan mutlak, bukan sekadar pilihan.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait